Olahraga

Kate O’Connor Borong Emas Heptathlon di Birmingham dan Terinspirasi Kenangan Neneknya

×

Kate O’Connor Borong Emas Heptathlon di Birmingham dan Terinspirasi Kenangan Neneknya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: European Athletics Championships: O'Connor secures European gold in heptathlon

jurnalistik.co.id – Kate O’Connor meraih medali emas heptathlon pada Kejuaraan Eropa di Birmingham. Kemenangan itu sekaligus menjadi momen emosional baginya, karena ia mengenang sang nenek yang, menurutnya, “would have been jumping for joy”.

Atlet Irlandia kelahiran Newry, berusia 25 tahun, memasuki nomor terakhir, 800 meter, dengan keunggulan 51 poin atas pesaing terdekatnya, Emma Oosterwegel dari Belanda. Di saat penentuan, O’Connor hanya perlu finis dalam selisih 3,4 detik dari Oosterwegel untuk mengunci juara keseluruhan.

Nyatanya, kebutuhan itu ia penuhi. Oosterwegel memenangkan lomba 800 meter dengan catatan 2:10.87, sementara O’Connor—berada di posisi ketiga di belakang Sveva Gerevini dari Italia—mencatat 2:11.74.

Hasil akhir tersebut membuat O’Connor keluar sebagai yang teratas dengan total 6.751 poin, sekaligus menjadi rekor nasional. Oosterwegel meraih perak dengan 6.713 poin, sedangkan Sofie Dokter dari Belanda memastikan perunggu lewat total 6.664 poin.

Kesuksesan ini melanjutkan capaian O’Connor di ajang internasional sebelumnya. Ia pernah memenangkan emas di Commonwealth Games untuk Northern Ireland pada bulan Juli, serta meraih perak pada Kejuaraan Dunia tahun lalu.

Dalam pernyataannya, O’Connor menyinggung perjalanan panjang menuju hasil tersebut. Ia mengatakan, “A couple of years ago, I probably wouldn’t have thought this would happen to me,” dan menambahkan bahwa beberapa tahun terakhir terasa seperti rangkaian tekanan yang terus bertambah seiring kompetisi demi kompetisi.

Ia juga menekankan bahwa tantangan tidak datang hanya dari aspek olahraga. Tahun ini, menurutnya, terasa berat dari sisi luar, karena neneknya meninggal lebih awal pada tahun tersebut dan momen itu “hit home for him” bagi ayahnya.

O’Connor kemudian menyampaikan bagaimana ia melihat dukungan di sekitar latihan. Ia menuturkan, “I don’t think I give my dad enough credit, but it hit home for him and the way he turned up to training day-in and day-out…”.

Bagi O’Connor, medali ini tidak hanya miliknya. Ia menjelaskan, “This is my dream, but it’s his dream too and I have to dedicate this medal to my granny because she was both of our biggest fans and would have been jumping for joy if she was here.”

Di nomor yang menentukan, O’Connor juga mengakui tekanan yang ia rasakan. Ia menyebut 800 meter sebagai pengalaman paling menegangkan: “That was the most nerve-racking 800 of my life”.

Ia menambahkan bahwa ia harus menjalankan tugas yang sudah disiapkan. “I had a job to do and I know I’ve had quite a few jobs to do over these last few days – some I’ve executed and some I haven’t,” ujarnya.

Rasa gugup sebelum start ternyata berakhir menjadi dorongan saat dukungan datang. “I was so nervous before that run, but when I hear cheers like that for me [from the Irish support] going around those two laps, there was no way I was going to let that gold medal slip through my fingers.”

Dalam bagian akhir lomba, ia juga menggambarkan cara pandangnya terhadap target waktu. “I did want to win the race, but with 50 metres to go I knew I had enough in me to stay within the three seconds and I just wanted to leave here injury-free and with a gold medal around my neck.”

Untuk mencapai situasi tersebut, O’Connor memulai hari kedua dari posisi yang tidak sepenuhnya dominan. Ia berada di peringkat ketiga setelah empat nomor pertama, tertinggal 42 poin dari pemuncak semalam, Adrianna Sulek-Schubert.

Pada hari Jumat, O’Connor mencatat performa yang membuatnya bergerak cepat. Ia mencatat personal best pada nomor 100 meter gawang dengan 13.30 detik dan pada 200 meter dengan 23.79 detik.

Ia juga menyamai rekor terbaiknya pada lompat tinggi dengan tinggi 1,86 meter, serta melempar tolak peluru sejauh 13,96 meter. Pada sesi Sabtu pagi, ia melanjutkan bentuk terbaiknya di nomor lompat jauh dan lempar lembing.

Di lompat jauh, ia melompat 6,55 meter, sedangkan pada lempar lembing ia melempar sejauh 50,16 meter. Dengan rangkaian itu, totalnya mencapai 5.812 poin.

Keunggulan angka kemudian semakin jelas saat dibandingkan dengan pesaingnya. Nilai tersebut hanya terpaut 51 poin dari Oosterwegel, yang telah naik ke posisi kedua, sementara Dokter berada di urutan ketiga. Sulek-Schubert dari Polandia justru turun ke peringkat ketujuh setelah awal hari yang dinilai kurang baik.

Menjelang 800 meter di Sabtu malam, seluruh hasil bergantung pada satu nomor tersebut. O’Connor sempat mengambil posisi terdepan lebih awal, sebelum Oosterwegel mengubah ritme dan mengambil inisiatif.

Namun, O’Connor tetap bertahan di belakang ketatnya. Gerevini kemudian mencoba melakukan dorongan sebelum akhirnya Oosterwegel melintas lebih dahulu untuk memenangkan lomba, sementara O’Connor tetap berada dalam jarak waktu yang cukup untuk mempertahankan peluang meraih emas.

Di sisi lain, kompetisi heptathlon juga diwarnai penampilan yang tidak berjalan mulus untuk beberapa atlet besar. Katarina Johnson-Thompson dari Inggris finis terakhir pada heat awal nomor 800 meter dan berakhir 21 secara keseluruhan.

Atlet berusia 33 tahun itu datang dengan kondisi yang tidak dalam ritme terbaik. Ia hanya bertanding sekali pada nomor lempar tolak peluru di Loughborough pada bulan Mei, sejak meraih perunggu pada Kejuaraan Dunia tahun lalu di Tokyo.

Johnson-Thompson menyampaikan bahwa hasilnya jauh dari performa terbaik. Ia mengatakan, “It is obviously far from my best,” lalu menambahkan, “Not the competition I would have wanted, but in a way it is. I finished.”

Ia juga menekankan pentingnya menyelesaikan perlombaan. “As a heptathlete it is not easy to come into a competition not in shape. You can’t get knocked out in a heat and go home. It was important to me that I finished. I wanted to do it for them [coaching team and physiotherapist] as we worked so hard to be here.”

Johnson-Thompson kemudian berbicara soal pengalaman kompetisi di stadion. “I have been coming here since English schools. I have been coming here a long time and I have been an athlete for a long time. It has been great to experience the stadium.”

Rekan setimnya, Jade O’Dowda, menyelesaikan nomor itu di posisi ke-13 dengan total 6.191 poin. Ia mengantongi hasil lima besar pada heat pertama 800 meter sebelum akhirnya menutup kompetisi dengan posisi tersebut.