Olahraga

Bournemouth bangkit dari -17 poin pada 2008 menuju debut Eropa yang “impian” bersama Adam Smith dan Cherries

×

Bournemouth bangkit dari -17 poin pada 2008 menuju debut Eropa yang “impian” bersama Adam Smith dan Cherries

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bournemouth: From -17 to dream European start for Adam Smith and Cherries

jurnalistik.co.id – Kebangkitan Bournemouth dari keterpurukan -17 poin pada musim 2008 kini menuntun mereka ke panggung Eropa, dengan penampilan yang terasa lebih dari sekadar “permulaan”. Di laga perdana kompetisi Eropa, tim berjuluk Cherries mengawali perjalanan dengan kemenangan 2-1 atas Real Sociedad.

Di Anoeta Stadium, suasana di tribun tandang pun menampilkan pesan yang merangkum perjalanan itu: “From -17 to Europe”. Makna kalimat tersebut tidak hanya soal hasil, tetapi juga jarak yang harus ditempuh klub untuk kembali merasakan sepak bola level benua—sesuatu yang, bagi banyak penggemar saat ini, mungkin sudah dianggap wajar.

Manajer Marco Rose menyebut kemenangan itu sebagai tonggak awal yang penting. “It’s a brilliant win in our first European game. It’s brilliant for the club and the 2,000 fans from Bournemouth,” ujarnya kepada TNT Sports.

Namun bagi sebagian besar suporter yang merayakan kemenangan tersebut pada Kamis, momen ini tetap terasa seperti kejutan. Sebab, tidak lama waktu yang “masuk akal” untuk menyebut Bournemouth stabil di kasta tertinggi—mengingat perjalanan mereka melewati periode yang sempat mengguncang fondasi klub.

Hanya 18 tahun lalu, Bournemouth berada di ambang jurang. Pemotongan 10 poin akibat masuk administrasi berujung pada degradasi ke League Two. Untuk bisa tetap berada di Football League pada musim 2008-09, klub harus menerima pengurangan 17 poin dan menyepakati tidak mengajukan banding setelah aturan menyatakan bahwa mereka tidak memenuhi syarat keluar dari administrasi karena belum tercapai Company Voluntary Arrangement.

Dalam konteks itulah, gagasan tentang pemain dengan nilai mencapai £100m yang kemudian “menemukan” rekan setim untuk memastikan kemenangan di Eropa seperti angan-angan semata. Kini, kenyataannya berbeda: Alex Scott tampil lincah di San Sebastián, sementara Rayan menjadi contoh mengapa Cherries diyakini akan menuntut setiap sen dari klausul pelepasan yang dilaporkan sebesar £130m agar pemain tersebut bisa pergi.

Pengamatan dari laga menghadirkan gambaran yang lebih spesifik. Bournemouth tidak hanya menang, tetapi juga menunjukkan kualitas performa tandang Eropa yang layak dibandingkan lawan dengan reputasi besar. Real Sociedad datang dengan komposisi yang dipimpin Mikel Oyarzabal, yang pernah menjadi pemenang Piala Dunia dan musim lalu ikut membawa Sociedad menjuarai Copa del Rey setelah mengalahkan Atletico Madrid.

Bournemouth tampil dominan selama 45 menit pertama. Mereka menekan lawan dengan kegigihan tanpa henti saat penguasaan bola masih bisa direbut kembali lebih tinggi di lapangan, berkali-kali memaksa Sociedad kehilangan ritme. Dari segi kualitas bola, tim juga mampu menciptakan peluang bahkan ketika pertahanan Real Sociedad sudah siap dengan skema yang rapat.

Meski demikian, ada sisi lain yang sulit diabaikan dari klub asal Basque. Setelah jeda, Sociedad keluar dengan determinasi yang jelas—dan itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Lonjakan energi di babak pertama milik Rose justru terlihat seperti “menguap” di fase kedua, tetapi keinginan Bournemouth untuk terus bertanding tidak pernah benar-benar padam.

Menariknya, Bournemouth bukan tim yang dikenal memiliki ketahanan defensif sebagai ciri utama. Karena itu, saat Sociedad meningkatkan tekanan menjelang akhir pertandingan, pikiran tentang peluang yang terlepas bisa saja muncul—terutama setelah di empat laga Premier League awal musim mereka sempat kehilangan keunggulan. Tetapi pada malam Eropa itu, mereka mampu bertahan, dibantu ketenangan refleks Djordje Petrovic di bawah mistar.

Marco Rose menilai jalannya pertandingan berjalan dalam dua ritme yang berbeda. “It was very intense and tough,” katanya. “Brilliant first half in everything. The way we won balls and the possession high up. In the second half, we needed to suffer because we were not so sharp.”

Di sisi lain, Charlie Daniels—mantan bek Cherries—menyampaikan penilaian yang sejalan dengan momen bersejarah itu. “It is a big occasion. A big moment for the club, and they should be applauded for it.”

Keberhasilan Bournemouth dalam debut Eropa juga tidak lepas dari jalur panjang yang sudah dibangun sebelum mereka tiba di titik sekarang. Arah kebangkitan mereka banyak ditarik ke keputusan Eddie Howe pada Januari 2009. Mantan pelatih itu menuntun Bournemouth bertahan saat misi utamanya bukan sekadar bermain bagus, tetapi bertahan dari ancaman degradasi. Meski memiliki pengurangan 17 poin, Bournemouth menyelesaikan kompetisi dengan sembilan poin di atas zona degradasi.

Kurang dari enam setengah tahun kemudian, Howe—kembali untuk masa keduanya—membawa Bournemouth yang sudah “berubah wujud” ke Premier League. Karena itu, tidak mengherankan jika malam pencapaian terbaru ini berlabuh pada sosok yang pernah terlibat sejak fase awal “Howe era” pertama.

Adam Smith memimpin tim saat Bournemouth melangkah di panggung Eropa. Smith bergabung dengan Bournemouth dengan status pinjaman pada musim 2010-11, kembali secara permanen pada 2014, dan sejak saat itu bertahan di klub. Daniels menggambarkan betapa panjang perjalanan itu: “Adam has been with the club for so long,” katanya. “Dedicated himself to the club, and it’s such a proud moment, not only for him, but for his family, his team-mates and old team-mates to see how he’s grown – not only as a player but as a man as well.”

Daniels menambahkan, “To lead out the Cherries on this historical night is fantastic.” Pernyataan itu terasa menempel pada fakta, sebab Smith juga mencatat rekor pribadi.

Smith menjadi pemain sayap/infield Inggris tertua berusia 35 tahun dan 141 hari yang melakukan debut sebagai pemain lapangan (outfielder) di kompetisi Eropa utama sejak Reginald Pickett bersama Ipswich pada 1962. Untuk seorang kapten, catatan seperti ini biasanya tidak datang dari satu pertandingan saja, melainkan dari konsistensi dan keberanian bertahan dalam proses panjang yang tidak selalu mudah.

Perjalanan Bournemouth pun tidak steril dari tantangan. Degradasi pada 2020 mengingatkan bahwa berada di papan atas tidak otomatis berarti aman. Setelah kembali ke Liga Utama, klub terus menghadapi dinamika yang lazim di era modern: harus bersiap menghadapi perebutan pemain oleh klub-klub elite Eropa, yang memaksa Cherries menjalankan proses penggantian secara berkala.

Bahkan pada musim ini, tidak semua hal bisa dipertahankan. Kualifikasi ke Eropa tidak cukup untuk menahan pelatih Andoni Iraola. Iraola kembali ke Vitality Stadium pada hari Minggu bersama klub barunya, Liverpool.

Pola seperti itu kemungkinan tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Namun malam di San Sebastián memberi sinyal yang berbeda: meski perubahan personel terus menjadi bagian dari realitas Bournemouth, mereka kini punya bukti bahwa “hari-hari sulit” tidak menghapus potensi untuk tumbuh menjadi klub dengan ambisi Eropa.

Untuk para pendukung Cherries, kemenangan di debut Eropa menjadi pembuktian bahwa itu semua adalah “masa yang baik”—masa ketika mereka tidak lagi sekadar berharap, tetapi sudah merasakannya langsung di lapangan.