Politik & Parlemen

Parlemen Inggris kaji pilihan lagu Eurovision yang dikritik ‘dismal’

×

Parlemen Inggris kaji pilihan lagu Eurovision yang dikritik ‘dismal’

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: UK's 'dismal' Eurovision song choices to be examined by MPs

jurnalistik.co.id – Inggris akan meninjau secara serius cara pemilihan lagu dan peserta yang mewakili negara itu di Eurovision, setelah hasil-hasil terkini dinilai sangat mengecewakan.

Pengawasan tersebut akan dilakukan anggota parlemen (MPs) melalui komite lintas partai, menyusul rangkaian penampilan yang berujung posisi terbawah pada beberapa edisi terakhir.

Pada final Eurovision di bulan Mei, Look Mum No Computer menempati peringkat terakhir dengan hanya memperoleh satu poin lewat lagu “Eins, Zwei, Drei”.

Situasi serupa juga pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Pada 2023, Mae Muller finis dari posisi kedua terbawah, sedangkan pada 2021 James Newman berada di urutan terakhir dengan “nul points” melalui lagu “Embers”.

Pemilihan perwakilan Inggris sendiri tidak dilakukan dengan pola yang benar-benar seragam. Dalam banyak kesempatan, BBC memilih peserta, dan keterlibatan label rekaman atau manajemen musik dapat ikut mewarnai proses tersebut.

Ketua Komite Digital, Kebudayaan, Media, dan Olahraga, Dame Caroline Dinenage, menyatakan bahwa komite ingin memahami akar persoalannya secara mendalam.

Dame Caroline Dinenage mengatakan, “We want to get to the bottom of who chooses our entrant, on what basis and whether our dismal record of achievement in recent years [Sam Ryder to one side] is the result of bad song choice, weak performance… or something else”.

Menurut rencana, pihak-pihak terkait akan dipanggil untuk memberikan keterangan selama sebuah sidang yang diperkirakan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Diharapkan, termasuk di dalamnya perwakilan BBC serta pakar dari industri musik.

Komite juga kemungkinan akan menerima masukan tertulis dari pihak-pihak yang relevan, guna melengkapi bukti yang muncul di persidangan.

Dengan demikian, fokus investigasi tidak berhenti pada hasil akhir di panggung Eurovision, melainkan merambah ke proses yang mendahuluinya: siapa yang menentukan keputusan, dasar apa yang dipakai, serta apakah kegagalan beruntun lebih berkaitan dengan pilihan lagu, kualitas penampilan, atau faktor lain.

Kesuksesan Inggris di Eurovision jarang berulang

Gambaran umum yang menekan komite adalah minimnya konsistensi Inggris dalam meraih capaian tinggi di kompetisi tersebut.

Dalam rentang sekitar 15 tahun terakhir, Inggris hanya sekali berhasil melampaui posisi ke-15, yaitu saat Sam Ryder meraih peringkat kedua pada Eurovision 2022 dengan lagu “Space Man”.

Peringkat tersebut kemudian tetap kalah oleh Kalush Orchestra dari Ukraina, yang menjadi pemenang pada edisi itu.

Melihat agenda berikutnya, penyelenggaraan Eurovision tahun depan akan berlangsung di Burgas, Bulgaria.

Ajang tersebut sekaligus menandai 30 tahun sejak terakhir kalinya Inggris memenangkan kompetisi, ketika Katrina and the Waves mengoleksi 227 poin dengan lagu “Love Shine A Light” pada tahun 1997.

Sejumlah negara lain diketahui menempuh proses seleksi lewat ajang televisi yang dapat disaksikan publik. Namun, Inggris pernah menggunakan pola serupa dalam beberapa kesempatan, sebelum akhirnya pola pemilihan mengalami perubahan.

Pada edisi 2019, misalnya, pilihan peserta dilakukan melalui program “Eurovision: You Decide”. Michael Rice kemudian terpilih, tetapi tetap harus berakhir di posisi terakhir pada kompetisi di Tel Aviv, Israel.

Komite mengaitkan perhatian dengan reputasi skor “nul points”

Sidang MPs tersebut akan menjadi bagian dari rangkaian penyelidikan bernama State of Play yang dijalankan komite, di mana anggota masyarakat atau pihak lain dapat mengajukan permohonan agar sesi pembuktian digelar untuk topik yang menjadi perhatian.

Dame Caroline Dinenage menambahkan, “This application interested us because of the UK’s reputation for scoring ‘nul points’, coming bottom, or close to bottom in recent years at Eurovision, despite having world-class song writers and musicians”.

Pernyataan itu menekankan kontras antara reputasi pengkarya musik Inggris dan kenyataan performa di panggung Eurovision beberapa tahun terakhir.

Dalam konteks itu, komite menilai penting untuk menelusuri apakah masalah utama justru muncul dari cara memilih lagu dan peserta, atau apakah ada kelemahan lain yang ikut menentukan hasil akhir.

Dari sisi perhatian publik, Eurovision juga dikenal sebagai salah satu acara musik yang paling populer di Inggris. Banyak orang rela begadang untuk menyaksikan hasil final.

Meskipun demikian, komite belum menetapkan kerangka waktu spesifik untuk sidang investigasi tersebut.

Setelah seluruh bukti dan keterangan ditelaah, komite memperkirakan dapat menerbitkan laporan singkat yang memuat rekomendasi kepada BBC.

Rekomendasi tersebut diharapkan membantu memperjelas langkah perbaikan yang dibutuhkan, mulai dari proses seleksi hingga pertimbangan strategis yang pada akhirnya menentukan kualitas masuknya Inggris di Eurovision.

Dengan mendengar keterangan dari pihak BBC dan berbagai pakar industri musik, komite berupaya menyusun kesimpulan berbasis bukti, bukan sekadar reaksi atas hasil akhir di papan klasemen.

Pada akhirnya, proses ini akan menjadi semacam penataan ulang pertanyaan besar yang sejak lama muncul di ruang publik: bagaimana Inggris menyiapkan perwakilannya, mengapa hasilnya kerap jauh dari harapan, dan apakah perubahan proses dapat mengubah nasib di kompetisi musik internasional tersebut.