Olahraga

Thomas Tuchel: Menyesal Tak Mencicipi Rumput Azteca Usai Inggris Menang atas Meksiko

×

Thomas Tuchel: Menyesal Tak Mencicipi Rumput Azteca Usai Inggris Menang atas Meksiko

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Thomas Tuchel: England boss regrets not eating Azteca turf after World Cup win in Mexico

jurnalistik.co.id – Thomas Tuchel mengaku menyesal karena tidak sempat “mencicipi” rumput Stadion Estadio Azteca setelah Inggris meraih kemenangan atas Meksiko pada laga 16 besar Piala Dunia. Ia menyebut momen itu meninggalkan rasa ingin merasakan sesuatu dari tempat bersejarah tersebut.

Inggris menang 3-2 atas tuan rumah dalam pertandingan yang berlangsung di Azteca pada bulan Juli. Meski begitu, perjalanan tim tidak berjalan mulus karena Jarell Quansah menerima kartu merah, sehingga Inggris harus bermain dengan sepuluh pemain pada sebagian besar babak kedua.

Kemenangan tersebut mengantar Inggris melangkah ke semifinal. Di fase selanjutnya, mereka kalah dari Argentina, sebelum akhirnya meraih hasil terbaik berikutnya dengan menaklukkan Prancis pada pertandingan perebutan tempat ketiga.

Namun, setelah seluruh rangkaian turnamen itu berakhir, Tuchel justru membawa cerita yang tidak biasa dalam sebuah wawancara. Ia mengungkapkan pernyataan tersebut saat berbincang dengan Daniel Sturridge untuk fitur resmi FA yang akan datang bertajuk “Reflections: England’s World Cup Journey”.

Dalam kesempatan itu, Tuchel menceritakan bahwa ia sempat mengirim pesan kepada seorang temannya seusai pertandingan. Ia mengatakan, “I texted a friend after the match and I just wrote, ‘I regret that I didn’t eat some grass after the match to keep something from this in my body forever’. That was the feeling. That was the moment.”

Baginya, penyesalan itu berangkat dari pengalaman emosional yang ia anggap sangat spesial. Tuchel menilai, momen tersebut adalah titik rasa yang ingin terus “diingat” oleh tubuh dan pikiran, meski pada saat pertandingan berlangsung ia tidak sempat melakukan hal tersebut.

Tuchel juga menyoroti makna kemenangan Inggris di Azteca dari sisi rekor. Ia menyebut keberhasilan timnya hanya menjadi pertemuan ketiga Meksiko yang berujung kekalahan di stadion tersebut dalam 90 pertandingan kompetitif.

Menurut Tuchel, laga tersebut menjadi salah satu highlight perjalanan kampanye Inggris sekaligus memperlihatkan kualitas kebersamaan di dalam skuad. Ia memuji “huge bond” yang tumbuh di ruang ganti, terutama ketika tim menghadapi situasi yang mengguncang jelang laga berikutnya.

Ia menyinggung reaksi tim terhadap cedera Jordan Henderson yang berujung berakhirnya kiprah Henderson di turnamen. Cedera itu terjadi setelah Henderson jatuh saat perayaan di tengah peristiwa perayaan keberhasilan Inggris di Azteca, tepat ketika momen kebahagiaan sedang memuncak.

Ikatan tim ketika semuanya diuji

Tuchel menggambarkan pertandingan itu sarat dengan hal-hal yang menurutnya patut dimiliki sebuah tim yang sedang membangun momentum. Ia mengatakan, “This game had so much of what you could wish for,” sebelum menekankan bahwa gambaran hubungan antarpemain bisa terlihat jelas pada satu insiden krusial.

Ia melanjutkan, “If you needed any proof of what it meant to these players and how they were with each other, it was the moment Jordan fell over and broke his arm.”

Dalam penilaiannya, respons yang muncul begitu cepat menunjukkan karakter kolektif Inggris. Tuchel menegaskan, “Within a second, the players were there. Every single player was there stopping the celebrations, building a shield, protecting Jordan, not going anywhere, in full empathy. It was so special.”

Ia memandang bahwa tindakan para pemain tidak berhenti pada aspek spontanitas, melainkan mencerminkan empati dan kesigapan untuk menjaga rekan mereka. Bagi Tuchel, itu adalah momen yang memperlihatkan bahwa kebersamaan bukan hanya slogan, tetapi tampak nyata saat tim menghadapi situasi berat.

Setelah keberhasilan di Piala Dunia, Inggris kini menatap langkah berikutnya dalam kalender kompetisi. Tuchel menyampaikan bahwa timnya akan kembali bertanding melawan juara Piala Dunia, Spanyol, pada 26 September untuk pembuka UEFA Nations League musim 2026-27.

Di saat yang sama, persiapan juga diarahkan pada target yang lebih jauh, yaitu Kejuaraan Eropa 2028, yang disebut berada dalam radar Tuchel. Ia menyatakan keyakinannya bahwa perjalanan Inggris di Piala Dunia menjadi modal untuk fase-fase berikutnya.

Tuchel percaya upaya Inggris untuk mengakhiri penantian gelar pertama tim nasional putra senior sejak 1966 dapat semakin mendekat. Ia menilai jalur yang mereka tempuh di Piala Dunia bukan hanya memperkuat hasil, tetapi juga menegaskan hubungan personal antara pelatih dan skuad.

Ia mengungkapkan rasa kedekatan itu dengan mengatakan, “it feels like they are my players now.” Baginya, kedekatan tersebut terbentuk dari proses yang dialami bersama dalam turnamen, termasuk ketika tim harus menghadapi tekanan dan situasi yang tidak ideal.

Tuchel juga menilai perjalanan tersebut membawa nilai yang bisa dipakai untuk membangun. Ia menambahkan bahwa kampanye itu adalah “something to build on”, yang berarti fondasi yang dapat menjadi pijakan menyusun langkah berikutnya dalam jangka menengah.

Menutup penjelasannya, Tuchel menegaskan antusiasme menjelang babak baru kompetisi. Ia berkata, “I’m very excited. I think we got another step closer and I think we’re there.”