jurnalistik.co.id – Apakah “generasi emas” pemain Timnas Israel U-20 benar-benar mampu menjadi kekuatan pemersatu—baik di lapangan maupun di ruang publik—atau justru terkubur oleh kenyataan sosial yang makin rumit?
Di tahun 2023, momen sepak bola Israel terasa nyaris tak masuk akal. Tim asuhan usia-20 mencatatkan lompatan besar dalam turnamen Piala Dunia U-20, setelah menyingkirkan Brasil di perempat final. Di menit-menit terakhir, suasana begitu bergelora sampai narator televisi Israel berjanji, “you will tell of this night to your children, and they will tell it to your grandchildren”.
Janji itu “didengar” oleh banyak orang. Lima hari setelah kemenangan atas Brasil, laga semifinal melawan Uruguay menjadi tontonan paling banyak pada malam harinya, dengan perolehan share penonton 23% di televisi Israel. Sejumlah politisi kemudian berebut kesempatan memberi ucapan selamat kepada tim.
Ido Rakovsky—yang saat itu meliput tim tersebut lewat media Haaretz—menggambarkan pengalaman itu seperti “science fiction”, bukan olahraga biasa. Ia menuturkan bahwa banyak orang di Israel, pada saat yang sama, menaruh perhatian penuh pada sepak bola U-20: semua tahu pemainnya, dan banyak pihak “jatuh cinta” pada anak-anak itu.
Namun, yang membuat kisah ini melebar jauh melampaui skor adalah cara para pemain muda menampilkan identitas mereka sendiri. Usai mencetak gol kemenangan di waktu tambahan ketika menghadapi Uzbekistan pada fase 16 besar, Anan Khalaili sempat diwawancarai televisi Israel. Ia, seorang pemain Arab Israel, menyampaikan terima kasih kepada penonton yang begadang untuk menyaksikan timnya menang dari Argentina.
Dalam wawancara itu, Khalaili memakai istilah “Am Yisrael”—frasa Ibrani yang berarti “People of Israel”, terikat pada tradisi keagamaan, komunitas, budaya, dan sejarah Yahudi. Rakovsky menilai pilihan bahasa itu punya makna mendalam tentang jati diri tim: “That an Arab player used that figure of speech said something about the identity of that team”.
Ia melanjutkan bahwa tim tersebut membuat klaim tentang sepak bola sebagai penghubung antar manusia menjadi nyata: “That team made real the claim that football can really bring people together – that Muslim players are part of the national team of the Jewish state, representing Israel and creating something better, both for the present and future.”
Sayangnya, setelah lebih dari empat bulan dari kemenangan atas Brasil dan momen wawancara itu, peristiwa besar mengubah semuanya. Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober. Kelompok bersenjata tersebut menewaskan sekitar 1.200 orang dan membawa 251 sandera. Sebagai respons, Israel melancarkan ofensif militer besar-besaran di Gaza, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan pembalasan itu telah menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina.
Di tengah perang yang terus berlangsung, pertanyaan yang menggantung adalah apakah potensi generasi berbakat dalam sepak bola Israel—bukan hanya di bidang olahraga, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat—dapat benar-benar menjadi kenyataan.
Di turnamen Piala Dunia U-20 2023, Israel memang tidak merengkuh trofi. Tim kalah 1-0 dari Uruguay yang kemudian menjadi juara, lalu tetap mengakhiri kompetisi di posisi ketiga. Jalur mereka bukan kebetulan semata. Kerangka pemain yang mirip—dengan beberapa penambahan dan pengurangan—lebih dulu menunjukkan daya saing pada level benua.
Mereka pernah menjadi runner-up Kejuaraan U-19 Eropa 2022, kalah dari Inggris pada babak tambahan. Setelah itu, di Piala Eropa U-20 2023, Israel kembali melangkah hingga semifinal. Artinya, ketika generasi ini bersinar di panggung dunia, basis kematangan mereka sudah terbangun lebih lama.
Israel tentu pernah melahirkan pemain-pemain menonjol di masa lalu—Eyal Berkovic dan Yossi Benayoun misalnya—dengan gaya menyerang yang teknikal dan karier panjang di Premier League. Tetapi kelompok usia sekarang dianggap berbeda karena kedalaman bakat yang muncul bersamaan dan bergerak sebagai satu paket yang kohesif.
Dalam beberapa bulan terakhir, nama-nama muda ini juga menarik perhatian dari liga-liga Eropa dan luar negeri. Khalaili menjadi salah satu prospek paling dicari. Rencana kepindahannya ke Inter Milan senilai £21,5 juta sempat gagal, tetapi Crystal Palace kemudian mengalahkan persaingan Nottingham Forest untuk memboyongnya dengan nilai serupa dari Union Saint-Gilloise.
Gelandang serang Oscar Gloukh—berusia 22 tahun—mengenakan nomor 10 Ajax, setelah penampilan yang membawanya dari Red Bull Salzburg. Roy Revivo, bek kiri, menandatangani kontrak untuk klub Spanyol Elche pada hari batas transfer, setelah sebelumnya berseragam Maccabi Tel Aviv. Sementara itu, bek Twente Stav Lemkin, yang juga berusia 23 tahun, turut disebut sangat diminati. Di Amerika Serikat, Dor Turgeman, Ilay Feingold, dan Idan Toklomati bersinar di Major League Soccer.
Meski jejak individu para pemain ini kuat, cara mereka dibentuk sebagai tim juga mendapat sorotan. Pelatih kategori usia Israel, Ofir Haim, disebut berperan besar dalam “molding” menjadi unit yang menyatu—sesuatu yang sering kali sulit terjadi pada tim senior.
Haim menegaskan bahwa latar belakang pemain tidak menjadi masalah. Ia berkata, “It isn’t an issue at all here… We don’t have any problem with religion. Not at all.” Ia menambahkan contoh praktis di ruang latihan dan kehidupan tim: “We have players here who put on tefillin [Jewish ceremonial wear, containing verses from the Torah] – and Anan [Khalaili], Hamza [Shibli] and Ahmed [Salman] perform the Muslim prayers.”
Menurut Haim, tim juga tidak menjadikan isu itu sebagai bahan perbincangan: “We don’t even talk about this.” Ia menutup pernyataannya dengan harapan yang lebih luas dari sekadar prestasi, “We unite everybody, and I wish the country were as united as this team.”
Sepak bola, pada dasarnya, lama menjadi bagian dari masyarakat Israel yang memiliki percampuran komunitas. Dr Omer Einav—sejarawan dan penulis buku Defending the Goal—menghubungkan hal itu dengan sejarah migrasi. Ia menuturkan bahwa sebagian besar orang Yahudi yang datang pada masa “mandate period” (rentang 1923 hingga 1948 ketika wilayah ini dikelola Inggris) berasal dari Eropa. Dalam pandangannya, ketika berbicara soal film, musik, teater, dan tarian, mereka tidak memiliki banyak kesamaan dengan kultur Timur Tengah.
Berita Terkait
Namun, ketika menyangkut sepak bola, ada satu bahasa yang menyatukan: “That was the only common language, the only thing they both love in the same way.”
Tak hanya itu, dukungan administratur Inggris pada masa awal juga mendorong pertandingan antarkomunitas. Ketika negara Israel modern berdiri pada 1948, sebagian besar populasi Arab yang tetap berada di dalam batas negara mengidentifikasi sebagai atau berhubungan dengan Palestina—dan banyak dari mereka masih melanjutkan identitas itu. Dari sudut olahraga, mereka juga menjadi bagian intrinsik dari sepak bola Israel.
Sekalipun Arab Israel hanya sekitar 20% dari populasi, mereka berkontribusi sekitar 35% pada keterlibatan dalam level elit sepak bola di tingkat nasional. Jejak itu tampak pada figur-figur awal: Rifaat Turk menjadi pemain Arab pertama yang membela tim nasional pada 1976. Pada 2018, Bibars Natcho menjadi muslim pertama yang menjabat kapten tim.
Namun, tidak ada perjalanan yang sepenuhnya bebas kontroversi. Turk mendapat perlakuan kasar dari banyak pihak. Keputusan Natcho untuk tidak menyanyikan lagu kebangsaan—yang liriknya berkaitan dengan pencarian tanah air bagi bangsa Yahudi—juga dikecam sebagian orang.
Bila menilik rentang musim panas 2023, tampak seolah tim U-20 era Haim dapat menjadi titik balik: momen yang menunjukkan persaudaraan dan koeksistensi bisa bekerja dalam skala nyata. Tetapi, seperti yang tersirat dalam perjalanan setelah 7 Oktober, sepak bola tidak berdiri sendiri dari konflik yang membentuk kehidupan di luar stadion.
Racism di sepak bola Israel sudah lama hadir, dan Kick It Out Israel—inisiatif anti-diskriminasi yang memiliki tujuan serupa tanpa hubungan langsung dengan organisasi Inggris bernama sama—menjadi ruang pengamatan. Matan Segal disebut pernah memimpin inisiatif itu selama hampir empat tahun sebelum mundur beberapa bulan lalu.
Ia mencontohkan kasus yang pernah terjadi pada ultras Beitar Jerusalem, yang pada 2013 membakar kantor klub mereka sendiri sebagai protes atas penandatanganan dua pemain Muslim dari Chechnya. Dalam tradisi sebagian kelompok paling ekstrem, suporter Beitar melontarkan cemoohan kepada orang Arab Israel lewat nyanyian “may your village burn”, sambil menyatakan diri “forever pure”.
Segal menilai bahwa ia melihat diskriminasi terhadap pemain Arab berubah menjadi makin virulen dan menyebar luas ketika ia menangani Kick It Out Israel. Menurutnya, Covid—ketika radikalisasi terjadi di media sosial selama lockdown—menjadi salah satu pemicu. Ia juga menyebut kemenangan pemerintahan sayap kanan jauh pada akhir 2022, yang menurutnya memberi legitimasi pada pandangan yang sebelumnya dipandang ekstrem terhadap Palestina. Perang tentu menambah lapisan lainnya.
Segal berkata, “Before 7 October, people generally respected the Arab players.” Ia mengakui bahwa memang ada persoalan terkait mereka yang tidak bernyanyi menyanyikan lagu kebangsaan Israel, tetapi menurutnya masih ada ruang hormat. Setelah 7 Oktober, ia melaporkan perubahan: “After 7 October though, we saw an increase in racist remarks.”
Ia menuturkan bahwa hal itu muncul bahkan di klub-klub kecil tempat sebelumnya belum terlihat: “It was happening at small clubs where we hadn’t seen it before.” Segal juga menyebut contoh nyanyian yang berisi ujaran kekerasan: “There were terrible songs – ‘Let’s kill all Arabs’, ‘There are no schools in Gaza because there are no children left’.”
Dalam situasi yang memanas, sepak bola menjadi titik fokus emosi yang lahir dari konflik. Klub-klub yang biasanya saling berseteru bisa tampak berdamai untuk mengenang korban. Contohnya, syal bagian dari peringatan dipakai di lokasi Festival Nova, tempat ratusan orang tewas. Pada lambang Hapoel Jerusalem, siluet Hersh Goldberg-Polin kini dipasang sebagai pengingat: ia diculik dan dibunuh saat dalam penahanan, dan orang tuanya mengampanyekan perdamaian melalui duka mereka.
Di sisi lain, prajurit Tentara Pertahanan Israel (IDF) dilaporkan memotret diri dengan bendera dan spanduk klub saat menjalankan operasi di Gaza, sebagai bentuk dedikasi terhadap klub dan ultras di kampung halaman.
Dalam atmosfer seperti itu, pemain-pemain muda berada dalam sorotan berkelanjutan. Hubungan mereka dengan konflik juga datang dari program dinas nasional Israel dan banjir komentar serta gambar di internet. Tekanan ini tidak bersifat teoritis.
Contohnya, sahabat seumur hidup Gloukh, Afik Tery, dilaporkan tewas oleh ledakan dari Hamas saat menjalankan tugas di IDF. Setelah kematian Tery, Gloukh mengunggah rangkaian foto yang menggugah: mereka berpegangan tangan dari waktu ke waktu—sebagai anak-anak di pesta ulang tahun, hingga sebagai remaja di sebuah pernikahan—dengan slide terakhir menampilkan pemakaman Tery. Di balasan online, Segal mengindikasikan munculnya ejekan dari kelompok yang mendukung Palestina.
Bagi pemain Israel yang memiliki latar Palestina, taruhannya terasa lebih tinggi. Dia Saba—yang disebut memainkan peran playmaker mirip dengan Gloukh—berusia 33 tahun dan mencetak tiga gol dari 13 penampilan untuk Israel. Ia juga dipaparkan tidak mungkin menambah angka itu. Saba meninggalkan Maccabi Haifa pada 2025 dan kini bermain untuk Amedspor di Turki.
Ketika konflik mulai, sang istri, Narmin, mengunggah pesan di Instagram yang menyinggung situasi di Gaza: “There are children in Gaza, too,”. Saba kemudian meminta maaf atas kemarahan yang timbul, tetapi ia tidak berhasil menyelamatkan kariernya di Israel. Saat itu ia menyampaikan, “My dream was to play for Maccabi Haifa, the club that I support, the team that I grew up with.” Ia menambahkan, “I wanted to continue. But sometimes there are reasons that are stronger than us that don’t allow it.”
Dalam kondisi seperti ini, loyalitas pemain muda sering dipertanyakan “dari semua sisi”. Banyak orang di dunia Arab berharap agar lebih banyak prospek Palestina di Israel mengikuti contoh Ataa Jaber. Jaber menjadi kapten tim U-21 Israel, namun pada Juni 2023 ia berpindah kewarganegaraan untuk membela Palestina.
Alasan yang ia kemukakan adalah ia tidak lagi mampu memisahkan olahraga dan politik setelah melihat polisi mengusir keluarga Palestina dari rumah mereka di Yerusalem Timur yang diduduki Israel.
Kisah generasi U-20 Israel pada 2023 menunjukkan bagaimana sepak bola sempat membuka ruang untuk kebersamaan yang lebih luas. Tetapi, ketika perang merombak konteks sosial, pertanyaan yang sama tetap berdiri: apakah “generasi emas” itu bisa diwujudkan sebagai energi pemersatu, atau hanya menjadi kilatan harapan yang sulit bertahan.












