Teknologi

Investor Protes Kolektor Kripto, Kerugian Tembus Rp887 T – Teknologi

×

Investor Protes Kolektor Kripto, Kerugian Tembus Rp887 T – Teknologi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kolektor Kripto Jadi Sasaran Marah Investor yang Merugi Rp887 T - Teknologi

jurnalistik.co.id – Para investor semakin gencar menyelidiki besaran imbalan yang dibayarkan para penimbun kripto kepada karyawannya. Di saat yang sama, pemegang saham menanggung kerugian total mencapai US$50 miliar, atau sekitar Rp887,1 triliun.

Kerugian itu tidak hanya dialami investor ritel, melainkan juga investor institusional. Perdagangan kripto yang pada awalnya berjalan sangat panas di pasar sepanjang tahun 2025 kemudian berbalik menjadi sumber tekanan finansial bagi kedua kelompok tersebut.

Ketika nilai portofolio ikut tergerus, fokus mulai bergeser dari sekadar menunggu pemulihan menuju upaya aktivisme. Langkah ini dilakukan untuk mencoba membatasi dampak kerugian yang sudah terjadi.

Tekanan ke perusahaan treasury aset digital

Tekanan tersebut muncul di tengah kondisi saham perusahaan treasury aset digital (digital-asset treasury/DAT) yang terpuruk jauh di bawah nilai kepemilikan kripto mereka. Situasi ini mendorong perhatian publik pada rencana insentif dan transaksi yang berkaitan dengan pihak tertentu.

Pekan sebelumnya, SkyAI Inc., sebuah perusahaan pembuat jarum suntik yang kemudian beralih menjadi pembeli Solana, menghadapi sorotan. Penyorotan tersebut berkaitan dengan rencana insentif ekuitas senilai jutaan dolar untuk staf, sekaligus adanya transaksi pihak terkait.

Dari Tokyo, Metaplanet Inc. yang beroperasi sebagai akumulator Bitcoin juga menghadapi tekanan serupa. Perusahaan berupaya meredam gejolak di media sosial dengan membatalkan waran senilai sekitar US$220 juta.

Dalam laporan Bloomberg, nama Olga Kharif, Ryan Weeks, dan Muyao Shen disebut sebagai pihak yang menuliskan perkembangan ini. Pergeseran perhatian investor menuju struktur insentif dan keterkaitan transaksi menjadi salah satu benang merah dari kasus-kasus tersebut.

Bagi para pemegang saham, masalah yang kini dipertanyakan bukan hanya arah pasar kripto. Mereka juga menilai bagaimana keputusan perusahaan treasury aset digital berhubungan dengan kerugian yang terus menggerogoti nilai perusahaan di bursa.

Nilai pasar yang terdilusi penuh dari perusahaan treasury terdaftar yang berinvestasi dalam Bitcoin dan Ether saat ini berada di kisaran US$90 miliar. Angka tersebut disebut berada sekitar 40% di bawah puncaknya, berdasarkan informasi dari firma analitik Artemis.

Dengan jarak yang cukup besar dari puncak sebelumnya, logika aktivisme muncul sebagai respons langsung terhadap jurang kinerja saham. Investor menilai bahwa kondisi saham yang melemah tidak selalu sejalan dengan keberadaan aset kripto pada neraca perusahaan.

Di tengah dinamika tersebut, harga Bitcoin juga disebut bergerak sideways di kisaran US$76.500-an. Pergerakan itu turut dikaitkan dengan dampak putusan suku bunga The Fed yang membuat pasar terasa terpukul.

Reaksi investor pun tampak makin terarah pada upaya mengendalikan risiko yang sudah terlanjur terbuka. Baik investor ritel maupun institusional, menurut laporan, kini memilih jalur aktivisme sebagai cara untuk menekan kerugian yang mereka hadapi.

Secara keseluruhan, rangkaian tekanan kepada perusahaan-perusahaan treasury aset digital menunjukkan bahwa perhatian pasar tidak berhenti pada volatilitas harga. Investor juga menyoroti elemen-elemen internal seperti rancangan insentif ekuitas, transaksi pihak terkait, serta keputusan pembatalan waran yang berpotensi memengaruhi persepsi dan nilai perusahaan.

Dalam penelusuran yang mengemuka, perhatian pasar juga menyorot cara perusahaan merancang insentif internal ketika nilai saham melemah. Investor tidak hanya membandingkan performa bursa dengan nilai aset kripto di neraca, tetapi juga mengaitkan paket ekuitas dan transaksi pihak tertentu dengan persepsi publik atas tata kelola perusahaan.

Ketika harga Bitcoin bergerak sideways dan pasar tetap merasakan tekanan pasca putusan suku bunga The Fed, aktivisme diposisikan sebagai upaya untuk menutup ruang risiko yang sudah terlanjur terbuka. Contoh seperti rencana insentif ekuitas yang disebut senilai jutaan dolar di SkyAI Inc. atau pembatalan waran sekitar US$220 juta di Metaplanet menunjukkan bahwa keputusan korporasi menjadi fokus sorotan, sebagaimana nama Olga Kharif, Ryan Weeks, dan Muyao Shen yang disebut dalam laporan Bloomberg.