Olahraga

US Open 2026: Ben Shelton Menang atas Frances Tiafoe, Tantang Alexander Zverev di Final

×

US Open 2026: Ben Shelton Menang atas Frances Tiafoe, Tantang Alexander Zverev di Final

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: US Open 2026 results: Ben Shelton beats Frances Tiafoe to set up final against Alexander Zverev

jurnalistik.co.id – Ben Shelton memastikan tiket final US Open 2026 setelah mengalahkan Frances Tiafoe dalam semifinal all-American yang berlangsung sengit. Setelah tiga jam lebih, Shelton menang 4-6, 6-3, 6-3, 7-5 dan akan menghadapi unggulan teratas Alexander Zverev di pertandingan perebutan juara.

Hasil ini sekaligus mengantar petenis berusia 23 tahun itu ke final Grand Slam pertama dalam kariernya. Sebelumnya, Shelton harus menelan kekalahan di dua semifinal turnamen major, sehingga kemenangan kali ini terasa seperti momen yang ditunggu lama.

Di sisi lain, Zverev juga mengamankan tempat di final dengan mengalahkan Karen Khachanov. Top seed tersebut menang 6-3, 7-6 (9-7), 7-6 (8-6), sekaligus memperpanjang catatan tampil di final Grand Slam untuk kali ketiga secara beruntun.

Dengan deretan hasil itu, final US Open 2026 mempertemukan dua gaya permainan yang saling bertolak belakang. Shelton melangkah dengan momentum dari comeback, sedangkan Zverev melaju dengan konsistensi sejak fase awal turnamen.

Shelton Bangkit dari Set Awal

Semifinal melawan Tiafoe menjadi panggung bagi permainan agresif kedua petenis. Shelton mengakhiri pertandingan dengan total 74 winner, dan 47 di antaranya berasal dari pukulan raketnya, termasuk 20 ace yang membantu menjaga tekanan sepanjang laga.

Di momen-momen kunci, Shelton juga efektif memanfaatkan servis pertamanya serta membaca ritme permainan lawan. Ia mengumpulkan 77% poin ketika servis pertamanya masuk, dan mampu meraih 62% poin ketika Tiafoe gagal menempatkan servis pertama.

Sejak awal pertandingan, Shelton langsung menunjukkan niat untuk mengontrol tempo. Ia meluncurkan ace ke arah T untuk menandai agresinya, sekaligus membuka jalan bagi duel yang terus berayun di game-game pembeda.

Tiafoe sempat kehilangan peluang break pada fase awal, tetapi tetap mengancam dari servis dan reli. Ketika pertandingan bergerak ke set pertama, momen menentukan datang pada servis—dibantu double fault, Shelton akhirnya mematahkan Tiafoe ketika skor 5-4, lalu menutup set tersebut.

Memasuki set kedua, Shelton tidak menunda respons. Ia langsung menembak forehand lurus yang menuntun pada break untuk memimpin 2-0, sebelum Tiafoe segera membalas dengan break kembali.

Walau Tiafoe sempat menyamakan ritme, Shelton tetap berada di posisi menekan. Ia kemudian mematahkan lawan untuk memimpin 5-3 dan merampungkan set kedua dengan keunggulan yang membuat peluang final kian mengerucut.

Set ketiga menghadirkan rangkaian reli yang panjang dan kualitas pukulan yang tinggi. Tiafoe sempat memenangi duel setelah 31 pukulan untuk menahan satu peluang break, namun Shelton mampu menjawab di akhir reli 28 pukulan dengan sebuah winner yang mengubah arah permainan.

Setelah perubahan itu, Shelton menambah keunggulan lewat break berikutnya pada game yang berlangsung sekitar 15 menit. Ia pun menyudahi set ketiga dengan keunggulan dua set untuk satu, sebelum memulai tantangan set keempat.

Di set penutup, Tiafoe mencoba tampil lebih agresif sejak awal. Namun, ia gagal mengonversi dua peluang break pada game pembuka, sementara Shelton kemudian mendapat kesempatan ketika kedudukan 6-5 dan menyiapkan tiga match point.

Shelton mengamankan match point pertama, tetapi duel belum selesai. Ketika Tiafoe melakukan double fault pada momen terakhir, pertandingan berakhir dengan kemenangan untuk Shelton sekaligus memastikan final pertamanya di ajang Grand Slam.

Zverev Menang, Lanjut Final Ketiga Beruntun

Kemenangan Zverev atas Khachanov mengukuhkan statusnya sebagai kandidat kuat. Ia memperkuat jalannya menuju final setelah menutup fase yang sempat berimbang, khususnya di set kedua dan set ketiga yang sama-sama ditentukan tie-break.

Zverev menjalani turnamen dengan pola yang mulai lambat tetapi kemudian stabil. Ia sempat dipaksa bermain lima set pada dua pertandingan awal, namun sejak itu ia tidak kehilangan satu set pun hingga akhirnya meraih tiket final.

Melawan Khachanov, Zverev sempat menghadapi tekanan di set ketiga, tetapi mampu menyelamatkan dua set point. Secara detail, Zverev mematahkan servis Khachanov untuk memimpin 5-3 sebelum mengunci set pertama.

Di set kedua, Khachanov bangkit setelah sempat tertinggal satu break dan memaksa tie-break. Di sana, ia menyelamatkan set point dengan sebuah backhand yang menjadi penutup reli 22 pukulan, sebelum Zverev kembali mengambil alih kendali.

Pada momen penentu, Zverev meraih set point lain dan mengubahnya menjadi keunggulan melalui reli yang melelahkan, dengan pertahanan yang kuat dari baseline. Tie-break set ketiga pun berjalan ketat; Khachanov sempat menciptakan dua set point, tetapi keduanya diselamatkan oleh Zverev.

Setelah itu, Zverev tidak memberi ruang lagi. Ia akhirnya memastikan kemenangan ketika forehand Khachanov keluar lapangan, menutup laga dengan skor akhir 6-3, 7-6 (9-7), 7-6 (8-6).

Bagi Zverev, ini menjadi final US Open keduanya dalam enam tahun. Enam tahun lalu, ia pernah mencapai final pertama tetapi kalah dalam pertandingan lima set dari Dominic Thiem pada 2020.

Motivasi Shelton dan Ambisi Mengakhiri Puasa Amerika

Di luar pencapaian teknis, Shelton juga membawa beban harapan sebagai wakil Amerika. Ia dan Tiafoe sama-sama mengejar final Grand Slam pertama mereka, dan Shelton kini akan mencoba mengakhiri penantian panjang kemenangan petenis Amerika di nomor tunggal putra.

Sejak Andy Roddick menjadi pemenang di Flushing Meadows pada 2003, tercatat penantian 23 tahun yang belum terputus untuk kemenangan petenis Amerika di level Grand Slam. Dalam rentang tersebut, pria Amerika setidaknya enam kali mencapai final Grand Slam, dengan kesempatan terakhir datang dari Taylor Fritz dua tahun lalu di New York.

Untuk bisa merayakan momen itu, Shelton perlu mengatasi fakta bahwa ia belum pernah menang ketika berhadapan dengan Zverev sebelumnya—ia kalah dalam lima pertemuan sebelumnya. Namun, ia juga membawa keyakinan dari rentetan pertandingan terakhir, ditambah dukungan penonton yang hadir memberikan energi di Arthur Ashe Stadium.

Shelton sempat menyinggung kedekatan personalnya dengan Tiafoe. Ia mengatakan, “Frances is like a big brother to me, every time that we get to take to this court together and play each other is super special,” sambil juga memberikan penghormatan kepada sang nenek yang telah meninggal dan mereka yang terdampak serangan 9/11 dua puluh lima tahun lalu dalam wawancara di lapangan.

Ia menambahkan, “This is both of our favourite tournament, our favourite court in the world and to be able to light it up in front of you guys [the crowd] is the best feeling there is.”

Menjelang final, Shelton mengirim seruan kepada pendukungnya. Ia berkata, “I’m going to need you guys on Sunday to bring the energy. I’m going to leave it all on the court and I hope you guys come and back me. Let’s do this for the USA.”

Sementara itu, Zverev datang dengan landasan psikologis yang ia bangun sendiri. Setelah putaran kedua, ia pernah menyebut bahwa sekitar pukul 3 pagi ia duduk bersama tim di ruang ganti sambil tertawa karena menilai performanya buruk. “That sense of humour helped me. I obviously have improved a bit otherwise I would not be in the US Open final,” ujarnya, menggambarkan bagaimana humor dan evaluasi diri membantunya bangkit.

Final US Open 2026 kini menunggu. Shelton membawa keberhasilan comeback melawan Tiafoe, sedangkan Zverev melangkah dengan catatan konsistensi yang kuat dan kemenangan di dua set ketat terakhir. Pertandingan perebutan gelar akan menjadi ujian paling nyata bagi keduanya—siapa yang mampu menjaga ritme dan memaksimalkan momen saat tekanan memuncak.