Olahraga

Chelsea Tunjukkan Ketangguhan Lagi: Apakah The Blues Bisa Merebut Gelar WSL Musim Ini?

×

Chelsea Tunjukkan Ketangguhan Lagi: Apakah The Blues Bisa Merebut Gelar WSL Musim Ini?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Chelsea: Resilience is back so can Blues regain the WSL title this season?

jurnalistik.co.id – Keraguan sempat hadir di markas Chelsea setelah kehilangan gelar Women’s Super League musim lalu. Namun, rentetan awal musim ini memberi sinyal bahwa tim asuhan Sonia Bompastor sedang menemukan ritme yang mereka cari—dengan pondasi permainan yang jauh lebih solid.

Kemenangan 1-0 atas Arsenal pada hari Minggu menjadi titik penting. Hasil itu memperpanjang catatan tak terkalah Chelsea di WSL menjadi 12 pertandingan, sekaligus menempatkan mereka hanya terpaut dua poin dari pemuncak klasemen Manchester City.

Yang membuat laga tersebut menarik bukan hanya skor tipisnya, tetapi cara Chelsea mengelola pertandingan. Mereka berani “menggali lebih dalam”, mampu mempertahankan kontrol tanpa bola, dan menjaga disiplin bertahan ketika Arsenal meningkatkan tekanan.

Dalam konteks persaingan musim ini, peluang Chelsea untuk kembali bersaing memperebutkan titel juga makin terasa realistis. Mereka kini bersaing dengan tim-tim teratas, sementara Arsenal bahkan berada di posisi ketujuh dan tertinggal tujuh poin dari City.

Perubahan sikap setelah musim yang berakhir pahit

Musim 2025-26 sebelumnya sempat menjadi bukti bahwa sebuah siklus juara tidak selalu bertahan lama. Bompastor memang membawa Chelsea meraih treble domestik tanpa kekalahan di musim pertamanya sebagai pelatih, tetapi dominasi enam tahun di WSL kemudian berakhir. City melewati mereka di puncak, dan banyak pihak memprediksi Arsenal akan menjadi penantang utama setelah aktivitas rekrutmen yang kuat pada musim panas.

Namun, Chelsea justru memulai kampanye dengan awal yang tidak sepenuhnya meyakinkan. Mereka bermain imbang 1-1 melawan Aston Villa di Stamford Bridge meski tampil dominan. Persoalannya berada pada penyelesaian akhir: Chelsea kurang tajam di depan gawang, dan satu kesalahan di lini belakang memberi Villa ruang untuk menciptakan peluang.

Sejak saat itu, pola permainan Chelsea mulai menunjukkan arah yang berbeda. Mereka beranjak dari performa dominan tanpa hasil menjadi rangkaian kemenangan, mencatat tiga kemenangan beruntun, sebelum menutup pekan dengan penampilan yang lebih menyeluruh saat menghadapi Arsenal.

“Mentally fight” dan kemampuan menyesuaikan tekanan

Salah satu kunci yang disebut Bompastor adalah kesiapan mental dan kemampuan menyesuaikan diri. Ia menyatakan timnya telah dibekali bekal untuk menghadapi momen ketika rencana permainan tidak berjalan sesuai harapan.

Bompastor menegaskan, “In this league, you have so many different opponents and you have to be able to adjust and do something different.” Ia juga menekankan pentingnya solidaritas tim pada situasi yang berfluktuasi, dengan mengatakan ia “always want to see a group of players who are together in those high and low moments”.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa jelang pertandingan Chelsea sudah menyiapkan diri menghadapi fase-fase ketika mereka tidak menguasai kontrol: “We came into this game well prepared. We knew we would have moments in the game where we were not in control. We prepared for those moments.”

Ia juga menjelaskan detail persiapan dengan kalimat, “We knew exactly where we wanted them to take the ball and where to leave some spaces.” Menurutnya, tim tampil kuat secara keseluruhan: “We were really strong mentally and physically.”

Hasilnya tampak jelas pada aspek bertahan. Chelsea mencatat clean sheet ketiga secara beruntun dan menjalani 315 menit tanpa kebobolan.

Performa ke atas: Walsh, Thompson, dan bangkitnya lini depan

Di sisi lain, kemenangan atas Arsenal juga dipertegas oleh kontribusi individu. Alyssa Thompson menjadi pembeda setelah tercipta gol tunggal di laga itu, dan ia merasakan efek positif kemenangan tersebut untuk suasana tim.

Thompson menyebut kemenangan atas “Gunners” sebagai “amazing for team morale”. Sementara itu, proses gol berawal dari momen penting yang melibatkan Keira Walsh. Media pertandingan menuliskan bahwa tembakan Walsh dipatahkan, lalu bola mengarah ke jalur Thompson untuk menjadi satu-satunya gol.

Keberhasilan Chelsea juga berkaitan dengan berkembangnya kerja sama Walsh. Ia kini membangun chemistry yang disebut “flourishing” bersama Lexi Potter, yang berusia 20 tahun. Bompastor menilai kolaborasi baru ini membuat Walsh bisa bergerak lebih tinggi, dengan ruang yang lebih leluasa untuk memengaruhi permainan.

Soal dampak Potter, Bompastor memberi pujian dengan menyebut pemain berusia 29 tahun tersebut sebagai “a boss on the pitch” pada level ketika ia mampu mencapai intensitas itu, karena membantu tim memiliki “better foundations”.

Di lini serang, Thompson terus konsisten memberi kontribusi di depan. Kehadiran Melvine Malard pada musim panas juga menambah variasi dan outlet. Malard datang dari Manchester United, sempat melewatkan dua pertandingan pembuka karena cedera ringan, lalu langsung mencetak gol saat debut melawan Birmingham City. Ia kemudian menebar dampak saat menghadapi Arsenal.

Rekan setim Walsh merangkum kontribusi Malard dengan mengatakan, “She’s massive for us. She puts in work off the ball and sets off the press.” Walsh juga menambahkan, “Her awareness of people around her and her ability… She’s an incredible striker and she will be very good for us.”

Tekanan yang dipimpin Malard ikut menjadi alasan mengapa pertahanan lawan kesulitan membangun serangan. Pressing bergerak lebih tinggi, dan tim lawan menghadapi tantangan untuk menerobos.

Selain itu, Ellie Carpenter terus menghadirkan ancaman dari sisi bek sayap. Ia disebut tetap berani melakukan overlap dengan intensitas yang berbahaya, sehingga Chelsea punya opsi serangan yang lebih lebar.

Kepemimpinan dan agresi yang lebih tajam

Faktor lain yang turut menonjol adalah perubahan karakter dalam diri tim. Katie McCabe, yang pindah dari Arsenal ke Chelsea pada musim panas ini, membawa kepemimpinan dan “bite”—agresi yang disebut sempat kurang tampil pada sebagian momen musim lalu.

Lebih dari sekadar hasil, Chelsea tampak seperti tim yang benar-benar percaya seharusnya mereka menjadi juara. Mereka pun menunjukkan kesediaan untuk bekerja keras guna menjaga ambisi tersebut tetap nyata di setiap pertandingan.

Di saat yang sama, ada kontras yang jelas dari Arsenal. Pada fase awal musim WSL, Arsenal hanya mencatat satu kemenangan dalam empat laga pertama, dan mereka baru mencetak dua gol. Chelsea memanfaatkan kelemahan itu dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan disiplin yang konsisten.

Walsh merangkum evaluasi pertandingan dari sisi Chelsea dengan kalimat, “We’ve got both sides to our game and we showed that tonight in spells. Everyone was fighting for each other. Every first and second ball was ours.”

Dengan kondisi tersebut, kemenangan atas Arsenal berpotensi menjadi katalis lanjutan bagi Chelsea untuk menekan Manchester City. Jadwal berikutnya juga memperjelas tekanan di papan atas, karena City menghadapi Arsenal lagi berikutnya di WSL pada hari Minggu pukul 16:30 BST.