Olahraga

England vs Pakistan: Joe Root Nilai Tim Test Inggris Kini Lebih Siap Dibanding Awal Musim Panas yang Penuh Kekacauan

×

England vs Pakistan: Joe Root Nilai Tim Test Inggris Kini Lebih Siap Dibanding Awal Musim Panas yang Penuh Kekacauan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: England vs Pakistan: Joe Root says Test side in better place than at the start of tumultuous summer

jurnalistik.co.id – Joe Root menilai Inggris berada pada posisi yang lebih baik di penghujung musim panas yang “bergejolak” dibandingkan saat awal bergulirnya rangkaian seri. Pernyataan itu muncul setelah ia ikut memastikan kemenangan Inggris atas Pakistan dengan skor 3-0 dalam seri Test.

Di match ketiga di Edgbaston, Root mencetak 62 tidak keluar (not out) sementara Jordan Cox mengakhiri laga dengan 59* dan tidak terkalahkan. Inggris pun menuntaskan target untuk menang dengan delapan wickets.

Baginya, hasil tersebut menjadi penutup yang positif untuk musim yang sarat kejutan dan pergantian di luar lapangan. Musim panas itu, menurut laporan tersebut, turut diwarnai pensiun mengejutkan kapten Ben Stokes, pemecatan pelatih Test Brendon McCullum, serta berbagai persoalan lain di area off-field.

Saat menanggapi perjalanan tim, Root menyoroti pelajaran yang diperoleh ketika kondisi tidak berjalan mulus. Ia mengatakan, “In chaos you learn a lot about the group of players,” lalu menambahkan, “For us to have come through this series in the manner we have done, the way we’ve gone about our cricket, and gone about things has been really pleasing.”

Root juga menekankan bahwa sikap dan cara tim mengelola situasi sepanjang seri menjadi bagian dari kemajuan yang terlihat. Ia menegaskan, “There’s been a lot of chaos around this series before a ball was bowled and the way we’ve handled it on and off the field, the way everyone understands what is expected of them – both as a player and how we want to carry ourselves – is a really good thing,” dan menyebut bahwa target sejak awal adalah merebut kemenangan 3-0.

Tantangan yang dihadapi Inggris bukan hanya datang dari lapangan. Root menjelaskan bahwa sebelum bola pertama dimainkan, tim sudah menghadapi banyak kekacauan, termasuk dinamika internal dan insiden yang justru sempat menodai persiapan menjelang Test kedua melawan Selandia Baru.

Dalam periode itu, Root kembali memegang tanggung jawab sebagai kapten pada Test kedua melawan New Zealand di bulan Juni. Ia mengambil alih setelah Stokes tidak masuk tim usai melanggar jam malam (curfew), sementara Stokes kemudian pensiun setelah kekalahan seri dari New Zealand pada satu Test setelahnya. Setelah rangkaian tersebut, McCullum juga diberhentikan, dan Root diberi mandat penuh waktu sebagai kapten untuk kedua kalinya.

Dengan perubahan personel yang terjadi, Root—yang pernah menjadi Test captain dari 2017 hingga 2022—membawa nuansa lebih tenang dalam perannya. Laporan tersebut menyebut adanya tanggapan bahwa tim yang sempat dipertanyakan profesionalismenya kini terlihat lebih matang dan adaptif.

Namun, rangkaian perubahan tetap tidak berjalan tanpa sorotan. Menjelang Test kedua, persiapan sempat dibayangi insiden yang melibatkan bowler Brydon Carse di luar sebuah klub malam di Derby.

Di sisi permainan, sejumlah nama tampil menegaskan bahwa transisi tetap bisa produktif. Dan Lawrence masuk skuad menggantikan Stokes, dan penampilan Cox menjadi salah satu sorotan, sementara serangan pace empat pemain (four-man pace attack) tetap menjadi tumpuan—meski pada Jumat di Birmingham, Inggris menghadapi kesulitan ketika berhadapan dengan Pakistan lower order.

Menurut Root, yang paling menonjol justru perkembangan tim di luar lapangan. Ia menggarisbawahi bahwa Inggris belum berada pada kondisi final, namun proses pembentukan budaya sedang berjalan dan harus terus dirawat, “We’re not the finished article,” katanya, “We’re not going to kid ourselves. That’ll be a constant work [in progress].”

Root juga menegaskan bahwa budaya tim tidak bisa terbentuk instan. “The culture of this team is not something that’s going to happen overnight, it’s something we’re going to have to live and breathe day in, day out,” ujarnya, sebelum menambahkan, “But there’s no reason we can’t.”

Ia kemudian menutup penilaiannya dengan nada yang menekankan konsistensi kerja dan komitmen. “It’s a good set of lads, really good guys that work incredibly hard and performances like this and commitment to what we’re trying to achieve, both on and off the field, will be what earns trust and respect to everyone that supports us.”

Penilaian serupa turut diutarakan mantan kapten Inggris Michael Vaughan. Ia menyebut tim masih dalam tahap berkembang dan enggan menyimpulkan terlalu cepat, “We can’t judge this England team against Pakistan,” katanya, “Let’s not get too excited but what you see is a huge amount of talent.”

Vaughan menyoroti sejumlah pemain yang tampil dengan karakter berbeda. “You have Jordan Cox looking so calm,” ujarnya, lalu menyebut Root di posisi nomor empat sebagai yang ia nilai sebagai momen terbesar, “England’s greatest [Root] at number four, Harry Brook a generational talent, Dan Lawrence has fitted in lovely and Jamie Smith, whose keeping has been brilliant and batting has looked good.”

Meski demikian, Vaughan menekankan standar penilaian yang lebih berat. “The bowling attack has everything,” katanya, tetapi mengingatkan bahwa Inggris belum memenangkan seri Test lima pertandingan sejak 2017, “But they have not won a five-Test series since 2017. That is what you get judged on.”