jurnalistik.co.id – Roberto De Zerbi menilai kekalahan telak Tottenham Hotspur di Brentford bukan sekadar soal materi pemain atau besarnya dana belanja. Menurutnya, yang paling sulit dibenahi adalah mentalitas ketika tim mulai tertekan—karena uang tidak otomatis “menyembuhkan” pola kalah yang sudah mengakar.
Pelatih Spurs itu menyatakan dirinya menjalani peran yang lebih dekat dengan psikolog daripada pelatih murni. Ia pernah mengungkap bahwa tugasnya, setelah diangkat pada Maret, adalah menjaga tim tetap bersaing di papan atas melalui periode tujuh pertandingan. Target itu tercapai, tetapi hanya dengan sangat tipis, saat Spurs mampu menang atas Everton di laga terakhir.
Kendati demikian, saat pembenahan skuat selesai dan dana besar disuntikkan, gambaran yang muncul justru berlawanan. Pada hari pembuka Liga Premier musim ini, Spurs seolah kembali menunjukkan wajah lamanya—mereka kalah dengan cara yang membuat proses rebuild dipertanyakan.
De Zerbi menyebut kekalahan tersebut tidak sesuai harapan, terutama dari sisi cara tim merespons tekanan. Ia menilai Brentford lebih unggul pada setiap aspek, sementara Spurs terlihat “kapitulasi” pada tanda pertama gangguan ritme, hingga tim seperti dipacu sampai tercerai-berai.
Dalam penilaian De Zerbi, persoalan fisik juga ikut berperan. Ia menyinggung bahwa beberapa pemain datang lebih belakangan setelah tampil di Piala Dunia, termasuk pemain yang baru bergabung, sehingga kondisi mereka belum berada pada level yang tepat. Namun, pelatih asal Italia itu menegaskan bahwa faktor tersebut tidak cukup untuk menjelaskan kekurangan lain yang tampak, seperti minimnya ketahanan, kurangnya dorongan untuk bertahan, dan absennya resiliensi saat duel memanas.
De Zerbi: kalah duel jadi kunci
De Zerbi menilai laga berjalan buruk dari awal. Ia mengatakan Spurs kalah dan mengalami perbedaan dalam duel, menyebut momen itu menjadi “kunci” pertandingan. Ia juga menyatakan bahwa tim tidak berjuang dengan cara yang seharusnya, seraya memberi pujian pada kualitas Brentford.
Ia menambahkan bahwa kondisi fisik seluruh pemain tidak berada pada level yang tepat, mengingat banyak pemain yang bergabung setelah Piala Dunia serta adanya banyak wajah baru, baik di skuat maupun starting XI. Namun, ia menekankan Spurs perlu menganalisis pertandingan itu lebih baik, karena mereka tidak bisa bermain dengan model seperti itu dalam pertandingan tipe yang menuntut mentalitas dan intensitas tinggi.
Suasana di stadion memperlihatkan kontras yang tajam. Sejak awal, pendukung Spurs hadir dengan optimisme, menyambut rekrutan baru dengan meriah. Namun, menjelang akhir, para pemain justru memberikan tepuk tangan kepada sebagian kursi yang masih kosong, sementara beberapa penonton meninggalkan stadion lebih cepat, bahkan ada yang sudah pergi pada menit ke-49 ketika Michael Kayode membawa Brentford unggul 3-0.
Tottenham sempat punya momen yang bisa membuat cerita berbeda. Igor Thiago—yang biasanya diandalkan—mengirim bola mengenai tiang saat mengeksekusi penalti, tetapi hasil akhir tetap tidak memberi penghiburan bagi Spurs maupun bagi De Zerbi.
Di tengah sorotan, kehadiran musisi rock Jon Bon Jovi di tribun juga menjadi bagian dari warna hari itu. Spurs diberi materi yang cukup untuk lagu-lagu sedih berbalut power ballad, karena tim memulai pertandingan dengan buruk dan kemudian merosot cepat.
De Zerbi memberikan debut kepada empat pemain baru: Andrew Robertson, Marcos Senesi, Jan Paul van Hecke, dan Sandro Tonali. Ia berharap kedatangan mereka bisa menjadi pijakan untuk “naik dari titik terbawah”, tetapi tidak ada di antara mereka yang mampu tampil menonjol pada laga ini, meski bukan berarti pemain lain jauh lebih baik.
Berita Terkait
Tonali menjadi sorotan khusus. Ia didatangkan dari Newcastle United seharga £100 juta, namun dalam pertandingan itu ia terlihat kalah oleh Brentford—terutama oleh Mamadou Sangare yang disebut sebagai pembelian rekor klub dan tampil sebagai pemain paling menonjol. Kontribusi Tonali yang paling mudah diingat hanya berupa percobaan tendangan pada babak pertama yang melambung sangat jauh, memicu sindiran dari pendukung Brentford bahwa Spurs seperti membuang uang.
Selain itu, Matheus Fernandes—yang berlabel £85 juta dari West Ham United—masuk sebagai pemain pengganti. De Zerbi juga memberi sinyal bahwa Savinho, dan kemungkinan Omar Marmoush, akan menambah kekuatan tim. Tetapi, kekhawatiran terbesar bagi De Zerbi tetap sama: kurangnya “heart and fight”, keberanian dan perlawanan saat pertandingan menuntut mereka untuk bertahan.
Spurs tampak seperti versi lama
Dari menit pertama, Spurs menunjukkan kemiripan dengan musim-musim sebelumnya. Saat menghadapi tekanan, tim seperti kembali retak pada momen awal, sementara Brentford membaca kelemahan tersebut dan terus berburu celah yang mereka rasa bisa dieksploitasi.
Brentford juga seharusnya sudah unggul lebih cepat sebelum Keane Lewis-Potter membuka skor pada menit ke-12. Keunggulan itu kemudian makin mantap ketika Vitaly Janelt menggandakan keunggulan mereka sebelum jeda.
De Zerbi terlihat frustrasi dan aktif mencoba membangunkan tim, tetapi kepala-kepala pemain masih tertunduk. Tantangan fisik kerap kalah, dan putus asa menjadi karakter yang paling terasa, tanpa tanda jelas bahwa Spurs benar-benar percaya bisa mengejar situasi.
Selepas jeda, Conor Gallagher dan Lucas Bergvall tidak kembali, meski pemain lain semestinya bisa ikut merespons perubahan ritme. Bagaimanapun, De Zerbi tetap merasakan bahwa ia harus masuk ke kepala para pemain agar mereka memiliki kekuatan dan ketangguhan—sesuatu yang, menurutnya, tidak bisa dicapai hanya dengan “mengibaskan” amplop chequebook.
Ia juga menempatkan kekalahan ini dalam konteks awal musim. Spurs baru menjalani pertandingan pertama, dan banyak tim yang aspiratif memang pernah mengalami start buruk. Namun, menurut De Zerbi dan juga gambaran jalannya laga, kekalahan ini tampak seperti kelanjutan pola yang sudah membebani tim: kekalahan dan keputusasaan yang menumpuk.
Situasi itu memberi bayangan pada musim-musim terakhir Spurs, termasuk pada era pelatih-pelatih sebelumnya seperti Ange Postecoglou—yang setidaknya meraih trofi Liga Europa—lalu Thomas Frank, serta Igor Tudor dalam masa singkatnya yang digambarkan “blink and you’ll miss it”. Dalam sudut pandang De Zerbi, masalah yang tampak tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyulap skuat baru.
Ia mengungkapkan keterkejutannya atas hasil dan performa. De Zerbi menyatakan ia sudah tahu tim tidak berada pada kondisi yang tepat dan Spurs tidak bisa menemukan “prinsip” yang membuat mereka stabil saat menjalani rencana. Ia juga menegaskan bahwa Marcos Senesi, Jan Paul van Hecke, dan Sandro Tonali tidak dalam kondisi fisik terbaik, sehingga mereka harus memperbaiki hal itu serta banyak aspek lain seperti organisasi permainan dan pressing.
Meski klub mungkin masih menambah pemain, De Zerbi menolak jadikan starting XI sebagai alasan. Ia menilai semangat Brentford di lapangan adalah sesuatu yang harus dijadikan contoh bagi Spurs.
Baginya, kekalahan ini memperlihatkan bahwa persoalan Spurs berjalan lebih dalam daripada sekadar pergantian nama pemain. De Zerbi pun menegaskan bahwa ia harus menghapus “hantu” dari dua musim yang dipenuhi kekalahan—dan melakukannya dengan cepat.
Yang paling mendesak, menurutnya, bukan sekadar mengganti anggota tim, melainkan mengubah budaya yang membuat kekalahan seperti ini terasa menjadi hal yang biasa. Karena pada laga Brentford, yang terlihat bukan hanya kalah dalam skor, tetapi juga hilangnya mentalitas saat tim menghadapi tekanan.












