Peristiwa

Remaja 15 Tahun Diselamatkan setelah Berhari-hari Terombang di Perairan Alaska

×

Remaja 15 Tahun Diselamatkan setelah Berhari-hari Terombang di Perairan Alaska

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Teen boy rescued after days adrift in Alaskan waters

jurnalistik.co.id – Seorang remaja berusia 15 tahun berhasil diselamatkan setelah berhari-hari bertahan di perairan dingin Alaska, tepatnya di Laut Bering, setelah perahu kecil yang ditumpanginya terbalik.

Korban yang selamat, menurut pihak keluarga, bernama Derek Parker Aghnaanga. Ia ditemukan sebagai satu-satunya orang yang masih hidup dari insiden tersebut.

Dalam kecelakaan itu, dua penumpang lainnya meninggal dunia. Mereka adalah kakak serta sepupu Aghnaanga.

Kabar penyelamatan ini disampaikan oleh Penjaga Pantai Amerika Serikat (US Coast Guard). Tim menyatakan Aghnaanga berada di atas perahu yang terbalik selama beberapa hari.

Menurut US Coast Guard, ketiganya berangkat dari Pulau St Lawrence pada Jumat, 4 September. Mereka direncanakan kembali pada Minggu sore keesokan harinya.

Namun, kapal penangkap ikan sepanjang 18 kaki yang mereka tumpangi gagal kembali. Akibatnya, pencarian pun segera diluncurkan.

Pada Senin pagi, kru pesawat US Coast Guard berhasil menemukan Aghnaanga. Ia terlihat duduk di atas perahu yang telah terbalik di tengah perairan yang menggigilkan.

Setelah lokasi ditemukan, sebuah kapal milik warga setempat yang kebetulan berada di dekatnya atau “good Samaritan” menarik Aghnaanga ke tempat aman.

Kapal bantuan itu juga berhasil mengangkat jenazah dua kerabat Aghnaanga dari lokasi insiden. Dengan demikian, operasi penyelamatan tidak hanya membawa korban selamat, tetapi juga memulihkan sisa pencarian.

“Hati kami tersentuh untuk keluarga, teman, dan komunitas yang terdampak oleh duka mendalam atas hilangnya dua awak kapal ini,” ujar Rear Adm. Bob Little, komandan US Coast Guard Wilayah Arktik.

US Coast Guard menyebut remaja tersebut menunjukkan tanda-tanda hipotermia saat ditemukan. Artinya, tubuhnya mengalami penurunan suhu akibat paparan cuaca dan air yang sangat dingin.

Di sisi lain, kapten kapal penangkap ikan yang menarik Aghnaanga menjelaskan detail ketahanan sang remaja selama masa tunggu. Ia menyampaikan bahwa Aghnaanga berhasil bertahan tanpa banyak kemungkinan keselamatan sampai akhirnya ditemukan.

Kapten Adam White mengatakan kepada KTUU-TV bahwa remaja itu tetap menggenggam perahu kecil meski malam turun dan kondisi air tetap sangat dingin. Suhu air disebut sekitar 50°F atau 10°C.

Menurut White, Aghnaanga terus bertahan sambil merasakan tubuh gemetar kedinginan. Di tengah kondisi tersebut, ia sempat menyebut bahwa kakaknya masih berada di bawah perahu yang terbalik.

White juga menambahkan bahwa sebelum tim penyelamat melakukan pengambilan, Aghnaanga sempat melaporkan sesuatu yang terjadi pada malam sebelumnya: sepupunya dikabarkan sudah terlepas dan jatuh menjauh.

Insiden bermula pada Sabtu ketika perahu terbalik. Setelah kejadian itu, Aghnaanga harus menghadapi kenyataan tanpa makanan dan tanpa air selama dua hari di laut.

Hal tersebut disampaikan ibunya melalui unggahan di Facebook. Dalam tulisannya, ia menyebut bahwa Aghnaanga bertahan dengan hanya mengandalkan keberanian dan daya tahan selama berhari-hari.

Ibunya, Vina Kulowiyi, menjelaskan bahwa putranya tengah memulihkan diri di rumah. Ia menulis bahwa Aghnaanga adalah satu-satunya yang selamat dan menilai kisahnya luar biasa.

“Yang selamat saya,” tulis Kulowiyi. Ia juga menyampaikan bahwa anaknya tidak pernah terlihat takut sepanjang waktu, meski berada dalam kondisi yang sangat berat.

Kulowiyi menambahkan bahwa Aghnaanga “berdoa sepanjang waktu” selama menunggu pertolongan. Pernyataan itu menggambarkan keteguhan remaja tersebut dalam situasi yang nyaris tanpa bantuan.

Selain rincian proses penyelamatan, keluarga juga menempatkan insiden ini dalam konteks kehidupan komunitas setempat. Kulowiyi menyebut para putranya melakukan pekerjaan yang mereka cintai, yakni memancing, untuk memenuhi kebutuhan anggota komunitas.

Ia menjelaskan bahwa sebagian warga tidak selalu memiliki akses mudah terhadap daging di toko lokal. Karena itu, kegiatan berburu dan memancing menjadi cara penting untuk memastikan keluarga-keluarga bisa mendapat pasokan makanan.

Kulowiyi juga menyebut Savoonga sebagai kampung tempat keluarga tersebut tinggal. Ia menggambarkan Savoonga sebagai desa dengan sekitar 800 penduduk di Pulau St Lawrence, yang berada di luar pantai Alaska.

Menurut keterangannya, Savoonga terutama dihuni oleh masyarakat Siberian Yupik. Dalam keseharian, Bahasa Inggris dan Bahasa Yupik dari Pulau St Lawrence disebut sebagai bahasa utama yang digunakan di wilayah itu.

Dalam unggahannya, Kulowiyi menuturkan bahwa kedua anak laki-lakinya dilahirkan dan dibesarkan untuk menjadi “penyedia” bagi orang-orang di sekitarnya. Ia menyatakan tradisi tersebut diwariskan dari generasi ke generasi.

Ia menegaskan bahwa mereka berburu dan menyediakan kebutuhan keluarga sekaligus berbagi dengan komunitas. Dengan begitu, musibah yang menimpa keluarga Aghnaanga bukan hanya peristiwa pribadi, tetapi juga mengguncang cara hidup dan solidaritas di lingkungan setempat.

US Coast Guard memastikan operasi pencarian dilakukan setelah kapal tidak kembali sesuai jadwal. Temuan pada Senin pagi akhirnya membawa akhir pada bagian paling genting—menyelamatkan satu-satunya remaja yang bertahan—setelah perahu yang mereka tumpangi terbalik di perairan dingin Laut Bering.