Olahraga

FA Cup: “Hitchy is always with us” — mengenang penjaga gawang Barton Town, James Hitchcock

×

FA Cup: “Hitchy is always with us” — mengenang penjaga gawang Barton Town, James Hitchcock

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Hampir dua tahun setelah kematiannya, penjaga gawang non-liga Barton Town, James Hitchcock, masih terus dikenang oleh keluarga, rekan setim, hingga komunitas sepak bola yang kini merawat ingatan itu dari pekan ke pekan.

Nama “Hitchy” tetap hidup di kamar ganti, di stadion berkapasitas sekitar 3.000 penonton, dan pada jersey klub yang menampilkan tanda khusus di bagian belakang. Kini, memori tersebut kembali menonjol saat Barton Town bersiap menghadapi Chorley pada babak kualifikasi ketiga Piala FA, sebuah pertandingan besar dalam sejarah klub tingkat sembilan.

“Hingga sekarang, lebih dari 18 bulan setelahnya, kenyataan itu belum sepenuhnya saya pahami,” ujar Chris Hitchcock. Ia berbicara tentang kehilangan putranya, yang meninggal setelah dipukul sekali di kepala dalam sebuah serangan yang tidak diduga.

James dikenal sebagai sosok yang dekat dengan keluarga dan rekan-rekannya. Kepada orang-orang terdekat, ia akrab dipanggil “Hitchy”. Ia meninggal pada Desember 2024, tepat sebelum menjalani musim Natal pertamanya sebagai ayah, setelah Freddie lahir enam bulan sebelumnya.

Kematian itu tidak hanya menghantam Chris dan April Hitchcock, tetapi juga mengguncang atmosfer ruang ganti Barton Town. Anthony Bowsley, manajer klub, mengaku proses berdamai dengan kenyataan belum selesai.

“Sebelum mulai membicarakannya lagi, rasanya hampir tidak nyata,” kata Bowsley, menggambarkan bagaimana luka itu masih terasa di tiap percakapan tentang James.

Sebelum serangan, James masih menunjukkan kualitas

Serangan yang merenggut nyawanya terjadi sehari setelah pertandingan terakhirnya. Pada laga tandang melawan Bottesford Town yang berakhir 1-1 di Northern Counties East League Premier Division, James melakukan penyelamatan penting.

Bowsley menuturkan momen itu: saat James turun dari lapangan, ia sempat memuji kualitas penyelamatannya, menyebut nama Nigel Martyn karena James adalah penggemar Leeds United. Itu menjadi salah satu momen terakhir yang akan dikenang sebelum hari buruk datang.

James sendiri sedang dalam perjalanan pulang ke rumah setelah berkunjung bersama teman-temannya. Pada hari berikutnya, ia diserang dari belakang di York Railway Station. Setelah dipukul, ia kemudian meninggal dunia di rumah sakit.

Vonis pengadilan dan dampak bagi keluarga

Di persidangan, terungkap bahwa James mengalami retak pada tengkorak serta kerusakan otak ketika ia jatuh setelah dipukul pada sisi kanan bagian belakang kepalanya.

Pelaku, McKenzie Dicicco, dipenjara selama enam tahun delapan bulan pada Juli 2025 setelah mengaku bersalah atas pembunuhan dengan kelalaian (manslaughter). Hakim Guy Kearl menggambarkan serangan itu sebagai “serangan pengecut, disengaja, dan kejam” terhadap seorang pria yang tidak memiliki kesempatan untuk membela diri.

April, yang menikah dengan James pada Juli 2022, merasakan dampak kehilangan itu secara mendalam. Ia menggambarkan dirinya berada dalam kondisi seperti tersesat dan sendirian, setelah “cinta hidupnya” diambil dengan cara yang sangat egois.

Ketika menerima kabar pada malam itu, April mengaku sempat menunggu dengan harapan bahwa James hanya mengalami gegar otak. Ia menceritakan ia baru saja menidurkan Freddie ketika menerima telepon bahwa James telah dipukul, dalam keadaan tidak sadar, dan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.

“Saat itu saya pikir itu gegar otak, dan saya harus menyiapkan tas karena saya mengira ia mungkin hanya akan dirawat satu atau dua hari,” katanya. Setelah tiba, ia diberi penjelasan bahwa James harus dipindahkan ke unit perawatan intensif di Hull Royal Infirmary.

April menambahkan bahwa James sempat bertahan dengan bantuan mesin penunjang hidup sampai akhirnya kehilangan pertarungan.

Di lapangan, rasa kehilangan juga terlihat jelas dari hal-hal kecil. April menggambarkan kesedihan saat melihat tempat James biasa berdiri di bawah mistar: “Sungguh menyedihkan melihat posisi itu dan bertanya, ‘di mana dia?’ Ia seharusnya ada di sana.”

Kenangan yang dirawat melalui simbol klub

Para rekan James menggambarkan dirinya sebagai sosok yang mudah membuat suasana mencair. Jack Bulless, defender Barton Town, mengaku merasakan keterkejutan yang datang tanpa bisa dipercaya, karena James bahkan masih sempat menjalani keseharian sebagai teman yang dekat.

Bulless sendiri seharusnya ikut dalam rombongan kunjungan ke York, tetapi ia batal karena sakit. Andy Norfolk yang berangkat bersama James menceritakan detail hari terakhir itu: di bar yang mereka datangi, pertandingan Manchester derby tampil di layar, dan perjalanan itu memang dirancang seperti pertemuan tahunan menjelang Natal.

Norfolk menuturkan mereka kembali ke stasiun lebih awal untuk pulang dan ia kemudian harus naik taksi ke Hull karena kereta berikutnya baru akan berangkat sejam kemudian. Ia masih mengingat bahwa Hitchy menyebut rencananya untuk mencari makanan setelah perjalanan.

Belakangan, ingatan Norfolk menjadi kenyataan yang sulit diterima, sebab itulah pertemuan terakhirnya dengan James.

Barton Town juga mengunci memori itu dalam bentuk simbol. Di jersey klub, terdapat “Hitchy #1” yang dijahit pada bagian belakang, dan Bowsley menyebutnya sebagai sesuatu yang indah untuk dibawa bersama. Norfolk menambahkan bahwa ia selalu meluangkan waktu sebelum pertandingan untuk “berbicara” dengan Hitchy dalam hitungan sepuluh detik sebelum mengenakan kostum.

Selain itu, ada plakat di pintu masuk menuju terowongan pemain untuk menghormati James. Dua klub yang pernah menjadi bagian perjalanan James—Bridlington Town dan Barton Town—juga bertemu setiap tahun dalam James Hitchcock Memorial Trophy untuk mengumpulkan dana bagi Victim Support National Homicide Service.

Perjalanan pulih yang tidak pernah benar-benar selesai

Chris Hitchcock, ayah James, mengaku hidupnya berubah selamanya karena “satu tindakan yang tidak masuk akal.” Ia bahkan menggambarkan kondisinya dengan kalimat singkat: “Saya tidak hidup lagi—saya hanya ada.”

Namun ia tetap mencoba bertahan dengan cara kembali pada rutinitas yang pernah menolongnya. Ia dulu membawa James ke Elland Road untuk menyaksikan Leeds United, termasuk era David O’Leary di akhir 1990-an. Setelah James wafat, Chris sempat kembali menjadi wasit dan asisten wasit.

Ia menyatakan bahwa meski pekerjaannya berat, tetap ada manfaat karena kejadian yang terus terbayang itu menjadi bagian dari pikirannya setiap hari.

Sementara itu, April tetap menjaga kenangan James dengan melibatkan Freddie dalam aktivitas sepak bola. Ia berkata ia ingin anaknya tumbuh dalam dunia yang mengenal ayahnya, serta memastikan Freddie terlibat seluas mungkin seperti yang dilakukan James saat masih hidup.

“James itu begitu mudah dicintai,” ujar April, mengingat sosok yang selalu tersenyum dan memiliki tawa yang menular. Ia menjelaskan bahwa setelah kejadian seperti ini, hubungan menjadi lebih erat, dan komunitas sepak bola—khususnya Barton Town—tidak melupakan James.

April menegaskan mereka bahkan menawarkan nama James dipasang di bagian belakang jersey, dan ia menyebut dukungan itu sebagai cara klub menunjukkan betapa dekatnya mereka dengan sosok yang telah pergi.

Di tengah semua kesedihan, Barton Town tetap meneruskan pengabdian pada ingatan James—bukan sebagai akhir dari cerita, melainkan sebagai cara untuk memastikan “Hitchy” terus “berada” di ruang, di stadion, dan di hati orang-orang yang pernah bersamanya.