Olahraga

Fury vs Joshua: kompromi dan pertarungan kepentingan di balik duel kelas berat

×

Fury vs Joshua: kompromi dan pertarungan kepentingan di balik duel kelas berat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Fury vs Joshua: The compromises & power struggles that shaped heavyweight fight

jurnalistik.co.id – Tak lama setelah bertahun-tahun gagal menemukan titik temu, Tyson Fury dan Anthony Joshua akhirnya akan saling berhadapan di atas ring. Duel kelas berat itu dijadwalkan pada 11 Desember di Stadion Principality, Cardiff, dengan kapasitas 80.000 penonton serta disiarkan secara global oleh Netflix.

BBC Sport memahami bahwa gelar kelas berat WBA “Super” diperkirakan menjadi taruhan. Namun, konfirmasi dari otoritas belum keluar, dan apa yang diperebutkan di sepanjang negosiasi ternyata jauh melampaui sekadar sabuk.

Dari pengumuman yang datang pada Kamis, terlihat jelas bahwa jalan menuju pertarungan ini dipenuhi tarik-menarik kepentingan. Kompromi yang dibicarakan berkali-kali muncul sebagai kata kunci, seiring rumor, bantahan, dan klaim dari masing-masing kubu soal siapa yang “mendorong” laga agar benar-benar terjadi.

Kompromi soal lokasi: siapa mengalah, siapa bersikeras

Promotor Fury, Frank Warren, berulang kali menekankan konsep kompromi ketika berbicara kepada BBC Sport. Ia menyatakan, “Everybody’s got to make a compromise,” lalu menambahkan, “Tyson really compromised. He didn’t dig his heels in.”

Warren menjelaskan bahwa Fury bersedia menyesuaikan diri dengan keinginan pihak lain demi memastikan laga tidak runtuh. Ia menyebut, “Fine, wherever they want it, I’ll do it. If they want me to go to New York, I’ll go. They want it in the UK, I just want to get the fight on.”

Menurut Warren, persoalan terbesar ada pada venue. Ia mengklaim Netflix menginginkan laga berlangsung di New York, sementara Joshua, yang berusia 36 tahun, ingin bertanding di Inggris.

Dari kubu Joshua, narasi yang muncul justru menyoroti keteguhan sikap. Promotor Joshua, Eddie Hearn, menggambarkan upaya agar pertarungan tetap digelar di Inggris sebagai “a two-man crusade,” sembari mengutip sikap Joshua yang menolak uang agar tetap berlaga di tanah sendiri.

Hearn mengatakan kepada Matchroom YouTube channel, “AJ has turned down money to keep it in the UK,” dan menegaskan alasan moral di balik penolakan tersebut. Ia menyebut, “I wouldn’t be able to look people in the eye if I was part of the movement to take this to the US.”

Hearn juga menyatakan bahwa Joshua secara spesifik meminta perlindungan untuk pertarungan di Inggris dalam kontraknya, serta tidak mau mundur. Ia menuturkan, “We were under so much pressure to fold,” sebelum menekankan bahwa “It was only really the support of the British public that made Joshua stand 10 toes down and say no.”

Warren melihatnya dengan cara yang berbeda. Ia berpendapat bahwa Fury seharusnya bisa saja mengunci posisinya sesuai kontrak, tetapi memilih menerima lokasi di Inggris agar pertarungan tetap berjalan.

“Sideshow” kekuasaan di balik promosi: dari Alalshikh hingga Dana White

Di luar debat lokasi, ada pula perebutan pengaruh yang mewarnai promosi. Turki Alalshikh, sosok berpengaruh di dunia tinju Arab Saudi, diumumkan sebagai pihak yang sejak awal membicarakan laga ini. Ia bahkan sebelumnya menyatakan bahwa kepastian terkait pertarungan akan datang dari dirinya.

Dalam pernyataan yang dikutip, Alalshikh menuliskan: “For 15 years no-one has been able to make this fight.” Ia menegaskan pula bahwa pada April pihaknya mengatakan, “Back in April, I said that any announcement would come from me.”

Alalshikh kemudian mengonfirmasi bahwa Fury v Joshua akan digelar di Inggris, seraya menyatakan, “I can now confirm that Fury v Joshua will be coming to the UK, as I promised British boxing fans.” Ia menutup dengan nada tegas, “The time for talking is over.”

Keterlibatan Dana White juga menjadi bagian yang menarik, karena ia merupakan figur UFC yang memiliki kemitraan melalui Zuffa Boxing. White tampil menonjol dalam pengumuman, sementara Netflix menyebut acara tersebut sebagai kolaborasi yang melibatkan White dan Alalshikh’s The Ring.

Hearn dan Warren tidak hadir dalam konferensi kabar di London, padahal pernyataan keduanya sebelumnya pernah saling bertentangan soal keterlibatan White. Hearn sempat menyebut bahwa White tidak akan terlibat dalam mempromosikan laga, sedangkan Warren mengaitkan hal itu dengan isi kontrak kedua petarung.

Menanggapi dinamika tersebut, Warren mengatakan fans mungkin tidak terlalu memikirkan politik promosi. Ia berkomentar, “I don’t know whether he will be front and centre or not,” sekaligus menyebut bahwa White akhirnya turut membantu mengamankan kesepakatan dengan Netflix.

Cardiff, jam ringwalk, dan pertaruhan di ujung karier

Bahkan soal stadion, klaim-klaim berbeda tetap bermunculan. Hearn mengaku mendorong Stadion Principality dalam beberapa pekan terakhir, sementara Warren menyebut Queensberry dan perusahaan acara Saudi, Sela, mengerjakan langkah “quietly” selama beberapa bulan bersama pihak stadion dan otoritas setempat.

Atap stadion yang dapat ditutup membuat venue ini dinilai cocok untuk acara Desember. Ada juga preseden yang dianggap relevan: kemenangan Joe Calzaghe atas Mikkel Kessler pada 2007 berlangsung dengan atap tertutup, dan duel dimulai setelah pukul 01:00 GMT agar sesuai televisi Amerika.

Untuk Fury-Joshua, pola serupa diperkirakan akan diikuti. Namun, waktu ringwalk tetap berada dalam kendali Netflix. Hearn menyebut pemahamannya sekitar “01:00 or 01:30 GMT,” sedangkan Warren menutup peluang jadwal yang terlalu malam, seraya menolak apa pun sampai “04:00”.

Warren menambahkan alasannya dengan nada kompromi, “If it went on in America you’d be watching it five o’clock in the morning.” Ia menegaskan lagi, “It’s a compromise and it’s an event.”

Di sisi kontrak, Hearn menyatakan tidak ada klausul rematch. Ia menuturkan, “We’re coming in for the kind of victory that no-one will need to see the fight again.”

Warren menilai pemenang masih memiliki jalan untuk mengejar peluang gelar dunia berikutnya. Sebaliknya, bagi yang kalah, ia memperkirakan perjalanan bisa berakhir di Cardiff, apa pun yang terjadi pada akhirnya nanti.

Duel yang selama ini selalu menjadi cerita tentang “apa yang mungkin terjadi” kini berubah menjadi kenyataan. Dalam hitungan tujuh minggu lebih, yang tersisa hanyalah dua petarung yang berdiri di tempat yang sama: Fury dan Joshua, tanpa negosiasi lagi, tanpa klaim lagi, dan tanpa skenario hipotetis.