jurnalistik.co.id – Inggris sempat mencoba membangun kembali kepercayaan diri dengan mengusung gagasan “embrace the chaos” menyusul kekecewaan besar di semifinal Piala Dunia lawan Argentina. Namun, ketika mereka menjamu Spanyol di Wembley, Thomas Tuchel harus menerima pelajaran keras: kekacauan tanpa kontrol hampir selalu menjadi resep kekalahan di level elite.
Pertandingan Nations League itu mempertemukan Inggris dengan juara dunia serta juara Eropa yang sedang berada dalam ritme kemenangan panjang. Spanyol membuktikan bahwa mereka bisa mengendalikan tempo sekaligus menekan momen-momen krusial, sementara Inggris tetap mencari bentuk terbaik untuk meraih trofi besar—yang dalam sejarah tim putra Inggris sudah lama tak mereka rasakan sejak Piala Dunia 1966.
Meski begitu, Inggris tidak tampil pasrah sejak awal. Mereka sempat memegang kendali pada momen tertentu dan memberi ancaman nyata, terutama ketika permainan mereka mulai keluar dari tekanan awal.
Kesalahan cepat Spanyol, respons Inggris setelahnya
Keunggulan awal Spanyol datang sangat cepat. Marc Guehi melakukan giliran yang dinilai “inexplicable” dan justru memberi ruang bagi Lamine Yamal membuka skor hanya dua menit setelah laga berjalan.
Setelah gol itu, Inggris masih punya momen untuk bertahan dari gempuran. Ferran Torres sempat melihat satu golnya dianulir karena offside, lalu upayanya juga mentok pada penyelamatan bagus dari penjaga gawang Inggris, James Trafford.
Walau tertinggal, Inggris mampu membalikkan suasana menjelang jeda. Anthony Gordon menutup peluang dengan tenang untuk membuat Inggris unggul, sementara Harry Kane menambahkan gol melalui sundulan yang mengalami defleksi.
Namun, babak kedua mengubah arah cerita. Tepat setelah jeda, Kane gagal mengeksekusi penalti; bola mengenai mistar, dan pada momen tersebut Kane sempat tergelincir serta menyentuh bola dua kali sebelum akhirnya tembakannya melenceng dari hasil yang diharapkan.
Berita Terkait
Kesalahan lain kembali memberi ruang bagi Spanyol. Nico O’Reilly kehilangan bola dalam proses membangun serangan yang berujung pada gol penyama kedudukan Alex Baena, sebelum Mikel Oyarzabal—yang pernah menjadi pencetak gol penentu di final Euro 2024 melawan Inggris di Berlin—menyelesaikan kemenangan pada menit ke-74.
Dengan hasil 3-2 tersebut, Spanyol melanjutkan rangkaian tanpa kekalahan mereka menjadi 39 pertandingan. Di sisi lain, Inggris merasakan lagi bagaimana detail kecil dapat mengunci nasib pertandingan, meski mereka sempat tampil berani setelah periode pembuka yang goyah.
Secara khusus, laga ini juga menyingkap problem pertahanan Inggris yang mudah “dipotong” ketika ritme teknis lawan lebih rapi. Tuchel menilai aspek defending dan deep block berjalan baik, tetapi mengakui pengecualian pada gol ketiga yang datang ketika Inggris terbuka di bagian tengah.
Menurut Tuchel, Inggris memang mencoba memadukan struktur ofensif yang jelas dengan perpindahan sisi dan dorongan bek sayap untuk menciptakan perbedaan. Ia menyebut Spanyol berhasil unggul terutama dalam eksekusi teknis, khususnya pada 20 meter terakhir.
Meski demikian, Tuchel mempertanyakan istilah “chaos” yang disematkan kepada Inggris. Ia mengatakan kepada BBC Radio 5 Live bahwa ia tidak yakin benar ada banyak kekacauan, dan justru menyoroti banyaknya upaya pemulihan bola dari bola-bola tinggi di area lawan, bahkan ia menyebut jumlahnya 15 lebih banyak dibanding Spanyol pada keseluruhan paruh pertama.
Di kubu Inggris, Harry Kane menutup perdebatan dengan cara yang lebih realistis. Ia menyatakan bahwa di laga ini mereka sempat menemukan level permainan yang baik seperti saat Piala Dunia, tetapi kembali belum mampu menyusun “full 90 minutes” dengan utuh.
Kane juga mengakui bahwa ada periode yang mereka jalani dengan kualitas yang mereka tahu bisa mereka capai, termasuk ketika pertandingan terasa seperti tanding penuh melawan juara dunia dan juara Eropa. Ia menambahkan, “On another day we could have won,” namun pada pertandingan ini hari lain itu tidak datang.
Di tengah semua itu, beberapa nama tetap menonjol sebagai penyelamat moral bagi Inggris. Anthony Gordon menunjukkan performa luar biasa, sementara Jude Bellingham—meski pada akhirnya tetap kalah—menjadi sosok yang tanpa henti menggerakkan tim.
Namun, pada akhirnya, pelajaran yang tersisa bukan sekadar soal berani memainkan “kekacauan”. Kekacauan saja tidak otomatis membawa trofi besar, dan Spanyol—dengan kontrol, ritme, serta eksekusi—sekali lagi membuktikan mengapa mereka tetap menjadi pemenang berulang.












