jurnalistik.co.id – Panel independen Premier League telah menyatakan Manchester City bersalah atas pelanggaran mayoritas dari 115 aturan keuangan yang sebelumnya mereka hadapi. Keputusan itu disebut menemukan City bersalah di semua hitungan kecuali satu.
Menurut laporan The Athletic, sanksi yang mungkin dijatuhkan belum ditentukan. Namun, inti putusan yang berkaitan dengan kesalahan klub sudah mengerucut pada hasil tersebut setelah proses yang panjang.
Proses masih berjalan dan City menegaskan akan menempuh langkah hukum
Pihak Premier League tidak memberikan komentar atas pemberitaan putusan panel. Saat dimintai konfirmasi, City juga tidak merespons secara langsung, melainkan menyampaikan pernyataan yang menekankan bahwa tahapan lanjutan tetap berlangsung.
Dalam rilisnya, City menyatakan proses Premier League “remains ongoing with significant elements to be completed, and subject to strict confidentiality”. Klampauan informasi, termasuk detail yang masih diselesaikan, disebut menjadi bagian dari kerangka kerahasiaan yang ketat.
City juga menyoroti sikap mereka selama delapan tahun, dengan menyebut bahwa klub “has diligently respected due process for eight years on the basis that the Premier League board and executive would behave as an independent, impartial and fair-minded regulator, free from partisan influence”. Pernyataan ini menegaskan bahwa mereka meyakini otoritas liga bersikap netral selama proses berjalan.
Lebih jauh, City diberi tahu bahwa bila akhirnya dinyatakan bersalah, mereka akan melakukan banding terhadap temuan tersebut. Langkah banding itu menjadi sinyal bahwa perselisihan dapat terus berlanjut setelah fase putusan panel.
Klub lain disebut menimbang potensi gugatan kompensasi
Sejumlah klub Premier League lainnya dikabarkan telah mendapat informasi terkait keputusan panel independen. Dari situ, mereka kemudian mencari nasihat hukum untuk menilai kemungkinan klaim kompensasi.
Artinya, dampak dari putusan ini tidak hanya memengaruhi Manchester City, tetapi juga berpotensi menimbulkan perdebatan lanjutan di internal liga terkait konsekuensi dan ruang hukum yang tersedia bagi pihak-pihak lain.
Awal kasus: tuduhan lebih dari 100 pelanggaran pada 2023
Perkara ini bermula ketika pada Februari 2023 Manchester City didakwa melakukan lebih dari 100 pelanggaran terhadap aturan keuangan Premier League. Tuduhan tersebut muncul setelah investigasi yang berlangsung selama empat tahun.
Klub kemudian dirujuk ke sebuah komisi independen terkait dugaan pelanggaran aturan keuangan pada rentang 2009 hingga 2018. Proses persidangan dilakukan secara tertutup dan baru dimulai pada September 2024 sebelum berakhir pada Desember, setelah sekitar 12 minggu pemeriksaan.
Pihak Premier League menyebut bahwa City melanggar aturan yang mewajibkan klub menyediakan informasi keuangan yang akurat sehingga memberikan gambaran yang “true and fair view” terhadap posisi finansial. Penekanan pada kualitas informasi menjadi salah satu titik sentral dalam penilaian pelanggaran.
Manchester City sebelumnya membantah semua tuduhan. Klub menyatakan bahwa kasus mereka didukung oleh “a comprehensive body of irrefutable evidence”. Dengan kata lain, City menilai bukti yang mereka ajukan cukup kuat untuk membantah seluruh dakwaan.
Selain itu, City juga mengingat capaian mereka pada periode yang dicakup dakwaan, termasuk delapan trofi: tiga gelar Premier League, tiga Piala Liga, satu Community Shield, dan satu Piala FA. Penyebutan capaian ini menggambarkan bahwa rentang waktu dakwaan mencakup fase dominan secara olahraga.
Rentang pelanggaran dan masa jabatan yang tercakup
Berita Terkait
Rangkaian tuduhan yang dilontarkan menyoroti era manajerial Roberto Mancini dan Manuel Pellegrini, serta dua tahun awal masa kepelatihan Pep Guardiola. Guardiola disebut meninggalkan klub setelah menjalani 10 musim, tepatnya pada akhir kampanye 2025-26.
Dengan demikian, fokus pengujian bukan semata pada kebijakan saat ini, melainkan pada bagaimana klub memenuhi ketentuan pada rentang musim tertentu dan dalam periode investigasi yang disebutkan oleh Premier League.
Kasus terpisah soal aturan Associated Party Transaction
Selain perkara dakwaan utama, ada pula kasus terpisah antara Manchester City dan Premier League yang diadili tahun lalu. Pada 2024, panel arbitrase independen menyatakan tidak mendukung aspek tertentu terkait aturan Associated Party Transaction (APT) setelah City mengajukan tantangan arbitrase.
Lalu, pada Februari 2025, sebuah tribunal memutus bahwa aturan Premier League untuk kesepakatan sponsor pada periode 2021 hingga 2024 dinilai “void and unenforceable”. Putusan ini berkaitan dengan kesahihan aturan yang dipakai dalam konteks sponsor pada rentang waktu tersebut.
Selanjutnya, pada September 2025 Manchester City dan Premier League mencapai kesepakatan. Dalam kesepakatan itu, klub menerima bahwa aturan APT adalah valid dan mengikat, sementara kedua pihak sepakat menghentikan proses hukum yang sedang berjalan.
Premier League sendiri membentuk aturan-aturan tersebut untuk mencegah klub meraih keuntungan dari transaksi komersial bersama perusahaan yang memiliki hubungan dengan pemilik klub, terutama bila dianggap berada di atas nilai wajar atau “fair market value”.
Rincian tuduhan: dari akurasi informasi sampai kegagalan kooperasi
Dalam dakwaan yang mencakup 115 aturan keuangan, terdapat beberapa kelompok pelanggaran. Dari total tersebut, ada 54 hitungan terkait kegagalan memberikan informasi keuangan yang akurat pada rentang 2009-10 hingga 2017-18.
Selain itu, 14 hitungan menyangkut kegagalan memberikan rincian yang akurat terkait pembayaran pemain dan manajer pada rentang yang sama, yaitu 2009-10 hingga 2017-18.
Dalam kelompok lain, ada 5 hitungan terkait kegagalan mematuhi aturan UEFA, termasuk Financial Fair Play (FFP), pada rentang 2013-14 hingga 2017-18. Sementara itu, 7 hitungan lainnya terkait pelanggaran Profitability and Sustainability Rules (PSR) Premier League pada rentang 2015-16 hingga 2017-18.
Bagian yang cukup besar juga muncul dari tuduhan 35 hitungan atas kegagalan bekerja sama dengan investigasi Premier League pada periode Desember 2018 hingga Februari 2023. Pada tahap ini, pemenuhan kewajiban kooperasi menjadi salah satu faktor yang dinilai oleh otoritas liga.
Tak hanya itu, sejumlah pihak juga sempat menyebut jumlah tuduhan bisa mencapai 130. Keterangan tersebut datang dari Times dan pakar keuangan sepak bola Kieran Maguire, tetapi BBC Sport menyatakan tidak dapat memverifikasi klaim tersebut.
Konsekuensi berikutnya masih menunggu keputusan sanksi
Walau panel independen telah menyatakan City bersalah atas mayoritas aturan yang dituduhkan, keputusan sanksi disebut belum diputus. Dengan demikian, langkah-langkah berikutnya—termasuk potensi banding—akan menentukan arah proses ini di fase selanjutnya.
Sementara Premier League dan City memilih tidak memberikan komentar rinci di luar pernyataan resmi, tanda-tanda keterlibatan klub lain melalui konsultasi hukum menunjukkan bahwa putusan ini dapat memicu rangkaian diskusi lanjutan di ekosistem Premier League.
Di tengah semua itu, inti persoalan tetap pada kesesuaian klub terhadap aturan finansial dan cara penyusunan informasi keuangan dalam rentang waktu yang telah ditetapkan. Keputusan panel menjadi titik baru dalam perjalanan perkara, tetapi ujungnya—berupa bentuk konsekuensi—masih menunggu kelanjutan proses yang dimaksud City sebagai tahapan yang belum sepenuhnya selesai.











