Olahraga

Tottenham Kalah 2-3 dari Aston Villa, Spurs Belum Tunjukkan Tanda Pulih

×

Tottenham Kalah 2-3 dari Aston Villa, Spurs Belum Tunjukkan Tanda Pulih

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tottenham 2-3 Aston Villa: No sign of recovery from struggling Spurs

jurnalistik.co.id – Tottenham Hotspur menelan kekalahan 2-3 di kandang sendiri saat menjamu Aston Villa, dan hasil itu membuat laju mereka di Premier League makin sulit dibendung—tanpa tanda pemulihan yang jelas bagi Spurs yang sedang terpuruk.

Bermain di Tottenham Hotspur Stadium, tim asuhan Roberto De Zerbi sempat terlihat kompetitif, namun ritme itu runtuh setelah gol-gol Villa datang pada momen krusial. Spurs tetap menghadapi pekerjaan berat saat memasuki jeda internasional tiga pekan, masih menunggu kemenangan pertama mereka musim ini.

Gol datang ketika Spurs tak lagi menemukan pijakan

Villa terlihat lebih siap memanfaatkan situasi. Zion Suzuki, penjaga gawang Villa, menghentikan peluang ketika Tottenham mulai menekan, termasuk upaya Savio dan Archie Gray. Setelah itu, Spurs memang mendapatkan penguasaan permainan yang lebih baik di awal, tetapi tanpa gol membuat mereka rentan saat Villa bertransisi.

Di akhir babak pertama injury time, pola rapuh Spurs berbuah menjadi gol. Andy Robertson berupaya menghentikan sebuah situasi sudut, namun bola justru berakhir mengarah ke John McGinn. Dari rangkaian itu, Boubacar Kamara sempat mencoba, lalu Johan Manzambi menyelesaikan dengan sentuhan dari jarak dekat.

Kekalahan makin terasa pahit karena momen tersebut turut mengiringi masalah fisik untuk Van de Ven. De Zerbi kemudian harus menghadapi fakta bahwa Spurs tidak hanya kehilangan keunggulan, tetapi juga sedang terganggu dalam komposisi saat pertandingan berjalan.

Keunggulan Villa melebar, Spurs nyaris tak sempat kembali

Babak kedua membawa perubahan, tetapi Villa tetap menancapkan kendali. Setelah Kudus diklaim mampu menyamakan kedudukan pada menit yang didorong sebagai momen penting, Robertson dinyatakan berada dalam posisi offside saat melakukan umpan silang—sehingga gol itu tidak disahkan.

Tujuh menit setelahnya, Villa benar-benar menutup harapan Spurs. Nicolas Jackson mencetak gol dari long launch Suzuki ke ruang jauh di lini belakang, dan skor berubah menjadi 3-0 bagi tim tamu—membuat pertandingan terasa semakin tertutup.

Tottenham baru menunjukkan respons berarti saat Emi Buendia mencetak gol pada menit ke-79. Tendangan jarak 25 yard Buendia mengarah ke sudut atas, menambah tekanan bagi Villa. Meski Spurs sempat memberi ancaman di sisa waktu, gol-gol terlambat tidak mampu mengubah hasil akhir.

De Zerbi mengatakan fokusnya adalah mengapa tim kebobolan gol pertama ketika mereka bermain dengan 10 pemain. Ia menyebut perlunya tetap kuat, menjaga komunikasi, serta bertahan secara kompak. Ia juga menjelaskan pergantian taktik pada momen itu dengan menempatkan Rodrigo Bentancur sebagai bek tengah dan Mateus Fernandes sebagai gelandang, dengan pertimbangan jika kartu merah terjadi maka tim masih bisa bertahan sekitar 70 menit dengan 10 pemain.

Ia menilai pada babak kedua tim justru sempat mencetak gol melalui Kudus namun offside, lalu menyebut ada hal yang tak ia sukai setelahnya. De Zerbi juga menyatakan bahwa musim ini Aston Villa memainkan long ball 86% lebih banyak dibanding musim sebelumnya, dan ia menegaskan mereka sudah melakukan banyak pembahasan sebelum laga.

“Saya sangat sedih dan frustrasi dengan penampilan. Kami tidak bisa kalah dengan cara seperti ini. Gol kedua yang kami kebobolan sungguh luar biasa,” ujar De Zerbi.

Spurs makin terbenam: rentetan tanpa kemenangan

Kekalahan ini menempatkan Spurs berada di tiga terbawah setelah pengeluaran lebih dari 300 juta poundsterling pada musim panas. Mereka juga memperpanjang catatan buruk: Tottenham tidak pernah meraih kemenangan dalam 36 pertandingan Premier League terakhir mereka ketika kebobolan lebih dulu.

Pelatih asal Italia itu juga menghadapi sorotan dari tribun. Di laga ini, terdengar nyanyian “Sacked in the morning” yang diarahkan kepada De Zerbi, ketika beberapa fase menunjukkan timnya tampak kehilangan ide setelah tertinggal 2-0.

Hasil tersebut sekaligus memperpanjang tren start terburuk Tottenham di level papan atas sejak musim 2008-09, ketika mereka hanya mengumpulkan dua poin setelah lima pertandingan. Saat itu, Juande Ramos akhirnya diberhentikan setelah tiga kekalahan tambahan, sebelum Harry Redknapp mengangkat mereka hingga posisi kedelapan.

Untuk pertama kalinya sejak 1986, Spurs juga melewati lima pertandingan liga tanpa meraih kemenangan di awal musim. Dengan jeda internasional yang segera tiba, tekanan terhadap evaluasi klub akan semakin intens, terutama setelah gelontoran belanja yang mereka anggarkan untuk memperbaiki kondisi tim.

Belanja besar, tetapi permainan belum berbuah

Nama-nama besar turut menjadi sorotan. Sandro Tonali didatangkan dari Newcastle dengan nilai 100 juta poundsterling, tetapi peran kapten Villa, John McGinn yang dibeli dari Hibs delapan tahun lalu dengan nilai 2,75 juta poundsterling, justru menonjol dalam duel kendali di lapangan.

Pemain lain seperti Savio juga mendapatkan kesempatan namun terbendung beberapa kali oleh Suzuki. Sementara itu, Omar Marmoush didatangkan untuk menambah daya dobrak, tetapi dalam laga ini tidak memberikan kontribusi berarti bagi Tottenham. Mateus Fernandes yang dibawa dari West Ham dengan nilai 85 juta poundsterling bahkan hanya bermain sampai turun minum sebelum diganti.

Joe Cole, yang mengulas pertandingan, mempertanyakan belanja Tottenham dengan total sekitar 302 juta poundsterling. Ia menilai ketika Van de Ven harus keluar, Tottenham tidak menangani situasi itu dengan baik. Cole juga menyoroti bahwa Villa memang bertahan rapat, dan meski tidak layak unggul lebih dulu menurutnya, keadaan menjadi semakin sulit setelah stadion seolah kehilangan tenaga.

Cole menilai Spurs berada dalam posisi yang seharusnya mulai mengambil poin, namun justru berlarut. Ia menegaskan bahwa klub yang dua musim terakhir dekat dengan zona degradasi tidak bisa langsung dikesampingkan untuk kembali terlibat dalam pertarungan itu, terutama karena ia merasa Tottenham membayar mahal untuk setiap pemain yang didatangkan musim panas ini.

Di sisi lain, De Zerbi membela keputusan belanja Villa meski timnya sedang melalui proses. Ia menyebut dirinya senang dengan skuad, tetapi pasar bergeser berkali-kali. Ia juga menyinggung aspek financial fair play dan menambahkan bahwa klub tidak menjual pemain yang sebelumnya masih berpeluang dijual.

De Zerbi menegaskan tim dan pelatih tidak “tidur” dalam situasi seperti ini—mereka memahami karakter para pemain. Ia juga menyebut pemain yang berangkat ke tim nasional harus bermain dan bekerja, sementara pemain lain seperti James Maddison, Conor Gallagher, Dominic Solanke, Tosin Adarabioyo, Marcos Senesi, dan Savio perlu bekerja lebih keras terkait kondisi fisik. Ia mengatakan ia tidak menyukai keadaan mereka pada pertandingan ini.

Villa sendiri sedang berada dalam fase transisi. Klub berkomitmen menggelontorkan lebih dari 250 juta poundsterling untuk membangun ulang, sebagai konsekuensi dari keluarnya sejumlah pemain penting. Meski demikian, kemenangan liga pertama mereka musim ini tetap dianggap vital setelah tiga kekalahan pada empat pertandingan awal.

Glenn Murray, mantan penyerang Brighton, ikut menekankan bahwa De Zerbi membutuhkan waktu. Ia menyebut ada tanda-tanda positif jika dilihat dari statistik: dalam tiga dari empat pertandingan terakhir, Villa memiliki lebih banyak tembakan, lebih banyak penguasaan bola, serta lebih banyak sentuhan di kotak lawan. Murray meminta publik bersabar karena proses adaptasi pemain dan kebutuhan untuk “gel” juga membutuhkan waktu.

Dengan semua tekanan itu, jeda internasional di depan mata menjadi titik tanya besar: apakah Spurs mampu mengubah arah sebelum liga kembali bergulir, atau justru akan memperpanjang rangkaian tanpa kemenangan.