jurnalistik.co.id – Inggris meraih kemenangan meyakinkan atas Sri Lanka pada T20 ketiga di Old Trafford, sekaligus menutup seri dengan sapuan 3-0 dan kembali merebut posisi puncak rangking T20 dunia.
Kemenangan ini menjadi penanda dominasi tuan rumah di laga yang dipantau langsung Stephen Fleming, pelatih kepala baru tim Tes Inggris. Inggris menekan sejak awal melalui ketepatan bowling cepat, membuat Sri Lanka hanya sanggup mencapai 124 seluruhnya dalam 18,5 overs.
Performa pemukul Sri Lanka dipimpin Nissanka yang mencetak 36 (24 bola) dan K Mendis dengan 35 (28). Setelah itu, arus permainan berbalik sepenuhnya ke Inggris, dengan Baker mencatat 2-17, Archer 2-23, serta Jacks 2-31.
Chase Inggris berjalan lebih cepat dari skenario mana pun. Mereka mencapai 126-2 dalam 9,4 overs, dipimpin Jos Buttler yang bertahan 62* (32 bola) dan Harry Brook yang menorehkan 33 (21 bola).
Buttler menyudahi pengejaran dengan pukulan enam yang membuatnya tidak terkejar, dan kemenangan resmi ditutup dengan 62 bola tersisa. Catatan ini menjadi yang paling banyak bagi Inggris pada laga kandang T20 mereka.
Di sisi bowling, Jamie Overton menunjukkan kontrol yang tajam dengan hanya memberi 15 run dalam empat overs, termasuk satu wicket. Sonny Baker melanjutkan progresnya dengan 2-17, sedangkan Jofra Archer bangkit dari awal yang sempat kurang mulus untuk berakhir dengan 2-23.
Inggris juga unggul dalam aspek lapangan. Liam Dawson melakukan direct hit untuk mengeliminasi Eshan Malinga, menegaskan permainan defensif yang rapi dan cepat.
Terlepas dari absennya Phil Salt dan Jacob Bethell karena cedera, kekuatan batting Inggris tetap menjadi faktor penentu. Aneurin Donald memang lebih dulu tersingkir untuk 13, namun Buttler dan Brook menyatukan kemitraan 85 run untuk pasangan wickets kedua sebelum Brook pada akhirnya run out di angka 33.
Kemenangan delapan wicket tersebut menegaskan momentum Inggris: ini merupakan kemenangan ke-23 dari 26 T20 yang sudah selesai sejak Brook mengambil kendali pada musim panas 2024. Inggris juga merebut kembali peringkat nomor satu dari India.
Meski begitu, jeda menuju turnamen T20 global berikutnya terasa panjang. Kejuaraan Dunia T20 putra berikutnya baru berlangsung pada 2028, tahun yang sama ketika kriket T20 debut di Olimpiade. Sementara itu, Inggris kini menata fokus ke Piala Dunia 50 over di Afrika Selatan pada musim gugur 2027.
Untuk pertandingan berikutnya, tiga laga ODI melawan Sri Lanka dijadwalkan mulai di Durham pada hari Selasa.
Peran pace dan momen-momen penting saat pembuktian bowling
Salah satu ciri keberhasilan Inggris di format ini selama kepemimpinan Brook adalah penggunaan spin yang lebih sering, namun pada kesempatan ini peran pemintal justru bergeser. Adil Rashid dan Dawson hanya melempar empat overs di antara mereka, memberi ruang lebih besar bagi para seamers.
Berita Terkait
Situasi ini menonjol meski Sam Curran tidak bisa ikut karena cedera. Baker, yang sempat melalui debut sulit di semua tiga format internasional, menunjukkan tanda bahwa potensi itu mulai muncul dalam seri ini.
Setelah over pembuka Archer menghasilkan 15 run, Baker membuat Lahiru Udara terpental ke arah wicketkeeper Buttler. Baker kemudian kembali mengambil momentum di fase akhir, saat Dilshan Madushanka mengangkat bola dan berakhir tertangkap Brook sebagai wicket terakhir.
Archer sempat menjadi “penonton” selama beberapa waktu setelah awalnya berat, tetapi saat kembali ia menciptakan dampak. Kamindu Mendis dibuat menghasilkan pukulan pull ke area deep mid-wicket, dan ia mengoleksi 35 run.
Wicket kedua Archer juga punya cerita unik. Wanindu Hasaranga tersingkir hit-wicket saat mencoba melakukan slog, dengan posisi kayu yang nyaris mengenai bail di atas.
Dalam laju yang menentukan, Overton tampil sebagai pilihan paling ekonomis karena menyelesaikan jatah empat oversnya dengan angka terbaik di T20 internasional. Meski Tom Banton sempat kehilangan satu tangkapan akibat licin di outfield yang basah, secara keseluruhan Inggris tetap tampil luar biasa dalam konsistensi perpindahan dan respon cepat.
Brook menutup babak awal Sri Lanka lewat tangkapan tajam di mid-wicket, menghapus Pathum Nissanka yang berada di angka 36. Rashid juga menunjukkan kewaspadaan dengan run out Charith Asalanka, sementara Dawson menyelesaikan rangkaian melalui direct hit yang menjadi “penutup” paling telak.
Kesempatan Donald dan keberhasilan kombinasi Buttler–Brook
Di sisi batting, Donald mendapat kesempatan internasional pada usia 29 tahun sebagai pengganti Salt. Ia sempat memperlihatkan kilasan performa domestik yang bagus, dengan skor tinggi 21, namun pada laga ini usahanya untuk menabrak Tharindu Rathnayake dari area long-on justru berakhir stumped.
Saat Buttler dan Brook mengambil alih laju, sisa pengejaran berubah menjadi proses yang lebih terkendali. Kualitas kedua pemain tersebut membuat target berangsur menjadi latihan terarah, bukan lagi persoalan sulit bagi Inggris.
Sri Lanka sendiri terlihat kurang rapi. Mereka memberikan 17 run lewat wides, sebuah angka yang menggambarkan bagaimana fokus tim tamu belum sepenuhnya berada di ritme yang diharapkan.
Momen yang menggambarkan “ketergesaan” itu terjadi ketika Brook seharusnya bisa tersangkut tangkapan dari Madushanka. Namun, Kamil Mishara sebagai penjaga gawang dan fielder di titik point justru saling menatap, sehingga bola jatuh ke tanah.
Setelah itu, Brook tidak perlu mengejar satu run yang kemudian diamankan Hasaranga pada follow-through. Bowler tetap melakukan upaya dengan lemparan langsung ke ujung non-striker, tetapi Inggris tetap menjaga pengejaran tetap berjalan dengan nyaman.
Di over berikutnya, Buttler mengunci kemenangan dengan memukul 18 run dari empat lemparan Malinga, termasuk dua maximum yang dilepaskan melewati sisi leg.












