Olahraga

Klub Premier League Bidik Talenta Akademi EFL dan Skotlandia untuk Skuad U21

×

Klub Premier League Bidik Talenta Akademi EFL dan Skotlandia untuk Skuad U21

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Premier League: Why clubs are targeting EFL academy players

jurnalistik.co.id – Premier League musim panas ini menunjukkan tren perekrutan yang makin agresif ke arah akademi—khususnya dari EFL dan juga akademi di Skotlandia. Sejumlah klub menaruh harapan pada pemain muda agar bisa lebih cepat masuk ke struktur perkembangan mereka.

Musim panas ini, klub-klub Premier League sejauh ini merekrut 14 pemain dari akademi EFL dan Skotlandia untuk skuad perkembangan. Dari total tersebut, 11 di antaranya berusia 18 tahun.

BBC Sport mencatat, jumlah 14 pemain yang masuk kategori tersebut pada periode musim panas ini sejajar dengan transfer akademi yang sama besarnya. Angkanya pun dibandingkan dengan musim sebelumnya: ada 8 pemain pada 2024-25, 18 pada 2023-24, dan 7 pada 2022-23.

Profil rekrutan musim panas ini juga berbeda dibanding sampel setara musim lalu. Pada musim lalu, dari 14 pemain dalam sampel tersebut, hanya lima yang berusia 18 tahun.

Pergerakan yang paling menonjol datang dari League One. Terdapat tujuh rekrutan musim panas ini berasal dari League One, sementara pada musim sebelumnya hanya dua yang berasal dari level yang sama.

Di antara pemain yang sudah berpindah klub sejauh ini adalah Blade Earley dari Cambridge United ke Aston Villa, Valentin Joseph dari Blackburn Rovers ke Brighton, George Munday dari Cambridge United ke Brighton, Harrison Bettoni dari Wigan Athletic ke Chelsea, serta Maxwell Adedeji dari Leicester City ke Tottenham.

Untuk konteks persaingan, nama Jeremy Monga juga mengilustrasikan betapa cepat pasar bisa berubah ketika pemain remaja mulai bersinar di level senior. Manchester City membayar ÂŁ12.5 juta untuk mendapatkan Monga dari Leicester City bulan lalu, sementara Arsenal juga disebut mengincar winger berusia 17 tahun tersebut.

Monga bergabung dengan Leicester sejak usia delapan tahun. Ia kemudian memecahkan sejumlah rekor: menjadi pemain kedua termuda yang tampil di Premier League pada April 2025 pada usia 15 tahun dan 271 hari, lalu menjadi starter liga termuda mereka serta melampaui Jude Bellingham sebagai pencetak gol termuda di Championship.

Meski Monga tidak termasuk dalam sampel 14 pemain BBC Sport karena ia sudah lebih dulu tembus ke tim utama Leicester, biaya transfernya tetap memperlihatkan kalkulasi yang kerap terjadi saat klub merasa seorang remaja sudah siap level berikutnya.

Kenapa usia 18 jadi titik incar?

Menurut riset yang dirangkum, ada alasan mengapa usia 18 sering menjadi “sweet spot” dalam perekrutan. Pada usia ini, pemain umumnya telah menerima bertahun-tahun bimbingan profesional, namun masih cukup muda untuk menjalani waktu dalam lingkungan U21 atau tim pengembangan sebelum keputusan terkait pinjaman atau peluang tim utama diambil.

Dari sisi finansial, model ini juga lebih terjangkau dibanding membayar pemain mapan untuk peran inti. Pada musim panas ini, sembilan dari 14 perpindahan masuk kategori free transfer, sedangkan lima lainnya disebut dengan biaya yang tidak disebutkan.

Pola serupa juga terlihat pada musim lalu. Dari 14 perpindahan pada musim tersebut, delapan di antaranya tercatat sebagai free transfer.

Bagi klub yang terbiasa mengeluarkan puluhan juta pound untuk pemain first-team yang sudah teruji, strategi “menyebar” biaya yang relatif lebih kecil ke beberapa remaja potensial terlihat menarik. Dalam skema seperti ini, cukup satu pemain yang berhasil berkembang menjadi pemain reguler Premier League untuk menghasilkan nilai besar.

Perubahan aturan kompensasi dan dampak Brexit

Di balik perekrutan, ada pula persoalan ekonomi yang lebih luas. Premier League dikatakan telah mendekati EFL untuk mempertimbangkan kemungkinan memberi batas pada kompensasi yang dibayarkan saat pemain muda pindah di antara akademi.

Dalam sistem yang berjalan, klub yang kehilangan pemain bisa menerima training compensation, di samping pembayaran terkait penampilan di masa depan serta hak sell-on. Jika kasus tidak terselesaikan, perkara dapat dirujuk ke Professional Football Compensation Committee.

Riset lain turut menyoroti peran Brexit dalam membentuk lanskap perekrutan. Sebelum berakhirnya kebebasan mobilitas, klub-klub Inggris dapat melakukan scouting ke pasar Eropa yang lebih luas tanpa harus mempertimbangkan apakah pemain Uni Eropa memenuhi syarat bekerja di Inggris.

Analytics FC memperkirakan dalam laporan 2022 bahwa sekitar 60.000 pemain profesional di Eropa berpotensi tersedia bagi klub-klub Inggris sebelum Brexit. Namun, di bawah Governing Body Endorsement system, hanya sekitar 5.000 yang diperkirakan memenuhi syarat untuk memperoleh permit, atau turun sekitar 92%.

Kondisi tersebut disebut terutama relevan untuk pemain yang masih muda. Sebagai contoh, Ifeanyi Ndukwe, pemain berusia 18 tahun milik Liverpool, bergabung dari Austria Vienna dan tampil impresif saat pramusim, tetapi belum bisa bermain pertandingan kompetitif karena tidak memenuhi syarat izin kerja.

Pihak Liverpool mengharapkan skema pinjaman ke klub luar negeri dapat membantunya mengumpulkan pengalaman yang diperlukan agar nanti memenuhi syarat. Sementara itu, remaja yang sudah berkembang di akademi Inggris tidak menghadapi hambatan imigrasi yang setara.

Dampak Brexit juga terlihat pada perpindahan ke arah sebaliknya. Analytics FC menemukan bahwa Premier League 2 menghasilkan lebih banyak transfer pemain Inggris ke klub-klub Uni Eropa dibanding divisi Inggris lainnya sebelum Brexit, tetapi jumlah perpindahan itu menurun setengah pada 2021-22.

Namun, temuan tersebut tidak serta-merta membuktikan Brexit menjadi penyebab langsung klub Premier League menarget akademi EFL. Yang lebih pasti, Brexit telah mengubah lingkungan tempat rekrutmen dan pengembangan pemain muda berlangsung.

Bukan satu resep tunggal antar-klub

Dalam pengembangan pemain muda, tidak ada pendekatan yang benar-benar seragam di Premier League. Data CIES untuk 2025-26 menunjukkan pemain “club-trained” berkontribusi pada menit bermain liga untuk Manchester City sebesar 16.2%, Chelsea 15.5%, dan Brighton 12.5%.

CIES mendefinisikan club-trained player sebagai pemain yang terdaftar dengan klubnya saat ini minimal tiga musim penuh, atau 36 bulan, dalam rentang usia 15 hingga 21 tahun. Karena itu, pemain berusia 18 yang direkrut dari akademi EFL masih berpeluang memenuhi status club-trained bila menghabiskan tiga musim berikutnya bersama klub Premier League barunya.

Di sisi lain, Tottenham hanya menempatkan club-trained players sebesar 0.1% dari menit bermain liga. Bournemouth, Brentford, dan Burnley bahkan berada di angka nol pada kategori yang sama.

Rekrutmen dari akademi EFL dan Skotlandia kemudian dipandang sebagai salah satu cara untuk membangun jalur perkembangan, terutama bagi klub yang tidak hanya mengandalkan pemain yang sudah berada bersama mereka sejak kecil. Ide dasarnya: menemukan pemain yang sudah berkembang di tempat lain, memasukkannya ke struktur U21 pada usia 17, 18, atau 19, lalu mengambil alih tahap akhir proses perkembangannya.

Lonjakan angka belum menunjukkan kenaikan yang tak terkendali. Pada 2023-24, tercatat ada 18 perpindahan dengan karakter serupa, sehingga 14 perpindahan musim panas ini belum bisa disebut sebagai sesuatu yang benar-benar belum pernah terjadi.

Meski begitu, konsentrasi pada pemain usia 18 serta keterlibatan pemain dari League One memberi sinyal bahwa klub-klub Premier League makin presisi dalam menarget pasar yang mereka anggap paling potensial.

Bagi klub-klub EFL, kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang seberapa lama pemain-pemain muda terbaik mereka bisa dipertahankan. Bagi klub Premier League, perhitungannya berbeda: calon seperti Watkins, Eze, Wharton, atau Semenyo bisa saja sudah ada di bagian bawah piramida.

Tantangannya kemudian adalah menemukan mereka lebih dulu dibanding klub lain, sebelum peluang itu diambil pesaing.