jurnalistik.co.id – Liverpool memulai era Andoni Iraola dengan kabar yang campur aduk. Di St James’ Park, mereka tertahan 2-2 oleh Newcastle—setelah sempat berada di posisi tertinggal—dan penalti Dominik Szoboszlai pada injury time menjadi penolong utama bagi satu poin.
Tim arahan Iraola merasakan sesuatu yang lebih mirip lega ketimbang pesta kemenangan. Namun hasil itu jelas menyelamatkan start mereka, meski performa tetap menyisakan pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.
Jika Liverpool kalah pada pembuka musim ini, itu akan menjadi kekalahan pertama mereka di pekan awal sejak 2012-13. Iraola pun mengakui hasil imbang memberi dampak besar terhadap moral tim, tetapi tidak menutupi kekhawatiran di isi permainan.
“It’s probably not the result you want when you come in before the game but we definitely deserve this point and even more,” kata Iraola setelah laga kepada BBC Radio 5 Live. Ia menambahkan, “The team has never given up and we’ve recovered one point and probably the taste is better because we score in the last minute.”
Bagi Iraola, satu poin terasa lebih manis karena gol tercipta terlambat. Menurutnya, usaha tim yang terus bertahan sampai akhir membuat hasil akhirnya tetap berpihak pada mereka.
Penalti Szoboszlai di menit-menit akhir mengubah arah laga
Newcastle sempat unggul dua kali sebelum akhirnya Liverpool menyamakan kedudukan. Kunci kebangkitan Liverpool datang lewat Dominik Szoboszlai, yang mengeksekusi penalti pada menit ke-99 untuk membawa skor kembali imbang 2-2.
Langkah itu mengingatkan pada peristiwa ketika musim lalu Liverpool pernah pulang dari Newcastle dengan kemenangan di menit ke-100 melalui gol Rio Ngumoha. Kali ini, Dominik Szoboszlai tak mencatat kemenangan—tetapi menyelamatkan poin, yang menurut Iraola tidak datang begitu saja.
Szoboszlai juga menegaskan sikap pantang menyerah timnya. Ia mengatakan kepada Sky Sports, “We will never give up. I can guarantee you that. We have to fight every time – all day long during the 90 minutes. Everybody who came off the bench also made an impact as well. We need the whole squad and we need to be ready.”
Iraola puas soal respons, tetapi penampilan membuka banyak pertanyaan
Meskipun hasilnya positif, performa Liverpool tetap memunculkan sejumlah tanda tanya. Mantan winger Skotlandia Pat Nevin menyoroti bahwa tim asuhan Iraola belum menunjukkan wajah tim papan atas.
“You’re expecting Liverpool to get top four this season at least but they didn’t look like a top four team today,” ungkap Pat Nevin kepada BBC Radio 5 Live. Ia melanjutkan, “There’s more players to come in, so you can’t make a real decision on how their season is going to go.”
Menurut Nevin, ada masalah yang lebih spesifik terkait kreativitas. “There’s a definite lack of creativity and somehow they must get the best out of Florian Wirtz and Alexander Isak because you certainly didn’t get the best out of them today,” katanya.
Perhatian memang tertuju pada Wirtz dan Isak, terutama karena keduanya menjadi sorotan besar sejak didatangkan. Alexander Isak—yang berstatus striker Swedia dan direkrut dari Newcastle melalui saga panjang pada September lalu—menerima ejekan setiap kali menyentuh bola.
Wirtz memulai pertandingan dengan cukup positif, tetapi ia ditarik tepat setelah melewati tanda satu jam pertandingan. Perubahan itu terjadi setelah Newcastle lebih dulu menuntun 2-1, yang sekaligus menandai kebutuhan Liverpool untuk mengubah dinamika serangan mereka.
Isak sendiri tercatat memiliki 28 sentuhan. Ia terlihat berenergi dan siap mengancam, namun salah satu peluang bagus di babak kedua terbuang—sebuah momen yang, ketika Isak masih di Newcastle, sering menjadi sesuatu yang ia selesaikan dengan baik.
Gakpo, Wirtz, Isak—dan kebutuhan kedalaman yang terasa nyata
Berita Terkait
Pat Nevin menyebut bahwa Liverpool masih punya pemain yang akan datang, sehingga penilaian musim belum bisa dipastikan sepenuhnya. Meski begitu, laga melawan Newcastle memperlihatkan mengapa kuantitas dan opsi skuad menjadi faktor krusial.
Salah satu pertanyaan besar yang akan dibawa sampai pekan terakhir bursa transfer adalah nasib Cody Gakpo. Nevin menggambarkan “konundrum” itu sebagai isu yang akan terus menggelinding, terutama bila Liverpool benar-benar menambah dua pemain penyerang lagi.
Di sisi lain, Liverpool sudah dikaitkan dengan Bradley Barcola dan Ibrahim Mbaye dari Paris St-Germain. Mereka juga pernah mengajukan dua penawaran yang ditolak untuk Yankuba Minteh milik Brighton.
Namun pada laga ini, Gakpo tetap menjadi pemain terbaik Liverpool ketika bermain di Newcastle. Ia mencetak golnya dengan eksekusi yang brilian, sehingga keputusan terkait komposisi depan tim tak hanya soal rencana transfer, tetapi juga bagaimana performa individu berulang kali membentuk hasil.
Selain itu, ada catatan positif dari Victor Munoz. Pemain depan asal Spanyol itu menjalani debut bersama Liverpool dari bangku cadangan dan ikut terlibat dalam momen penentu penalti akhir.
Munoz datang setelah Rio Ngumoha digantikan. Ia kemudian menjadi pemain yang “memenangkan” penalti di menit-menit akhir—sebuah momen yang mengubah pertandingan dari seolah condong ke Newcastle menjadi kembali memberi peluang bagi Liverpool lewat Szoboszlai.
Catatan taktis: rapuh saat serangan balik dan keterbatasan opsi di bangku cadangan
Keputusan Iraola untuk mengganti Ngumoha setelah sedikit lewat satu jam pertandingan juga memberi petunjuk tentang kesulitan yang dirasakan timnya di sisi kanan. Ngumoha akan menginjak usia 18 tahun pekan depan, dan sepanjang karier muda ia lebih sering dimainkan di sisi kiri, tetapi kali ini dampaknya tidak terasa di sisi yang sebaliknya.
Iraola juga menempatkan timnya dengan eksperimen lebar yang menuntut winger mampu bermain di dua sisi. Meski begitu, belum ada kepastian apakah pendekatan itu akan terus dipertahankan ketika Liverpool nanti sudah memiliki tambahan pemain serang.
Secara defensif, performa Milos Kerkez dan Jeremie Frimpong di posisi bek sayap mendapat sorotan karena keduanya tampil kurang solid. Liverpool lalu “kebobolan” lewat serangan balik untuk kedua gol yang mereka terima, memperlihatkan adanya celah yang dimanfaatkan lawan.
Salah satu faktor yang disorot adalah minimnya kehadiran gelandang bertahan. Setelah Joe Willock membawa Newcastle unggul 2-1, Iraola menggunakan Mac Allister tepat sebelum barisan empat bek, sebuah penyesuaian yang menunjukkan upaya mengatur kembali keseimbangan setelah perubahan skor.
Dalam catatan kompetisi, Liverpool kini tercatat kebobolan lebih banyak gol melalui serangan balik cepat dibanding tim Premier League lain sejak awal musim lalu—total sembilan gol. Angka itu menjadi bagian dari pekerjaan evaluasi besar yang harus dilakukan setelah hasil imbang ini.
Ketika Munoz dan Alexis Mac Allister masuk pada menit ke-63, Iraola masih memiliki beberapa opsi cadangan lain: Giorgi Mamardashvili, Ronald Araujo, Wataru Endo, Kostas Tsimikas, Trey Nyoni, James McConnell, dan Lewis Koumas.
Start yang relatif baik, tapi perbaikan harus segera
Meski masih banyak ruang perbaikan, Iraola menilai ini adalah awal yang cukup positif untuk kehidupan tim di bawah arahannya. Ia sengaja menahan analisis lebih dalam untuk dilakukan pada hari setelah pertandingan.
“I’ve liked a lot of the things I’ve seen from the team,” ujarnya. “There’s definitely things to improve like the goals but I’ve seen a lot of things I’ve liked from the team. I’ve liked the energy, especially the players coming from the bench. I think we finished the game quite strong physically.”
Dengan penalti Szoboszlai yang menutup laga dan membentuk skor akhir 2-2, Liverpool memang membawa pulang satu poin untuk menjaga momentum awal. Tetapi pertandingan ini juga menegaskan satu hal: kualitas yang lebih tajam, kreativitas yang lebih stabil, dan kedalaman skuad tetap menjadi kebutuhan yang harus segera diwujudkan.












