jurnalistik.co.id – Leicestershire menjinakkan perlawanan Notts Outlaws di Grace Road dan memastikan tiket ke final One-Day Cup untuk kedua kalinya dalam empat tahun. Tim Foxes menang dengan selisih 23 run pada laga semifinal, setelah membukukan 303-7 sebelum akhirnya menahan Notts Outlaws di 280 all out.
Di pertandingan yang berlangsung dalam format 50 overs, Leicestershire tampil dominan sejak awal inning pemukul. Hamza Shaikh menjadi motor kemenangan dengan kontribusi besar yang mengubah jalannya laga, sementara Notts kesulitan mengejar setelah beberapa momen kunci berjalan tidak sesuai rencana.
Shaikh dan Kelly mengunci momentum
Leicestershire memulai target dengan fondasi yang kuat dan kemudian naik kelas saat Shaikh mulai mengendalikan pukulan. Shaikh menorehkan 104 run dari 109 bola, yang menjadi angka penentu untuk membawa timnya menuju total 303-7. Ketika inning memasuki fase penting, Nick Kelly turut memberi dukungan dengan 53 run.
Keduanya membentuk kemitraan 117 run untuk wicket keempat, sebuah rentang yang membuat Notts Outlaws harus terus mengejar ketertinggalan dengan tekanan yang semakin berat. Pada akhirnya, Shaikh harus jatuh setelah diambil oleh Liam Patterson-White, namun penampilan sang pemain sudah cukup untuk membentuk platform tinggi bagi Leicestershire.
Di sisi bowling, Dillon Pennington mencatat 3-65 untuk Notts Outlaws. Meski demikian, kontribusi tersebut tidak cukup untuk menekan laju Foxes, karena total 303-7 tetap menyisakan pekerjaan besar bagi tim tamu di babak pengejaran.
Rehan Ahmed memotong laju, Green menutup rapat
Berita Terkait
Notts Outlaws memasuki chase dengan modal yang baik. Berawal dari duet pembuka Ben Martindale dan Freddie McCann, mereka sempat merangkai kemitraan 63 run dalam 11 overs. Namun, momentum itu tidak bertahan lama karena Rehan Ahmed, yang saat itu bertindak sebagai all-rounder Inggris, berhasil menjebak Martindale dengan lbw pada delivery pertamanya—Martindale tersingkir di angka 43.
Setelah itu, pengejaran Notts melambat, meski ada usaha untuk menyeimbangkan ritme. McCann bersama kapten Haseeb Hameed membangun kemitraan 69 run yang membantu menjaga laju tim tamu tetap bertahan. Akan tetapi, sebuah kekeliruan di tengah lari antarwicket mengakibatkan seorang opener kehilangan wicket saat berada di 63 run dan harus run out.
Ketika pertandingan memasuki fase krusial, Alex Green menjadi tokoh pembalik keadaan. Green, yang berusia 19 tahun, berhasil menjatuhkan Kyle Verreynne yang berbahaya (43 run) dan kemudian menyusul Farhan Ahmed dalam rentang empat bola di over ke-48. Pada akhir inning, Green menutup dengan angka 4-40, memastikan kemenangan Leicestershire semakin sulit untuk dikejar oleh Notts.
Notts akhirnya tertahan di 280 all out pada 49 overs. McCann menjadi pencetak angka tertinggi bagi Notts Outlaws dengan 64 run, sedangkan Hameed menyumbang 54. Kendati ada perlawanan, rangkaian kehilangan wicket di momen-momen menentukan membuat chase tidak pernah benar-benar pulih.
Leicestershire kemudian melangkah ke partai puncak melawan Middlesex. Pada musim ini, Shaikh—yang baru bergabung dengan Leicestershire dari Warwickshire hanya sebulan sebelumnya—menjadi figur utama yang membawa timnya menuju final, setelah mencapai puncak performa dengan 104 run tersebut.
Menariknya, laga final nanti akan menjadi keenam kalinya One-Day Cup digelar di Trent Bridge sejak kompetisi List A terakhir pindah meninggalkan Lord’s pada 2019. Final yang direncanakan di Nottingham pada 2020 pun batal akibat pandemi Covid-19, namun sejak 2021 ada lima final di Trent Bridge yang semuanya dimenangkan oleh county yang oleh sebagian pengamat dianggap tidak “paling populer”. Di antaranya, Glamorgan meraih dua kemenangan, sementara Kent, Leicestershire, dan Worcestershire masing-masing merasakan sukses.
Rangkaian final di Trent Bridge sejak 2021 juga mencatat: 2021 Glamorgan mengalahkan Durham dengan selisih 58 run; 2022 Kent menundukkan Lancashire dengan jarak 21 run; 2023 Leicestershire menang atas Hampshire dengan dua run; 2024 Glamorgan menaklukkan Somerset dengan 15 run; dan 2025 Worcestershire mengungguli Hampshire dengan tiga wicket. Dengan hasil semifinal ini, Leicestershire melanjutkan jejak kemenangan tersebut sekaligus menambah daftar prestasi mereka di era One-Day Cup.
Kemenangan 23 run atas Notts Outlaws menempatkan Foxes pada posisi yang kuat menjelang laga final. Untuk Middlesex, tantangan kini jelas: menghadapi tim yang terbukti mampu membangun target tinggi lewat inning andalan, lalu menutup pengejaran lawan dengan rangkaian wicket yang tepat pada saat paling dibutuhkan.












