jurnalistik.co.id – Hasil imbang Liverpool di Newcastle memperlihatkan satu masalah yang sulit ditutup-tutupi: rapuhnya lini tengah ketika tim kehilangan bola dan serangan berbalik berjalan cepat.
Baru sedikit lebih dari empat menit di Stadion St James’ Park, Liverpool sempat bermain dengan kendali bola dan tempo yang agresif. Ryan Gravenberch bahkan menciptakan ruang dengan sentuhan brilian untuk melewati Lewis Miley, tetapi ia kemudian kehilangan penguasaan sebelum membangun peluang berikutnya.
Hanya 11 detik kemudian, Newcastle langsung memimpin lewat Anthony Elanga. Gol itu lahir dari serangan balik yang mematikan setelah Amar Dedic melakukan sapuan awal, sementara Liverpool tidak lagi punya struktur ketika harus menghadapi situasi transisi.
Gambaran serupa kembali terlihat pada babak kedua. Gravenberch terdisposses saat mencoba back heel di tepi kotak Newcastle, dan momentum permainan justru bertahan di pihak tuan rumah.
Yoane Wissa berlari menembus bagian tengah, melewati banyak pemain Liverpool, lalu mengirim bola kepada Joe Willock. Willock menyelesaikan peluang tersebut dengan gaya yang meyakinkan, dan Liverpool kembali dihukum karena ritme bertahan mereka tidak terbaca sejak awal.
Melihat kembali dua gol itu, keputusan Gravenberch di momen-momen kunci dinilai seharusnya lebih baik. Pada fase yang sama, pasangan bek tengah Virgil van Dijk dan Jeremy Jacquet juga disebut sempat terlambat bergerak—ketimbang melakukan respons lebih cepat.
Secara umum, Liverpool memang tidak menempatkan figur “nomor enam” yang benar-benar spesifik. Sejak Fabinho meninggalkan klub pada 2023, Iraola menjalankan pivot dua orang di lini tengah, dengan Florian Wirtz ditaruh sebagai figur bernomor sepuluh di wilayah yang lebih ofensif.
Namun, dua pemain dalam pola itu—Gravenberch dan Szoboszlai—berada di kotak Newcastle saat Liverpool kehilangan bola sebelum Elanga membuka keunggulan. Karena itu, ancaman serangan balik terasa makin tajam: tim tidak punya penutup yang cukup cepat berada di posisi pemutus.
Jika Liverpool ingin serius menantang konsistensi lawan, mereka tidak bisa mengulangi gol-gol semacam itu terlalu sering. Pertanyaan berikutnya pun muncul: akankah mereka bergerak di bursa transfer yang tersisa beberapa hari lagi, atau memilih mempertahankan kerangka yang ada?
“Ini bukan soal personel saja”
Andoni Iraola cenderung menghindari debrief besar di ruang ganti setelah laga, dan biasanya memilih berbicara dengan para pemain sehari berikutnya. Namun pada konferensi pers pascapertandingan, ia menjawab langsung apa yang bisa dilakukan agar gol seperti itu tidak terulang.
Pelatih asal menyatakan bahwa masalah tidak semata-mata berkaitan dengan jenis atau identitas gelandang yang ia pilih. “Ini bukan soal personel,” kata Iraola. Ia memahami argumen bahwa Ryan Gravenberch adalah gelandang yang seharusnya berada di area dekat kotak, tetapi ia menilai akar persoalannya tidak berhenti pada label posisi.
Pandangan Iraola menarik karena Gravenberch juga memberi assist untuk Cody Gakpo saat kedudukan disamakan. Lalu, tak lama setelah Newcastle memimpin 2-1, Iraola melakukan perubahan dengan memasukkan Alexis Mac Allister menggantikan Wirtz.
Setelah pergantian itu, Liverpool terlihat lebih stabil secara defensif, meski Mac Allister cenderung bermain sebagai gelandang bernomor delapan. Statistik duel juga mempertegas perbedaan dampaknya: Szoboszlai tidak mencatat tekel dan hanya memenangkan tiga dari 10 duel (30%), sedangkan Gravenberch gagal membuat tekel namun memenangkan empat dari 10 duel (40%).
Berita Terkait
Ketika Mac Allister turun, ia membuat dua tekel dan memenangkan empat dari lima duel (80%). Iraola kemudian menegaskan bahwa koreksi harus datang sebagai tim, termasuk cara mengatur jarak dan pilihan kolektif saat bertahan.
Ia juga mengaitkan gol kedua dengan kualitas eksekusi dalam menjaga jarak. “Kita harus menyesuaikan sebagai tim dalam situasi-situasi ini dan harus tahu bahwa situasi seperti ini bisa terjadi,” katanya. “Saya pikir pada gol kedua, kami mungkin lebih baik dalam hal jumlah untuk bertahan—kami tidak melakukan pelanggaran, tidak masuk ke tantangan pertama, atau tidak mengurangi jarak dengan pembawa bola—jadi itu gol yang luar biasa.”
Dengan kata lain, persoalan bukan karena satu orang menempati satu posisi tertentu. “Situasi seperti ini bukan terjadi hanya karena satu orang bermain di sana; ini sesuatu yang harus diperbaiki bersama banyak pemain,” tuturnya.
Pada akhir laga, expected goals (xG) tercatat 1,43 untuk Newcastle dan 2,73 untuk Liverpool. Angka itu menunjukkan Newcastle lebih efektif memanfaatkan peluang mereka dalam duel-duel yang tercipta.
Prioritas transfer: sayap, bukan tengah
Jelang penutupan bursa transfer, spekulasi terutama berkisar pada apakah Liverpool akan mencari solusi defensif di lini tengah. Daniel Sturridge menilai kritik itu punya dasar, karena Liverpool “tidak memiliki profil pemain seperti itu saat ini.”
Sturridge juga tidak ragu menyebut kebutuhan itu sudah lama mengemuka. “Tim sudah membutuhkan gelandang bertahan untuk tiga tahun,” katanya. Ia menambahkan bahwa, jika melihat komposisi lini tengah, banyak pemain yang secara alami lebih condong menjadi tipe penyerang.
Di internal klub, arah fokus transfer juga disebut tidak berubah. Prioritas tetap pada pemain yang memberi ancaman dari sisi lebar, ketimbang memperkuat lini tengah—meski Curtis Jones telah keluar.
Meski demikian, bila ada kesempatan di pasar, Liverpool akan mempertimbangkannya. Menurut pemahaman yang beredar, Iraola merasa nyaman dengan kedalaman lini tengah yang tersedia: Wataru Endo, Trey Nyoni, dan James McConnell berada sebagai opsi cadangan.
Liverpool juga pernah menanyakan Adam Wharton, tetapi Crystal Palace bersikukuh bahwa pemain berusia 22 tahun itu tidak untuk dijual. Karena itu, jalur perekrutan semacam ini tidak mudah dibuka.
Upaya serupa terjadi pada era Jurgen Klopp. Pada 2023, Liverpool mencoba mendekati Moises Caicedo, dan ketika Arne Slot datang pada 2024, klub dikatakan juga berminat merekrut Martin Zubimendi dari Real Sociedad. Namun semuanya gagal karena pemain yang kini bermain untuk Arsenal menolak untuk pindah.
Musim Gravenberch di bawah Slot juga sempat berjalan cemerlang saat Liverpool melaju ke titel Premier League. Kondisi performa itu bisa jadi membuat masalah yang sama tampak tertutup sementara waktu, sebelum akhirnya retakan lebih terlihat dan pergerakan lawan lebih mudah membongkar struktur.
Jendela musim panas Liverpool 12 bulan lalu juga lebih identik dengan penguatan lini serang. Mereka menguatkan daya gedor lewat Alexander Isak, Florian Wirtz, dan Hugo Ekitike, bukan dengan penambahan spesifik untuk bagian tengah.
Sekarang, garis yang sebelumnya kurang nyata menjadi lebih terbaca. Iraola akan tahu bahwa lini tengah perlu dibuat lebih sulit ditembus agar Liverpool tidak terus memberikan ruang bagi serangan balik lawan, terutama pada momen ketika transisi berubah menjadi bencana.












