Olahraga

Mikaela Mayer vs Chantelle Cameron: lima tahun MVP dari influencer hingga ratu tinju putri

×

Mikaela Mayer vs Chantelle Cameron: lima tahun MVP dari influencer hingga ratu tinju putri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mikaela Mayer vs Chantelle Cameron: Five years from influencers to queens of women's boxing for upstart promoters

jurnalistik.co.id – Most Valuable Promotions (MVP) akan merayakan ulang tahun kelimanya pada 29 Agustus, sebuah penanda yang terasa lebih besar dari sekadar hitungan tahun untuk promotor yang dulu sempat dipandang sebelah mata. Pada tanggal yang sama lima tahun lalu, MVP memulai langkah pertamanya di Cleveland, Ohio.

Di acara perdana itu, Jake Paul—salah satu pendiri sekaligus wajah paling dikenal dari dinamika media sosial—naik ke ring melawan petarung MMA Tyron Woodley. Hampir empat bulan kemudian, MVP kembali menggelar pertunjukan dengan rematch Paul dan Woodley di Tampa, Florida.

Sejak saat itu, beberapa kartu laga MVP memang selalu menghadirkan unsur yang membuat penonton kotak tradisional merasa asing. Di salah satu momen yang paling mencuat, Paul bahkan berhadapan dengan Mike Tyson—ketika karier Tyson berada pada fase yang jauh dari puncaknya.

Namun, kartu ulang tahun kelima justru memperlihatkan sisi MVP yang sekarang berkembang bersama sesuatu yang oleh sebagian orang dianggap “kemewahan” atau gemerlap. Kali ini, sorotan utama diarahkan pada tinju putri dengan rangkaian pertandingan yang menampilkan kelas, ambisi, dan kualitas petarung yang selama ini berjuang mencari panggung lebih setara.

Unjuk gigi di panggung utama: Mayer vs Cameron

Dalam main card, MVP menempatkan lima laga tinju putri dengan duel puncak yang menjadi pusat perhatian: Mikaela Mayer menghadapi Chantelle Cameron untuk menyatukan sabuk WBA, WBC, dan WBO di kelas light-middleweight. Laga ini bukan hanya soal gelar, tetapi juga simbol bahwa promotor yang berakar dari kultur influencer kini mengeksekusi panggung kelas dunia untuk atlet perempuan.

Pada sesi pendukung, Caroline Dubois mempertahankan gelar WBC dan WBO di divisi lightweight melawan Amelia Moore. Susunan tersebut memberi gambaran jelas ke mana arah MVP bergerak: pertandingan-pertandingan yang relevan secara prestasi, bukan sekadar tontonan.

Caroline Dubois menilai perubahan paling terasa datang dari cara publik memandang tinju putri. Ia menyebut adanya pergeseran nyata dari respons yang sebelumnya meremehkan menjadi kesiapan untuk menyaksikan pertarungan sebagai bagian dari “urusan serius”.

“Respect adalah perubahan terbesar. Saya melihat dan merasakannya,” kata Dubois. Ia menggambarkan dulu jika seseorang menyebut sebagai petinju perempuan, orang akan menanggapinya dengan sikap meremehkan. Sekarang, tanggapan publik lebih langsung: menantang mereka untuk bertarung dan membuktikan kemampuan.

Perjalanan Cameron: dari dinamika promotor ke headline terbesar

Chantelle Cameron—yang musim lalu meninggalkan Queensberry—akan kembali berlaga pada Sabtu dengan status laga utama untuk pertarungan terbesarnya sejak rangkaian pertandingan pada 2023 kontra Katie Taylor. Sebelumnya, Cameron menjalani pertarungan WBC interim melawan Patricia Berghult pada November 2024.

Dalam laga itu, Cameron berposisi sebagai co-main event di Birmingham, tepatnya di BP Pulse Arena. Delapan bulan setelahnya, ia melakukan debut bersama MVP ketika bertanding melawan Jessica Camara di Madison Square Garden.

Cameron merasakan proses yang cepat sejak bergabung. Ia menyampaikan bahwa MVP terbukti menepati janji-janji mereka, termasuk menghadirkan kesempatan menuju gelar dunia serta mempertemukannya dengan Mayer.

“Mereka menguasai tinju putri,” ujar Cameron. Menurutnya, semuanya berjalan sesuai yang disebutkan. Ia juga menegaskan bahwa ini merupakan perjalanannya yang cepat karena baru menjalani pertarungan ketiganya dengan MVP.

Sebelum masa bersama Queensberry, Cameron berada di bawah naungan Matchroom. Ia pernah mengalahkan Taylor, dan kemenangan itu berlanjut dengan balas dendam Taylor di pertemuan berikutnya. Cameron kemudian bercerita bahwa duel-duel melawan Katie Taylor akan selalu diingat, tetapi setelah itu momentum sempat menurun.

Ia menggambarkan masa ketika ia kehilangan daya dorong, harus berada di “rak” untuk sementara, dan kesulitan mendapatkan nama serta lawan yang tepat. Cameron menyatakan ia tetap menginginkan laga, tetapi pertemuan yang ia harapkan tidak kunjung datang.

Dubois, influencer, dan “cara baru” membangun laga

Salah satu petunjuk mengapa MVP menjadi pilihan bagi talenta-talenta tinju putri terlihat dari cara mereka membentuk narasi pertarungan. Dubois mengaku bahwa setelah bekerja sama dengan MVP, ia mengembangkan persona yang lebih berani.

Ia pernah melontarkan tantangan kepada Harper sebelum duel sebelumnya, dan dari adu mulut hingga konfrontasi yang memanas, situasi tersebut berubah menjadi daya tarik yang lebih luas untuk penonton. Sebagian orang mungkin menganggap gaya itu terlalu “tampak luar”, tetapi Dubois justru menilai itu menjadi jalan baginya melompat dari venue kecil seperti Park Community Arena di Sheffield menuju panggung yang lebih besar, termasuk Miami dan Olympia di London.

“Mereka membantu saya naik ke level berikutnya,” kata Dubois. Ia menyebut ingin terlibat dalam laga terbaik, terbesar, dan paling penting. Menurutnya, Jake [Paul] membawa dinamika influencer: masukan untuk cara membangun pertandingan dan perspektif yang segar.

Dubois juga menegaskan bahwa mereka adalah entertainer, sehingga mendapat wawasan dari sosok yang berada di luar olahraga secara teknis bisa membantu cara mereka mengemas laga. Baginya, pendekatan semacam itu membuat MVP memiliki pola pikir yang bisa mempercepat pertumbuhan.

Selain Dubois, daftar nama yang tergabung di MVP mencakup sejumlah petarung putri terkemuka seperti Serrano, Alycia Baumgardner, serta Ellie Scotney—mantan juara super-bantamweight yang sempat tak terbantahkan. Terri Harper juga termasuk di dalamnya, bersama jadwal penampilannya yang akan lebih cepat dimulai dari bagian awal kartu.

Harper, yang kalah pada duel April dengan keputusan angka, memulai fase membangun kembali lebih awal di acara Sabtu ketika ia menghadapi Miranda Reyes. Harper sempat mempertimbangkan pensiun setelah kekalahannya dari Sandy Ryan pada 2024, namun ia mengaku tidak memiliki pemikiran serupa setelah kalah dari Dubois.

Bagi Harper, laga ini menjadi kesempatan terakhir untuk mendorong sejauh apa ia bisa mencapai target sebagai juara dunia di empat divisi. Ia menyebut MVP menghadirkan pertarungan yang ia butuhkan sekaligus memperbesar audiens.

Visi lima tahun: serius di ring, tetap hidup di layar

MVP juga menyusun langkah ke depan dengan menyeimbangkan sikap serius terhadap tinju putri dan akar mereka sebagai promotor influencer. Rencana di bulan Agustus mencakup acara “MVP x Tiktok Live” yang menampilkan Serrano, sebuah strategi untuk menjaga energi sekaligus jangkauan penonton.

Bagi Dubois, keberadaan aksi panggung dan pemeran utama harus tetap dijaga agar momentum di olahraga putri tidak meredup. Ia mengaitkannya dengan pengalaman pribadinya: dulu ia berlatih sejak usia sembilan tahun, dan sekarang ia merasa bertarung di tempat yang sama sambil membicarakan soal headline dan bahkan tayangan di Netflix.

Dengan struktur organisasi yang dipimpin Paul, yang paling mungkin diberikan MVP adalah keberanian untuk terus berbicara dan mempertunjukkan sebuah peristiwa. Untuk Cameron dan Mayer, promotor ini dianggap memiliki peluang nyata mengubah lanskap tinju putri.

Cameron menyatakan dirinya mendukung ronde tiga menit. Ia mengakui masih ada jalan panjang, tetapi ia percaya jika lebih banyak petinju perempuan melakukan kebiasaan yang sama seperti yang dilakukan petinju pria, maka kesempatan untuk kesetaraan dalam tinju putri akan semakin bisa diklaim secara nyata.

Senada dengan itu, Mayer menyoroti memori yang lebih tua dari masa MVP. Menurutnya, atlet perempuan memahami bahwa olahraga mereka pernah mengalami kesulitan, dan kerja yang dibutuhkan belum selesai. Mayer menekankan bahwa agar sebuah olahraga berkembang, atletnya harus bisa berkompetisi.

Ia menambahkan bahwa perempuan selama ini berada selangkah di belakang karena mereka baru diizinkan berkompetisi di Olimpiade pada 2012. Baginya, perubahan seperti apa pun tidak terjadi instan, tetapi inilah langkah yang mereka perlukan untuk mendorong tinju putri ke level berikutnya.