Olahraga

Messi, Ronaldo, Haaland: Apakah Nama Bintang Kini Lebih Menarik daripada Klub bagi Penggemar Muda?

×

Messi, Ronaldo, Haaland: Apakah Nama Bintang Kini Lebih Menarik daripada Klub bagi Penggemar Muda?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Messi, Ronaldo, Haaland: Are fans now more invested in star names than clubs?

jurnalistik.co.id – Ketertarikan penggemar muda terhadap nama-nama bintang sepak bola tampaknya makin mengungguli ikatan tradisional pada klub. Dari bintang generasi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo hingga Erling Haaland dan Jude Bellingham, sejumlah penanda menunjukkan bahwa figur pemain kini menjadi “titik masuk” yang lebih kuat untuk membangun kedekatan.

Fenomena ini terlihat jelas pada contoh Messi saat bergabung dengan Inter Miami pada 2023. Kedatangannya digambarkan sebagai momen yang terasa sangat “pasti” sebagai terobosan pemasaran: akun media sosial melonjak, kaus cepat habis, dan tiket pertandingan dibanderol dengan harga tinggi. Bahkan, banyak orang di kota-kota Inggris dan Eropa memakai warna pink khas Inter Miami tanpa punya keterkaitan apa pun dengan Miami.

Sports brand strategist James Kirkham menyebut bahwa yang membuat gelombang itu berputar bukan sekadar klub, melainkan pemainnya. Ia menggarisbawahi kebiasaan baru: tren tersebut “normal” karena ada tokoh yang sudah melakukan pekerjaannya.

Kirkham juga menekankan bahwa daya tarik seperti itu tidak hanya melekat pada Messi. Rival jangka panjangnya pun hadir dalam simbol yang kini berbeda warna—Cristiano Ronaldo bersama nuansa Al-Nassr—sementara perdebatan generasi terus bergulir antara Barcelona dan Real Madrid, MLS dan Saudi Pro League. Namun, cerita yang sama ternyata melampaui dua nama besar itu.

“It’s been happening for a while, ever since the sheer impact and influence of gaming, particularly on young fans,” kata Kirkham. Ia menilai, penggemar muda saat ini cenderung “less rigid or tribal than they used to be” dan memiliki pengetahuan yang lebih “more encyclopaedic” yang tumbuh lewat permainan video, termasuk EA Sports FC atau Football Manager.

Selain gim, sumber kedekatan juga datang dari YouTube dan kartu perdagangan. Dalam pola konsumsi tersebut, penggemar mengikuti tim dari berbagai negara atau liga bukan karena lambang di dada, melainkan karena nama di punggung—sebuah pergeseran yang memperpendek jarak antara dunia virtual dan realita.

“Fans play as these players in games,” ungkap Kirkham. Menurutnya, garis pemisah antara ranah maya dan nyata menjadi sangat tipis: membeli nama pemain untuk dipakai di jersey, baik itu Atletico Madrid, Chelsea, maupun Dortmund, terasa tidak jauh berbeda dari sisi identitas yang dibangun.

Di balik itu, ada logika sosial lain yang menguat: banyak penggemar kini tidak lagi puas hanya dengan satu klub. Studi berjudul “The Rise of the Second Club Fan”, yang diterbitkan sebelum Piala Dunia musim panas ini, menyebut 80% dari total pendukung global juga mengikuti klub kedua.

Head of insights Matthew Kyle, yang menulis laporan tersebut untuk Engage dan MTM, menjelaskan bahwa ini tidak berarti mereka meninggalkan klub yang sejak lama mereka dukung. Mereka memilih klub lain—bahkan terkadang lebih dari satu—untuk menambah cara keterlibatan.

Kyle juga menilai bahwa pola ini bisa lebih sering ditemukan di negara atau wilayah yang tidak memiliki liga yang kuat, di mana jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang bagi kecintaan klub kedua. “They are often looking for ‘who else can I support?’ It’s more natural,” tambahnya.

Ia menyebut pilihan klub kedua bisa lebih “rational” karena ada kedekatan pada kisah klub, budaya, hingga nilai-nilai yang dibawa. Yang sederhana pun tetap berlaku: sebagian penggemar mungkin menyukai desain jersey. Meski demikian, laporan itu menegaskan bahwa pintu paling kuat menuju pengikut klub kedua justru kerap dimulai dari pemain.

“For this audience, they are the club,” tulis Kyle dalam ringkasan laporan. “These fans track individuals, not institutions.” Dengan kata lain, perpindahan rasa bisa terjadi ketika pemain berganti tempat.

Pemain mengambil posisi “pengemudi” dalam narasi

Perubahan ini bergerak cepat. Musim panas 2018 menjadi salah satu contoh ketika Antoine Griezmann merancang momen pengumuman besar menjelang Piala Dunia Prancis. Pada hari-hari menjelang kampanye yang akhirnya memenangkan turnamen, ia menyusun “The Decision” yang dijanjikan tiba di akhir dokumenter setengah jam di televisi Spanyol.

Barcelona mengira mereka memilikinya, begitu pula sebagian besar penggemar saat Gerard Pique—yang perusahaan produksinya terlibat dalam tayangan tersebut—mengunggah emoji popcorn. Namun, di akhir dokumenter, Griezmann berdiri di depan Metropolitano dan mengungkapkan bahwa ia akan bertahan di Atletico Madrid, dalam salah satu dari dua versi akhir yang dilaporkan direkam untuk menjaga kerahasiaan keputusan.

Griezmann bahkan menyebut dirinya sebagai penggemar NBA, terinspirasi oleh pertunjukan LeBron James pada 2010 ketika bintang basket itu bergabung bersama Miami Heat. Ia berusaha “own his narrative”, tetapi Kyle menilai kritik bisa muncul—termasuk karena bentuk “self-commercialisation”.

“self-commercialisation” mungkin terasa belum berdampak sebesar sekarang jika yang melakukannya adalah Erling Haaland atau Kylian Mbappe. Griezmann dianggap “almost before his time”.

Kini, banyak pemain besar lebih rutin membagikan pembaruan lewat kanal YouTube mereka sendiri—dari Haaland, Ronaldo, Jude Bellingham, hingga bintang Lionesses Ella Toone. Menurut Kyle, pemain makin menjadi “their own distribution levers”, dan ada yang benar-benar mengambil peran sentral dalam “how I project myself onto the world” serta membangun saluran dan audiens.

Kirkham menambahkan bahwa pada banyak kasus, pemain justru yang memegang narasi utama, sehingga penggemar bisa berinvestasi pada perjalanan mereka—sebuah proses yang kini lebih mudah dijangkau dibanding sebelumnya.

“Players are far more culturally symbolic than they used to be,” kata Kirkham. Ia menegaskan bahwa pemain memang tetap melakukan endorsement, tetapi mereka tahu harus “resonate with fans” agar penggemar benar-benar bisa menempel dan mendukung.

Ia memberi contoh Marcus Rashford saat masa Covid, ketika ia ikut mendorong perubahan aturan legislatif yang nyata. Menurut Kirkham, penggemar muda ingin tahu apa yang pemain dukung perjuangkan—karena itu memberi peluang lebih besar untuk mengikuti dan mengejar, serta menemukan hubungan yang lebih dalam.

“They look for stuff that is aligned to them, who they are, their causes and where they’re from. I think we will increasingly see that,” tambahnya.

Sejumlah “pemenang” Piala Dunia, dalam konteks merek pribadi

Ketika perhatian global musim panas ini terarah ke Amerika Utara, Piala Dunia menjadi panggung peluncuran yang kuat bagi merek personal banyak pemain. Vozinha—sebelumnya kurang dikenal, penjaga gawang asal Tanjung Verde—berubah menjadi sosok kultus setelah aksi gemilangnya melawan Spanyol. Dalam periodenya, jumlah pengikut Instagramnya naik dari 50.000 menjadi hampir 30 juta.

Namun pemain berlabel besar juga menuai hasil besar. Lamine Yamal, bintang Spanyol dan Barcelona, mengalami lonjakan pengikut, begitu pula Bellingham. Bahkan Ronaldo—yang disebut sebagai atlet paling diikuti di Instagram—mengalami kenaikan yang “healthy”.

Yang paling menonjol, menurut uraian laporan, adalah Haaland. Popularitasnya melonjak ketika penggemar bergerak ramai ke akun Instagram, TikTok, dan Snapchatnya. Rumus yang disebut tampil bukan hanya keberhasilan di lapangan, melainkan persona yang dianggap rendah hati dan mudah didekati—mulai dari gaya topi koboi, hingga partisipasinya dalam aktivitas yang tampak “relatable”, termasuk membantu perlengkapan kit timnya.

Haaland juga digambarkan sebagai figur yang sangat aktif di media sosial: ia mengomentari dan membalas unggahan. Ia hadir di pusat klip viral dan meme, termasuk konten yang memperlihatkan “bromance” dengan mantan rekan setimnya Bellingham, serta unggahan dari model Rusia yang dianggap memiliki kemiripan tak terduga dengan dirinya.

“Haaland was a massive winner from the World Cup,” ujar Kyle. Ia menambahkan bahwa Haaland memperoleh lebih dari 51 juta pengikut sejak 1 Juli di akun sosialnya, dengan catatan bahwa pada enam bulan pertama tahun ini ia hanya bertambah 11 juta.

Kyle juga menyampaikan bahwa “Oviously he had a good World Cup. But a massive part of it was the personality coming across, interacting with fans, memes, his stature and what he looks like, Norway being there [in the last eight] for the first time and the fans’ rowing celebration – all that kind of stuff.”

Menurut laporan yang sama, Haaland memiliki hampir 20 juta pengikut Instagram lebih banyak daripada klubnya, Manchester City, dan ia juga memiliki kanal YouTube sendiri. Kirkham menilai tren ini hanya akan makin menguat: semakin banyak pemain membuat format hiburan mereka sendiri, jaringan konten, dan semuanya berlangsung “away from the clubs”.

Ia juga menyinggung kerja bersama Harry Kane pada aplikasi Cleats Club, yang ditujukan untuk membantu Kane menjawab pertanyaan fans dengan caranya sendiri. “You’ll see more and more creating their own entertainment formats, content networks, and that is away from the clubs,” kata Kirkham.

Ketika bintang pergi: apakah klub tetap memegang penggemar?

Pertanyaan yang mengemuka bagi klub adalah apakah mereka mampu mempertahankan penggemar yang datang karena seorang pemain, ketika sang pemain meninggalkan klub. Kyle memberi contoh Son Heung-min yang, menurut ceritanya, awalnya bukan superstar global saat tiba dari Korea, tetapi merupakan sosok besar dari negaranya. Selama waktunya di Tottenham Hotspur, klub itu disebut menjadi klub asing paling didukung di sana, bahkan menyalip Manchester United.

Ia lalu menambahkan dampak saat Son pergi. “Son is a great example,” kata Kyle. “He wasn’t a global superstar when he arrived but he was a huge player from South Korea, and over the course of his time with them Spurs became the most-supported foreign club there, topping Manchester United.”

“Now, when Son left, Spurs didn’t immediately lose millions of followers on their socials from Korea,” tutup Kyle dalam kutipan yang tersedia pada teks sumber.