jurnalistik.co.id – Kekurangan Celtic tampak telanjang saat mereka kembali merasakan pahitnya Liga Champions. Setelah memegang agregat 4-0, tim asuhan mereka justru runtuh di hadapan LASK—dengan Callum McGregor menjadi salah satu pihak paling keras mengkritik cara tim bereaksi ketika tekanan datang.
McGregor mengungkapkan kekecewaannya dengan menyebut rekan-rekannya “passive” dan “scared”. Ia juga melontarkan sindiran tajam, “now we’ll see what people are made of”, seolah menantang tim untuk membuktikan mentalitas mereka ketika pertandingan benar-benar menentukan.
Untuk ukuran seorang kapten, kata-kata itu bukan sekadar emosi sesaat. Dalam karier Eropa yang panjang, McGregor sudah sering melewati malam-malam sulit, dari hasil-hasil memalukan hingga kegagalan pada momen-momen kunci.
Namun, pada Selasa malam, kemarahan itu terdengar berbeda. Ia tidak meradang dengan cara yang biasa—ia memilih berbicara tenang, tetapi dengan bobot yang membuat kritiknya terasa lebih menghantam.
Masalahnya bukan semata karena Celtic kalah. Yang membuat malam itu semakin menyakitkan adalah bagaimana mereka kehilangan kendali, mengizinkan LASK mengambil alih ritme pertandingan, lalu terus mendorong agregat sampai akhirnya menjadi sebuah “rout”.
Awal yang terlihat menjanjikan, lalu retak di momen-momen kecil
Di laga itu, McGregor membuka skor dengan sepakan yang membelok, membawa Celtic unggul 4-0 dalam agregat. LASK sempat memulai dengan baik, tetapi gol tersebut seperti menghantam mental mereka—hingga tampak seolah Celtic punya pijakan kuat untuk menjaga situasi.
Tetapi sepak bola tidak selalu memberi ruang untuk rencana yang semula rapi. Saat Benjamin Nygren melakukan operan yang terlalu longgar, bola justru berujung pada gol penyama kedudukan LASK pada malam itu.
Ketika skor bergerak menjadi 4-1 di agregat, pertanda goyah mulai terlihat. Menjelang menit ke-32, Celtic tidak terlihat sepenuhnya nyaman dengan kondisi yang seharusnya mereka kuasai.
Lebih buruk datang pada awal babak kedua. Hanya tiga menit setelah jeda, Celtic kembali kebobolan dan agregat berubah menjadi 4-2. Auston Trusty disebut paling bertanggung jawab pada momen tersebut—brushed off the ball, lalu gagal merespons dengan tepat.
Tak hanya satu kesalahan yang memicu bencana. Kejatuhan itu berkembang cepat, dengan LASK menyelesaikan gol ketiga mereka sekitar sepuluh menit setelah gol kedua tuan rumah.
Pada titik itu, banyak bagian dari tim Celtic terlihat berada dalam mode ketakutan penuh. Perlahan, “slow death” yang tadinya tertahan akhirnya menjadi laju yang sulit dihentikan.
Camilo Duran—yang menjadi sosok penting pada leg pertama—berubah menjadi figur yang nyaris tidak punya dampak pada pertandingan ini. Kasper Hogh juga bekerja, tetapi kontribusinya tidak mampu mengubah arah pertandingan.
Serangan Celtic menjadi tidak terarah. Umpan-umpan mereka mulai sering melenceng, dan ketika bola bergerak ke wilayah yang seharusnya mereka kuasai, keputusan serta eksekusinya tidak lagi sinkron.
Dalam gambaran yang keras tapi tepat, “Rabbits in headlights don’t look as lost as Celtic did” ketika tekanan mulai benar-benar menekan.
O’Neill mengambil tanggung jawab, tetapi rotasi tak mengubah nasib
Berita Terkait
Jika McGregor semula mencoba memadamkan kebakaran dalam timnya, ia justru seperti tidak menemukan cara untuk memutus ketegangan yang sudah terlanjur mengunci para pemain. Martin O’Neill, menurut laporan pertandingan, tampak seperti manajer yang jauh lebih tua dari usianya—sebuah tanda bahwa malam itu benar-benar berjalan di luar kendali.
O’Neill kemudian mengambil tanggung jawab dan menyebut hasil ini sebagai “one of his worst in football”. Akan tetapi, tanggung jawab seperti itu tidak bisa dipikul sendirian; apa yang terjadi di lapangan menunjukkan masalah kolektif.
Upaya menghentikan arus kemunduran dilakukan lewat perubahan pemain. O’Neill menghabiskan bangku cadangannya dengan lima pergantian dalam 12 menit. Akan tetapi, perubahan itu tidak membawa dampak berarti.
Celtic bahkan tidak memiliki satu pun tembakan tepat sasaran di babak kedua waktu normal maupun selama extra-time. Gambaran tersebut menegaskan betapa sulitnya mereka membangun serangan, dan betapa dominannya LASK setelah ritme pertandingan benar-benar beralih.
LASK pada akhirnya menyelesaikan laga dengan gol keempat yang, pada fase tersebut, disebut layak. Di fase akhir, Celtic juga mengalami kondisi fisik yang melemah—Cameron Carter-Vickers tampak sedang pincang, sementara Hogh mendapat perlakuan serupa.
Statistiknya pun memperjelas arah pertandingan. LASK mencatat 33 tembakan ke arah gawang Celtic, dan mereka berakhir dengan total 40 tembakan; sementara dalam leg pekan sebelumnya tercatat 20 tembakan dari pihak Celtic.
Serangan LASK datang seperti gelombang yang berulang. Celtic mencoba menahan dengan garis belakang Anthony Ralston, Dane Murray, Trusty, dan Liam Scales. Namun, saat lima gol terakhir mengalir, terlihat bahwa banyak momen krusial kembali terlewat—termasuk pada gol kelima yang digambarkan sebagai “a mercy”, ketika seorang pemain Celtic berada pada waktu yang keliru dan tempat yang salah.
Dalam konteks itu, McCowan disebut menggantikan peran Nygren dan Trusty, tetapi terlambat untuk mengubah keseluruhan narasi permainan.
Ambisi dan kebutuhan struktur tim akan jadi sorotan
Malam itu bergerak menuju penutup tanpa memberi ruang pemulihan. LASK sempat melewatkan penalti saat skor sudah 6-1. Lalu, Miguel Freckleton—yang baru-baru ini berasal dari St Mirren—memulai aksi individu dan sempat mengancam untuk mencetak gol kedua bagi timnya, setidaknya untuk “a second”, sebelum akhirnya momen itu mereda.
Walau Freckleton tetap layak mendapat kredit atas kemampuannya di beberapa menit, Celtic pada saat itu sudah terlalu jauh dari permainan yang bisa dipulihkan. LASK mendominasi dalam berbagai aspek: “spooked”, “over-powered”, “out-fought”, dan “out-played”.
Yang dipertanyakan berikutnya adalah bagaimana performa pada pekan lalu—ketika Celtic terlihat lancar dan efisien—ternyata hanya menjadi ilusi bagi mentalitas. Hasil ini menunjukkan adanya kekurangan psikologis dan kelemahan dalam cara tim mengelola tekanan ketika permainan berbalik.
Muncul juga pembacaan bahwa Celtic membutuhkan tambahan di beberapa titik. Mereka disebut memerlukan bek kiri cadangan untuk Kieran Tierney, tetapi kabarnya tidak memilikinya dengan kualitas yang diharapkan.
Di lini tengah, Celtic juga membutuhkan kehadiran fisik yang lebih kuat—figur dengan “stature”, pemain yang tidak mudah dipatahkan dan tidak bisa ditundukkan seperti yang terjadi pada pertandingan di Austria. Meski klub melakukan perombakan dan transaksi transfer, disebutkan bahwa itu tidak cukup untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Kritik terhadap ambisi—disebut sebagai “The A-word – ambition”—akan kembali muncul setelah pertandingan yang berakhir dengan komposisi belakang Ralston, Murray, Trusty, dan Scales ketika Celtic menghadapi laga yang nilainya dinilai besar, hingga disebut £40m match. Intinya, pekerjaan yang seharusnya dilakukan klub tidak terlihat berjalan sesuai rencana, baik di lapangan maupun dari struktur persiapan.
Beberapa kekalahan Eropa sebelumnya pun disebut mahal bukan hanya dari sisi finansial, tetapi juga dalam ukuran harga diri. Celtic sempat berharap mereka meninggalkan papan gambar Liga Champions, tetapi pada kenyataannya, mereka kembali menghadapi bentuk rasa sakit yang sama seperti saat tim-tim lain—Kairat, Midtjylland, Ferencvaros, Cluj, dan AEK—yang justru membuat mereka tersungkur.
Dengan daftar itu bertambah, “ambition” dan kemampuan menghadapi tekanan menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab setelah malam seperti ini. Dan bagi McGregor, kemarahan yang ia sampaikan bukan sekadar kritik—melainkan peringatan bahwa pada level tertinggi, sikap ketika “chips were down” sering lebih menentukan daripada rencana ketika pertandingan masih berjalan mudah.












