jurnalistik.co.id – Sir Nick Faldo menilai para pemain LIV yang ingin kembali ke DP World Tour mungkin tidak bisa langsung masuk begitu saja. Menurut legenda golf enam kali juara major itu, mereka perlu “eat a bit of humble pie” terlebih dulu sebelum melanjutkan jalan mereka di sirkuit Eropa.
Pembicaraan ini muncul ketika musim 2026 LIV dinyatakan berakhir pada Minggu pekan lalu di Indianapolis. Pekan berikutnya, gelaran Team Championship di Michigan justru dibatalkan, sehingga sejumlah pemain memilih jalur kompetisi lain untuk tetap tampil di turnamen-turnamen berikutnya.
Di saat yang sama, Tyrrell Hatton, Tom McKibbin, dan Adrian Meronk akan berlaga di Husqvarna British Masters yang dimulai Kamis. Faldo sendiri sedang mempromosikan turnamen Belfry, sementara Scott O’Neil—bos LIV—terus mencari skema pendanaan baru agar liga tetap berjalan tahun depan.
O’Neil menginginkan investasi senilai $350m (£258m) untuk mempertahankan operasional musim berikutnya. Faldo menyebut ia mendengar sinyal yang tidak menggembirakan soal arah LIV, karena “I’m hearing there are more players wanting to leave LIV than want to stay,” menurutnya kepada BBC Sport.
Faldo menilai kondisi itu memberi gambaran bahwa prospek ke depan mungkin tidak berjalan mulus. Ia menegaskan bahwa bila banyak pemain justru berupaya keluar, maka arah perjalanan liga akan menghadapi tantangan besar pada periode berikutnya.
Di lapangan, Hatton, McKibbin, dan Meronk tetap memiliki peluang bertanding sebagai anggota DP World Tour. Mereka mendapatkan akses tersebut setelah menerima kesepakatan yang memungkinkan pemain bisa bermain di dua tur tanpa sanksi pada musim ini.
Dalam suasana turnamen Indianapolis, Hatton bahkan memilih lagu jalan masuk (walk on) Queen—“I Want to Break Free”. Faldo menilai pilihan tersebut dapat terbaca sebagai sinyal kuat bahwa Hatton ingin meninggalkan tur yang dimulai pada 2022.
Meski begitu, Hatton tetap membawa keuntungan dari kemenangan turnamen terkini yang membuat status DP-nya tetap terlindungi. Sementara itu, Jon Rahm—dua kali juara major—juga memiliki pengecualian (exemptions) yang membuatnya berpotensi memenuhi syarat tampil di DP World Tour apabila ia memutuskan hengkang dari kubu LIV.
Nah, pada titik inilah Faldo menekankan agar kepulangan dari LIV tidak menjadi proses yang terlalu mudah. Ia mempertanyakan cara kerja “jalur kembali” dan menyampaikan gagasan bahwa pemain perlu melewati tahap awal lagi agar kompetensi mereka benar-benar teruji ulang.
Berita Terkait
“How do they actually give them a route back?” Faldo menambahkan, menyoroti bahwa langkah dari awal seharusnya menjadi konsekuensi dari pilihan yang pernah “mengganggu” lanskap golf. Ia juga berkata, “go and start again. Go back to tour school,” seolah menegaskan bahwa para pemain harus kembali ke fondasi—“Hey, you might have to eat a bit of humble pie and say, well, I want to be a proper golfer again, and so I’ve got to start back where I’m meant to be and I’ll work my way up the good old way with my skills and my scoring.”
Di luar pernyataan individu, isu reintegrasi pemain yang kembali menjadi pembahasan penting dalam rapat komite turnamen DP World Tour pada Selasa sore. Faldo menyatakan bahwa bagaimana cara memperlakukan pemain yang ingin keluar dari LIV dan bergabung lagi akan memerlukan perhitungan matang dari sisi tour.
Menurut gambaran yang dibahas, PGA Tour menerapkan larangan menyeluruh selama satu tahun bagi anggota yang ikut ke LIV. Namun, DP World Tour mengambil pendekatan yang lebih “nuanced” karena banyak pemain Eropa papan atas kini berbasis di Amerika Serikat, sehingga organisasi Wentworth ingin tetap menarik sebanyak mungkin nama besar.
Tetapi di sisi lain, tour juga perlu melindungi kepentingan anggota yang sejak awal setia pada jalur DP World Tour. Seorang sumber senior menyebut prosesnya seperti “difficult jigsaw”, sebab mereka harus mencari cara yang tepat untuk menangani para pemain yang berpotensi kembali.
Faldo menggambarkan bahwa hasil diskusi bisa berbentuk negosiasi, terutama bila seseorang sudah memiliki pengecualian pada turnamen-tour besar. Ia mencontohkan Jon Rahm, yang menurutnya “obviously carry it through majors and that sort of thing,” karena statusnya sudah punya landasan.
Untuk pemain lain, Faldo menilai ada pelajaran yang seharusnya dipegang. Ia menegaskan bahwa “all the other guys” pernah menyebabkan “quite a disruption” di dunia golf, dan bahwa mereka pada dasarnya “were in a way invited into LIV,” yang—dalam pandangannya—tidak sejalan dengan budaya tradisional dalam golf.
Faldo mengingatkan bahwa dulu semua orang harus melalui kualifikasi pada Senin (Monday qualifying). Ia bahkan menyatakan, “I personally think that’s the way it should be, you start again and climb the ladder,” sebuah penegasan bahwa jalan kembali seharusnya mengikuti tradisi pembuktian bertahap.
Ia juga menyebut sejumlah nama yang rekam jejaknya di LIV dan statusnya kini sedang dipertimbangkan. Joaquin Niemann dari Chile, misalnya, dikenal sebagai salah satu yang paling sukses di LIV dengan meraih lebih dari £60m dalam prize money, tetapi saat ini ia tidak memenuhi syarat untuk kedua tur—PGA dan DP World Tour.
Selain Niemann, status Lee Westwood, Ian Poulter, dan Sergio Garcia juga berada dalam ruang perdebatan. Nama lain yang kini menempuh babak awal kualifikasi adalah Josele Ballester dari Spanyol dan Peter Uihlein dari Amerika, yang sudah masuk tahap pertama DP World Tour qualifying school di Huddersfield pada 2 September.
Dengan semua pertimbangan itu, Faldo menempatkan pesan utamanya pada satu gagasan: kepulangan bukan sekadar soal keputusan administratif, melainkan soal kesiapan bersaing dan kesediaan memulai lagi dari jalur yang benar. Bagi tour, tantangan terbesar adalah menyusun aturan yang tetap adil bagi semua pihak, sambil menjaga masa depan kompetisi Eropa tetap kuat dan relevan.









