Internasional

Ribuan Pasangan Memilih Skotlandia untuk Mengucap “I Do”

×

Ribuan Pasangan Memilih Skotlandia untuk Mengucap “I Do”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why thousands of couples are choosing Scotland to say 'I do'

jurnalistik.co.id – Hampir seperempat pernikahan yang tercatat di Skotlandia tahun lalu melibatkan pasangan yang tidak tinggal di negara itu. Data National Records of Scotland menunjukkan bahwa dari 27.191 pernikahan yang dicatat pada 2025, 6.596 di antaranya melibatkan dua pihak yang sama-sama bukan penduduk Skotlandia.

Fenomena ini juga terlihat pada pengalaman banyak pasangan lintas negara yang memilih Skotlandia sebagai tujuan utama. Mereka datang dengan harapan merayakan hari paling penting sambil menyertakan unsur petualangan bagi keluarga dan teman-teman.

“I do” akhirnya tidak hanya terdengar seperti janji pribadi, tetapi menjadi rencana perjalanan bersama. Bagi sebagian pasangan, keputusan itu berawal dari ketertarikan pada visual dan tradisi—lalu menguat setelah mereka melihat langsung suasana di lokasi.

Gretna Green: tradisi romantis yang bertahan lebih dari dua abad

Tidak ada nama yang lebih sering disebut ketika membahas pernikahan tujuan di Skotlandia selain Gretna Green. Dari 6.596 pernikahan pada 2025 yang melibatkan pasangan non-warga, sebanyak 3.492 berlangsung di kota Dumfries and Galloway, atau lebih dari separuh pernikahan tujuan di Skotlandia.

Reputasi ini berakar pada perubahan aturan pernikahan di Inggris pada 1754. Saat undang-undang tersebut mendorong pasangan muda yang ingin menikah cepat melintasi perbatasan, Gretna Green kemudian menjadi tempat yang memungkinkan mereka menikah tanpa perlu persetujuan orang tua.

Patryk dan Angelika, keduanya berusia 27 tahun, menjadi salah satu pasangan yang tertarik oleh jejak sejarah yang panjang itu. Mereka melakukan perjalanan dari Inggris bagian barat laut untuk menikah di Gretna Green pada bulan Juni.

Menurut keduanya, Skotlandia sudah tertanam dalam cerita keluarga mereka jauh sebelumnya. Mereka pertama kali bertemu saat berusia 15 tahun—setelah orang tua Patryk pindah dari Polandia ke Inggris—dan salah satu hal yang langsung mereka sukai adalah film “Loch Ness” tahun 1996.

Tahun-tahun berikutnya, memori itu kembali terasa penting ketika Patryk melamar di tepi Loch Ness. Angelika menceritakan bahwa bahkan cuaca Skotlandia pun ikut memberi daya tarik, seraya menegaskan bahwa hari mereka terasa seperti bagian dari warisan yang lebih besar.

Angelika juga menyebut momen paling berkesan ketika pengantin berjalan menyusuri lorong dengan iringan “Flower of Scotland” yang diperdengarkan melalui alat musik bagpipe. “That sort of music just creates such a whimsical and romantic atmosphere that really can’t be recreated in many countries outside of Scotland,” ujar Angelika.

Bagi keluarga mereka yang datang dari Polandia, pengalaman itu juga menjadi sesuatu yang baru. “They hadn’t really experienced anything like that before,” kata Angelika.

Pulau Arran dan daya tarik lanskap yang terasa “sebagai rumah”

Skotlandia juga hadir dalam kisah Chihon dan Anna Maria yang datang dari luar Eropa. Chihon berasal dari Chili, sementara Anna Maria dari Moldova; mereka awalnya datang untuk belajar, tetapi negeri itu kemudian menjadi latar dari hubungan mereka.

Mereka bertemu pada 2018 lewat komunitas tari di University of Edinburgh. Anna Maria sedang menjalani program pertukaran Erasmus, sedangkan Chihon menyelesaikan studi pascasarjana, lalu persahabatan mereka berlanjut selama bertahun-tahun hingga akhirnya berubah menjadi hubungan pada saat Anna Maria kembali ke Edinburgh pada 2024.

Empat bulan setelah pertunangan, pasangan ini berjalan menuju pelaminan di Isle of Arran. Mereka mengatakan jatuh cinta pada pulau itu sejak pandangan pertama karena “complete scenery of Scotland”, dan Chihon menggambarkannya sebagai tempat yang terasa magis. “You feel that you’re in a magical place,” katanya, “It’s very unique.”

Chihon menambahkan bahwa keputusan mereka terasa alami. “We’re from two different continents,” ujarnya, “Scotland is where we met and where we built our life together.”

Upacara mereka menjadi titik temu keluarga dan sahabat dari berbagai penjuru. Sebagian rangkaian prosesi diterjemahkan secara langsung ke bahasa Spanyol dan Rusia bagi kerabat yang datang dari Chili dan Moldova.

Perayaan malam itu juga memuat ceilidh tradisional, serta karaoke bernyanyi bersama yang dipimpin para tamu pernikahan mereka dari Skotlandia dengan lagu “Sunshine on Leith”. Chihon menuturkan bahwa ketidaktahuan beberapa tamu terhadap tradisi setempat tidak mengurangi antusiasme: “We had people saying, ‘We have no idea what’s going on, but we’re going to join in’.”

Istana di dekat Edinburgh: kemudahan merencanakan dari luar negeri

Kisah lain datang dari Hayden dan Savannah. Keduanya memilih pernikahan di sebuah kastel dekat Edinburgh, meski mereka baru tiba di Skotlandia dua hari menjelang hari H, yang membuat perencanaan dari luar negeri terasa “remarkably straightforward”.

Dalam pilihan mereka, daya tariknya tidak hanya pada pemandangan, tetapi juga pada rasa sejarah yang dirasakan lebih sulit ditemukan di tempat asal. “Scotland has this combination of this lovely countryside beauty and history,” kata Savannah. “You don’t get a lot of the historical venues like you do here, in the United States.”

Mereka juga menyisipkan tradisi Skotlandia ke dalam upacara, termasuk ritual handfasting bergaya Celtic. Kain-kain untuk ritual tersebut disediakan oleh dua nenek dari masing-masing sisi keluarga.

Hayden menjelaskan bahwa bagian penting dari keputusan mereka adalah kesempatan berbagi pengalaman dengan orang-orang terdekat. “We wanted to go somewhere that would take our whole family on an adventure with us,” ujarnya.

Banyak tamu kemudian memperpanjang kunjungan untuk menjelajahi Skotlandia, bahkan ikut dalam perjalanan setelah upacara—termasuk ketika mereka menyusul pasangan tersebut ke Highlands untuk bulan madu. Savannah menilai, setelah menoleh ke belakang, Skotlandia melampaui semua ekspektasi yang mereka bawa sejak awal. “Scotland is like nothing we’ve ever seen before. We were just blown away by how beautiful everything was.”

Samuel—dalam satu bagian kutipan yang sama—menutup dengan keyakinan bahwa Skotlandia akan selalu menempati tempat khusus dalam hidup mereka. “Like Robbie Burns said, ‘my heart’s in the Highlands wherever I go’,” katanya, “I think Scotland will be with us forever. I couldn’t be more grateful. It was already special to me before, but now that I’m married to the woman of my dreams, it’s like I owe everything to Scotland.”

Pada akhirnya, alasan terbesar banyak pasangan bertemu pada titik yang sama: mereka mencari tempat yang bukan sekadar latar foto, tetapi menyatukan tradisi, lanskap, dan sejarah menjadi satu rangkaian pengalaman. Skotlandia—baik melalui Gretna Green, Isle of Arran, maupun kastel-kastel dekat Edinburgh—menjadi wujud dari harapan itu.