Olahraga

The Hundred: Sejauh apa pemilik baru memengaruhi turnamen?

×

The Hundred: Sejauh apa pemilik baru memengaruhi turnamen?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: The Hundred: What has the impact of new ownership been on the tournament?

jurnalistik.co.id – Setelah “The Hundred” menjalani musim perdananya pasca masuknya pemodal baru, perubahan terasa bukan hanya di lapangan, tetapi juga pada cara liga membangun identitas tim dan menjangkau penonton yang lebih luas. Tahun pertama ini sekaligus menjadi panggung bagi rebranding besar, termasuk pergantian nama dan warna pada sejumlah waralaba.

Pertanyaan utamanya sederhana: seberapa jauh kepemilikan baru memengaruhi jalannya kompetisi, dan apakah dampaknya lebih banyak positif? Jawaban yang muncul di musim perdana ini tidak tunggal, karena di satu sisi ada percepatan strategi pemasaran dan operasional, sementara di sisi lain terjadi transisi loyalitas yang tidak selalu mulus dari basis penggemar lama.

Pada level hasil, pendatang baru langsung menebar sinyal. Trent Rockets lebih dulu membawa trofi putri, sebelum Manchester Super Giants (MSG) mengunci gelar putra di final di Lord’s pada Minggu. Perjalanan MSG juga menunjukkan pola investasi yang cepat: mereka merombak diri setelah RPSG group pimpinan taipan India Sanjiv Goenka membeli saham pengendali 70% waralaba, sementara Lancashire memegang 30% kepemilikan.

Goenka, yang lewat organisasi IPL-nya Lucknow Super Giants belum menjejak final kompetisi tersebut sejak didirikan pada 2022, justru menghadirkan keberhasilan instan di The Hundred. Tim asuhan Jos Buttler langsung naik ke puncak, memenangi gelar pertama untuk waralaba Manchester pada kategori putra maupun putri dalam musim yang sama.

Dari sisi strategi merek, rebranding dinilai sebagai langkah yang “besar dan berisik” di pasar Inggris. Daniel Gidney—sebagai chief executive Lancashire sekaligus duduk di dewan MSG—menekankan bahwa ketika meluncurkan identitas baru di kota yang dikuasai budaya sepak bola, pendekatannya tidak boleh setengah hati. “If you’re trying to launch a new brand in a new market, in the UK particularly, in a city that is dominated by football, you’ve got to go big and loud,” katanya kepada BBC Sport.

Langkah berani itu diwujudkan melalui sebuah “brand activation” yang menyasar langsung dukungan penggemar. Salah satu hasilnya adalah distribusi hampir 30.000 jersey gratis kepada fans Super Giants. Gidney menilai kebijakan tersebut jauh melampaui ekspektasi awalnya. “To give everybody a free jersey who bought a ticket is extraordinarily different,” katanya. Ia menambahkan alasan yang biasanya menghambat skema serupa di dunia olahraga komersial: “You can’t normally do it because a kit manufacturer will go, ‘No, no, no. I’ve got to sell that kit for ÂŁ60-80.’”

Menurut Gidney, keputusan untuk memberi jersey gratis justru memunculkan dampak yang lebih besar dibanding yang ia perkirakan. “You never get anything for free. It’s had a massive impact, much more than I thought.” Selain itu, ada pertimbangan bisnis yang ikut bermain: pilihan pada tahun pertama adalah melepas peluang kesepakatan kit yang berpotensi lebih rendah demi membangun merek MSG, membawa fans mengenakan warna tim, lalu membuka ruang untuk kesepakatan pemasok yang lebih menguntungkan di tahun-tahun berikutnya.

Namun, manfaat itu tidak berhenti pada sisi waralaba saja. Gidney menyebut Lancashire tetap dapat mempertahankan pengaturan dagang tertentu, termasuk penjualan merchandise di lokasi pertandingan. “ret i n effectively 50% merchandise arrangements” menjadi salah satu catatan yang ia sebut, karena MSG memungkinkan Lancashire memakai hasil pembelajaran sebagai “bit of a pilot” untuk kemungkinan ditarik ke kompetisi T20 Blast.

Di lapangan, MSG juga menggabungkan strategi rekrutmen dan manajemen ketika musim bergulir. Mereka bukan hanya menikmati kemenangan di awal, tetapi juga mengantongi hadiah uang sebesar £275,000. Meski begitu, perjalanan tidak steril: mereka kehilangan kapten Aiden Markram pada pertengahan fase grup karena kepulangan ke Afrika Selatan demi alasan personal. Perubahan peran kemudian berlangsung mulus, dengan Jos Buttler yang “seamlessly stepped up,” sementara penunjukan Tom Moody sebagai direktur dipandang sebagai keputusan cerdas.

Moody, mantan pemain Australia, pernah berada di posisi yang menentukan saat Oval Invincibles mendominasi The Hundred putra, meraih tiga gelar beruntun. Ia kini diharapkan dapat menambah capaian di Old Trafford bersama Justin Langer—yang direkrut sebagai pelatih mulai musim ini dan menempati peran yang sama dengan tugasnya di Lucknow. Untuk tim putri, mereka bahkan nyaris masuk delapan besar, tetapi peluang terlihat tetap baik apabila Meg Lanning dipertahankan sebagai pemimpin tim.

Selain MSG, rebranding juga bisa menghasilkan efek positif meski dilakukan dengan pendekatan berbeda. London Spirit berbasis di Lord’s memilih menjaga warna biru dan hitam dari kostum sebelumnya, lalu menambahkan garis merah dan kuning milik Marylebone Cricket Club (MCC). Replika jersey Spirit dijual seharga £55, namun stok yang disiapkan untuk 2026 dan 2027 disebut sudah habis lebih cepat dari rencana. Spirit juga mengalami kenaikan popularitas di kalangan penggemar kriket baru maupun yang sudah mapan: jumlah anggota MCC yang hadir di pertandingan Hundred meningkat dua kali lipat dibanding tahun lalu.

Meski begitu, tidak semua indikator komersial menunjukkan lonjakan yang sama. Secara keseluruhan, jumlah penonton dan penjualan tiket disebut sedikit turun dibanding musim sebelumnya. Meski begitu, direktur turnamen Vikram Banerjee menekankan adanya perubahan besar dalam skala operasional kompetisi. “It’s impossible to overstate the scale of operational change the competition has gone through this season, but we’re really happy with where we are and what has been delivered this year,” ujarnya kepada BBC Sport.

Di beberapa venue, transisi loyalitas ke identitas waralaba lama juga terlihat menimbulkan komplikasi. Oval Invincibles sempat terasa sebagai merek yang koheren dengan skema warna mint green mereka, dan keberhasilan panjang—dengan memenangkan lima dari 10 gelar di kompetisi putra dan putri sejauh ini—membuat basis fans tampak benar-benar “membeli” tim tersebut. Kini, mereka berganti menjadi MI London, dengan kostum biru yang selaras dengan merek waralaba lain milik pemilik yang sama, termasuk Mumbai Indians, tetapi tampil lebih generik. “Time will tell if fans feel quite as loyal to that franchise as they did,” tulis laporan tersebut.

Meski rebranding terjadi, masih ada perpecahan yang mendasar di lingkungan kriket terkait apakah “The Hundred” memang seharusnya hadir sebagai format. Seorang investor yang berbicara dengan BBC Sport menyebut hubungan antara waralaba Hundred dan county yang memegang saham dinilai sangat baik, tetapi ia terkejut dengan reaksi negatif dari “traditional County Championship fans”. Namun, bagi sebagian pihak, angka kehadiran penonton baru justru menjadi ukuran yang tidak bisa diabaikan.

Mark Rhydderch-Roberts, ketua Glamorgan, menilai liga menghadirkan demografi yang benar-benar berbeda dan lebih muda ke dalam olahraga. “The most important thing is that it’s brought a completely different and younger demographic into the sport,” katanya. Ia menambahkan rincian data yang ia sebut relevan bagi Welsh fans: “46% of ticket buyers are new to Sophia Gardens, 30% are female buyers, and 46% are family tickets.”

Gidney menyambungkan temuan itu dengan tugas berikutnya: mengubah penonton baru menjadi penonton yang lebih luas di kompetisi lain. “It’s down to my job to try and convert those to come and watch the Blast and ultimately the County Championship,” ujarnya. Ia menutup dengan keyakinan bahwa efek domino itu akan dirasakan di level yang lebih luas. “It’s lifting everybody up.” Rhydderch-Roberts juga menilai dampaknya nyata di Wales ketika kompetisi ini memberi ruang untuk melampaui tantangan lingkungan ekonomi makro. “The Hundred has given us the chance to really transcend what’s a difficult and fairly challenging macroeconomic environment and take us in a different direction,” katanya.

Dari sisi audiens yang lebih besar, metrik berikutnya kemungkinan adalah televisi dan nilai broadcast yang dapat berkembang. Di India, sebelumnya platform streaming online FanCode menjadi satu-satunya tempat untuk menonton The Hundred, tetapi pada tahun ini turnamen tampil di pusat perhatian JioStar—di kanal yang sama tempat penggemar biasa menyaksikan IPL. Pertumbuhan audiens siaran yang masih sederhana sejauh tahun ini disebut menjadi permulaan yang menggembirakan, dan negosiasi kesepakatan siaran baru akan dimulai pada tahun depan.

Namun fokus pada hubungan dengan IPL juga memunculkan penilaian berbeda. Empat dari delapan tim Hundred dimiliki oleh grup yang sama dengan waralaba IPL. Di lapangan, suasana pertandingan tampak berbeda, termasuk gaung “MSG! MSG! MSG!” di Old Trafford yang bernuansa IPL. Meski begitu, Richard Gould, kepala eksekutif ECB, menegaskan pasar India tidak boleh menjadi satu-satunya tujuan. “The Indian market is marginal to us when you look at the relative broadcast values from overseas,” katanya. Ia menambahkan bahwa ini adalah kompetisi Inggris untuk basis penggemar Inggris. “This is a UK competition, largely for a UK fanbase and a UK market, and that will always be our strength and our focus.”

Gould juga menyebut bahwa meski The Hundred “would love” meniru Premier League sepak bola—ketika “50% of your revenue comes from overseas”—ada kebutuhan untuk menilai secara jernih posisi kriket dalam daya tarik global. “We’re at the start of that journey. We need to make sure that we focus on what’s right for our market,” ujarnya.

Di luar rebranding dan pemasaran, pertanyaan jangka panjang masih menggantung: apakah The Hundred suatu saat akan berubah menjadi liga T20 yang lebih umum? Vikram Banerjee menyatakan identitas turnamen saat ini dibangun oleh format khas 100 bola. “What’s really important for any sporting tournament is the strength of foundations within its home country,” katanya. “Whether you’re the NFL, the Premier League, the IPL, the strength in their home territory is important.”

Gidney juga menilai pergeseran ke format T20 bukan sesuatu yang otomatis diinginkan oleh investor. “Everybody sees the uniqueness of The Hundred, and that’s one of the big appeals to broadcasters,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa jika kompetisi berubah menjadi T20, keunikan itu akan kehilangan titik klaimnya. “If we become a T20, I don’t think we can say that. The Hundred gives the UK a real opportunity to say, ‘Do you know what? In certain elements we can be as good as, if not better than, the IPL.’”

Pada akhirnya, The Hundred akan tetap menjadi topik yang kontroversial. Format ini tidak akan cocok untuk semua orang, sama seperti format kriket lainnya yang selalu memiliki kubu dan penentang. Tetapi satu hal yang sulit dibantah: turnamen ini telah menghasilkan pendapatan besar dan memberi kriket Inggris kesempatan menjangkau audiens lokal maupun global yang mungkin tidak mudah dicapai tanpa perubahan radikal tersebut.