Olahraga

GP Bahrain di Malaysia: George Russell yakin tidak lagi merasa tersesat dan menatap kemenangan

×

GP Bahrain di Malaysia: George Russell yakin tidak lagi merasa tersesat dan menatap kemenangan

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – George Russell datang ke Bahrain Grand Prix di Malaysia dengan nada yang berbeda. Pembalap Mercedes itu mengatakan ia kini tidak lagi merasa “tersesat” saat menjalani balapan-balapan tersulit musim ini.

Russell menyebut pergeseran paling terasa ada pada keyakinan dan cara ia membaca mobil. “I don’t really feel lost any more,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa “Confidence is back and it’s growing again and it’s all coming a bit more naturally.”

Ia menjelaskan bahwa perubahan tersebut datang setelah ia menemukan pemahaman yang lebih jelas tentang cara mengemudikan mobil Mercedes pada aturan mesin dan paket aerodinamika baru. Russell memenangi balapan ketiganya musim ini di Azerbaijan akhir pekan lalu, sekaligus meraih kemenangan pertamanya dalam tiga bulan.

Dengan kondisi itu, ia kini mengejar ketertinggalan di klasemen. Russell berada di belakang Kimi Antonelli dengan selisih 66 poin, sementara jumlah balapan tersisa “either seven or eight races still remaining.”

Merasa siap bersaing memperebutkan kemenangan

Russell menilai performanya saat ini cukup untuk bertarung di bagian depan secara lebih konsisten. “The thing that’s changed is I feel my performances are strong enough to fight for victory week in week out,” kata pembalap asal Inggris tersebut.

Ia juga mengaitkan rasa “lebih menyatu” itu dengan apa yang ia butuhkan dari mobil dan dari dirinya sendiri. Russell menegaskan, “I know what I need from the car and myself and I don’t really feel lost any more.”

Balapan akhir pekan ini digelar di sirkuit Sepang, dengan deklarasi bahwa Bahrain GP “declared heat-hazard race.” Mercedes, menurut Russell dan timnya, memperkirakan tantangan kuat dari McLaren karena karakter lintasan yang dinilai cocok untuk mobil juara dunia.

Di saat yang sama, Mercedes memulai babak baru dengan “first major upgrade for some time.” Russell menyebut upgrade itu bagian dari harapan mereka untuk mengangkat peluang, termasuk saat ia mulai merasakan kendaraan berada dalam “window” yang lebih baik.

Perjalanan menyesuaikan gaya mengemudi

Russell mengakui awal musim tidak berjalan sesuai harapannya. Ia awalnya tampil sebagai favorit gelar, tetapi Antonelli lebih cepat mengambil alih momentum ketika Russell kesulitan mendapatkan pegangan optimal dari Mercedes pada perubahan besar di aturan.

Ia menyatakan bahwa ia harus “consciously adjust” gaya mengemudinya. “I went through a few races where I was having to think how to make those adjustments, whereas now it’s all just a bit more intuitive and a bit more natural,” ujar Russell.

Menurutnya, tujuan yang semula ia coba capai—agar mobil masuk ke kondisi yang sedikit lebih ideal—sekarang bisa didapat tanpa harus terlalu banyak “memikirkan” proses itu. “So what I set out to achieve, in terms of getting the car [into] a slightly better window, I’m now achieving without having to think about it as much. So I can just focus on driving fast.”

Russell juga menyikapi pertanyaan apakah performa kuat di Bahrain GP dapat mengubah psikologi persaingan gelar. “I’ve never really felt in a position to fight for the victories because my performances weren’t strong enough,” katanya, lalu menambahkan, “But now finally I feel I’m in a place I can fight for victory week in week out.”

Meski menyadari defisit besar, Russell menekankan sisa kompetisi masih cukup untuk membuat perbedaan. “Of course there is a big deficit in the championship, but there is a third of a season to go and still so much can happen. I am just going to go race by race. I feel more at one with the car and hopefully this upgrade will play into my favour a bit more. So bring it on.”

Antonelli melalui akhir pekan yang sulit di Baku

Dalam narasi yang turut membentuk fokus Russell, performa Antonelli akhir pekan di Baku juga disinggung. Antonelli mengalami akhir pekan yang sulit, dengan “a crash in qualifying” yang membuatnya start dari posisi ke-16.

Meski demikian, Antonelli mampu pulih dan menutup balapan dengan finis kelima. “Last weekend was probably there worst weekend from me of the season,” kata Antonelli, sambil menambahkan bahwa ia tetap mendapat “clean result” setelah akhir pekan yang terganggu.

Ia menjelaskan pendekatannya di Baku: “I consciously tried not to take any risks and just drive under the limit which was very weird but it was what I needed on Sunday.” Antonelli juga menyatakan pelajaran paling penting yang ia bawa pulang adalah konsistensi total. “I need to be always 100% because if I don’t try to do everything right in my power then nothing is going to come my way.”

Hamilton menegaskan dukungan untuk Frederic Vasseur

Di bagian lain dari pemberitaan, Lewis Hamilton menanggapi spekulasi terkait masa depan Frederic Vasseur. Dua hari setelah Ferrari membuat pernyataan publik yang tidak biasa untuk mendukung Vasseur, Hamilton menyebut Vasseur sebagai sosok pemimpin tim.

Hamilton menilai mengganti Vasseur akan menjadi kesalahan. “He’s doing a fantastic job,” kata Hamilton. “If you look at the history, how many people [have been swapped] out [of] that role… and I feel like it’s in a better place than it’s been before.”

Ia menegaskan bahwa situasi tim bukan hanya soal satu orang. “But it’s not a one-man situation. It’s lots and lots of people coming together and if you want to point fingers, point it somewhere else. There’s people above who are also part of it.”

Menurut Hamilton, Vasseur tetap menjalankan perannya. “Fred’s in his position, he’s not going anywhere and I’m here to stay with him and I still believe fully in where we’re going.” Ia juga menambahkan, “Swapping him out won’t change how the team is moving forward. If anything it will be detrimental.”

Hamilton mengaitkan penilaiannya dengan progres Ferrari setelah musim 2025 tanpa kemenangan, yang berakhir dengan finis keempat di klasemen tim. Ia menuturkan bahwa ia dan Leclerc masing-masing telah meraih kemenangan musim ini.

Ia juga menilai Ferrari punya fondasi sasis yang kuat untuk performa tikungan, tetapi mesin masih tertinggal dibanding Mercedes dan Red Bull. Hamilton menyebut posisi mereka di klasemen sebagai bukti perbaikan sekaligus tantangan yang belum selesai: “We’re second in the championship, a huge improvement on last year already.”

Hamilton menekankan gap performa tenaga: “And that’s with a deficit on power of average 0.4secs every single weekend. Some races it’s 0.6sec and we’ve still be delivering really great performances.” Ia menambahkan, “That just highlights how great a job people at the factory have done. All the negativity takes away from that.”

Dengan nada reflektif, Hamilton menyimpulkan proses perbaikan itu butuh waktu. “Of course we’re not where we want to be but you don’t go from last year’s experience straight to number one. It’s a process and I think we’ve built a good foundation this year, we need to continue to build on it. We’re not perfect yet but I do believe we can get there. I think we’ve had the best car this year. But it’s unfortunate we have been down 0.4secs on power. That is difficult overcome but it’s something we’re working on for next year.”