Hukum & Kriminal

Persidangan Lindsay Clancy Soroti Psikosis Nifas; Para Ahli Dorong Kemajuan Penanganan

×

Persidangan Lindsay Clancy Soroti Psikosis Nifas; Para Ahli Dorong Kemajuan Penanganan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Lindsay Clancy's trial put postpartrum psychosis on the map. Experts want progress to follow

jurnalistik.co.id – Persidangan Lindsay Clancy menyoroti satu kondisi psikiatrik yang kerap luput dari perhatian setelah melahirkan: psikosis nifas. Para ahli menegaskan, kondisi ini dapat muncul cepat dan perlu diperlakukan sebagai keadaan darurat.

Sebelum tiga anaknya meninggal, Clancy sempat menyampaikan kekhawatiran kepada ibunya dan mantan suami yang juga menjadi pasangan sebelumnya. Kesaksian Paula Musgrove, yang disampaikan di persidangan pekan ini, menyatakan bahwa pada masa itu Clancy mengatakan, “‘This isn’t me, I’ve never been like this before.’ And I would agree, because she wasn’t.”

Clancy tidak menyangkal bahwa ia melakukan pembunuhan tersebut, namun ia mengajukan pleidoi tidak bersalah atas dakwaan pembunuhan. Pihak pembela menilai Clancy mengalami psikosis nifas ketika mengambil nyawa ketiga anaknya.

Dalam argumentasi pembelaan, gejala yang disebut muncul mencakup halusinasi dan delusi. Pihak pembela menyebut, gangguan tersebut dimulai setelah kelahiran anak ketiga Clancy.

Paul Zeizel, seorang psikolog klinis dan forensik, menyampaikan di sidang Rabu, “She was unable to conform her behaviour to the rule of law and she had no appreciation for the wrongfulness of her act.” Di sisi lain, penuntut berpendapat bahwa Clancy membuat keputusan yang diperhitungkan untuk secara sengaja menghabisi anak-anaknya.

Anak-anak yang disebut dalam persidangan adalah Cora (lima tahun), Dawson (tiga tahun), dan Callan (delapan bulan). Perbedaan versi ini menjadi inti perdebatan: apakah tindakan Clancy terjadi dalam kerangka penyakit psikiatrik yang mengaburkan penilaian, atau merupakan rangkaian keputusan yang disusun sadar oleh pelaku.

Psikosis nifas: keadaan darurat yang bisa mengubah persepsi realitas

Psikosis nifas digambarkan sebagai kondisi langka yang dipandang sebagai keadaan darurat psikiatrik. Dalam kondisi ini, pasien dapat mengalami mania, depresi, atau kombinasi keduanya. Selain gangguan suasana hati, pasien juga dapat menunjukkan gejala psikotik seperti mendengar suara yang tidak ada.

Dalam kasus yang jarang namun berat, kondisi ini bahkan dapat mendorong seseorang melukai atau mengakhiri hidup dirinya sendiri maupun orang lain. Para ahli juga menekankan bahwa penyakit ini termasuk yang paling serius dialami perempuan setelah melahirkan, meski klasifikasinya belum sepenuhnya mapan di rujukan ensiklopedia psikiatri.

Saat jarak persidangan menuju satu bulan makin dekat, pembahasan mengenai komplikasi kesehatan mental setelah melahirkan kembali mendapat perhatian. Para ahli berharap dialog tersebut membantu meningkatkan pemahaman publik dan kewaspadaan klinis.

Gejala yang bisa datang cepat dan terasa seperti “saklar”

Menurut Susan Hatters-Friedman, profesor psikiatri forensik di Case Western Reserve University, psikosis nifas sering menampilkan gejala suasana hati seperti mudah tersinggung, perubahan mood, insomnia, serta kondisi yang menyerupai delirium. Ia menegaskan, “Psychosis in general as a term means that the person’s out of touch with reality, and that often includes hallucinations, hearing things, seeing things that aren’t there, delusions, which are fixed false beliefs that are not consistent with your culture.”

Ia mencontohkan pengalaman Meghan Cliffel yang mulai mengalami halusinasi saat usia delapan bulan pascapersalinan anak keduanya. Pada hari Jumat tahun 2015, setelah menyelesaikan pekerjaan di New York City, Cliffel meyakini bahwa orang-orang mengikuti dirinya. Ia juga merasa sedang direkrut untuk sebuah kultus dan menganggap dunia—termasuk suaminya—bersekongkol untuk menyakitinya bersama dua putrinya.

Sekitar 24 jam kemudian, Cliffel dibawa dengan borgol ke rumah sakit jiwa. Ia menghabiskan 12 hari untuk menjalani perawatan psikosis nifas. Hatters-Friedman menyatakan bahwa gejala psikiatrik seperti yang dialami Cliffel bisa muncul secara cepat, sehingga kondisi ini perlu ditangani sebagai keadaan darurat medis.

Di persidangan Clancy, mantan suami Clancy, Patrick Clancy, menggambarkan kontras yang mencolok pada hari kejadian. Ia mengatakan, pada saat pembunuhan terjadi, Clancy bermain bersama anak-anaknya di luar rumah sambil membuat patung salju. “She was having one of her best days,” ujar Patrick Clancy di ruang sidang.

Patrick menuturkan, sebelumnya Clancy pernah menyampaikan bahwa ia memiliki pikiran untuk bunuh diri atau melukai anak-anak. Namun pada hari itu, menurut kesaksiannya, semuanya tampak membaik. Menjelang malam Januari 2023, ia keluar untuk membeli makan untuk keluarga lima orang, lalu ketika kembali mendapati ketiga anaknya meninggal dan Clancy mengalami luka akibat percobaan bunuh diri.

Para ahli menilai perbedaan kondisi tersebut menunjukkan fenomena “saklar” yang bisa terjadi dalam psikosis nifas—gejala dapat naik turun. Jennifer Payne, pakar psikiatri reproduktif dari University of Virginia, menyampaikan, “A woman can appear fine one minute and be really ill a little bit later.”

Rangkaian penyebab yang belum sepenuhnya jelas

Meski demikian, penyebab psikosis nifas tidak sepenuhnya dipahami. Para ahli menyebut kemungkinan keterkaitan dengan perubahan hormon dan stres setelah melahirkan. Mereka juga melihat adanya hubungan dengan riwayat tantangan kesehatan mental sebelumnya ketika munculnya kondisi pada masa nifas.

Hambatan utama: status klasifikasi dalam DSM-5

Dalam pembahasan ahli dan pengalaman Cliffel, satu hambatan besar bagi kesadaran serta penanganan yang lebih baik adalah perlunya psikosis nifas secara formal dimasukkan ke Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, yang dikenal sebagai DSM-5.

DSM-5 merupakan pedoman gangguan mental yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association. Veerle Bergink, profesor psikiatri dan direktur Mount Sinai Women’s Mental Health Center, menyebut upaya memasukkan psikosis nifas ke DSM-5 berjalan terus-menerus.

Bergink menjelaskan dampaknya: tanpa penyebutan dalam DSM-5, penyakit itu tidak dibahas dalam buku teks sekolah kedokteran, sehingga mahasiswa tidak mempelajarinya dan masyarakat tidak banyak membicarakannya. Ia menyatakan, “You can only investigate and talk about the disease if you give the disease a name, and if it has criteria,” lalu menambahkan, “So you don’t get research funded, there is no money, there is no care system, there is no insurance code.”

Cliffel, yang merasakan gangguan ini secara langsung, menyebut kurangnya pengakuan dalam DSM-5 seperti “bananas” dan menggambarkannya sebagai bentuk penghapusan. Ia mengatakan, “It feels like an erasure,” serta menambahkan bahwa ada proses penyembuhan ketika akhirnya seseorang menamai kondisi yang dialaminya, “I know how healing it is to have somebody finally name what you have.”

Ia juga merujuk pada efek berantai dari minimnya klasifikasi, mulai dari edukasi klinisi, pengetahuan keluarga, hingga cakupan asuransi. Cliffel menyebut momen ini tidak seharusnya membuat tragedi mengejutkan, melainkan mendorong upaya pencegahan dan dukungan. Ia menyampaikan, “And so I see this moment,” lalu merujuk pada persidangan Clancy, “[as one where] we cannot be surprised when tragedy happens, and instead, we can proactively build to care for mothers and families.”

Bentuk perawatan dan peluang pemulihan

Para ahli menegaskan bahwa psikosis nifas dapat ditangani. Lithium, yang berfungsi sebagai penstabil suasana hati, disebut sebagai salah satu terapi yang umum. Obat ini sering diberikan untuk membantu mencegah kekambuhan.

Namun, pilihan terapi lain juga digunakan sesuai kebutuhan pasien dan gejala yang muncul, termasuk electroconvulsive therapy (ECT) serta obat antipsikotik. Hatters-Friedman menyatakan banyak perempuan memerlukan perawatan inap di rumah sakit jiwa, tetapi dengan penanganan yang tepat, pemulihan bisa terjadi.

Hasil dalam kasus Clancy digambarkan sebagai kejadian yang sangat jarang. Penelitian menyebut perempuan dengan psikosis nifas melukai atau membunuh anak-anaknya pada kisaran 1% hingga 4% dari waktu kejadian. Dengan kata lain, sebagian besar pasien membutuhkan dukungan klinis dan perawatan agar kembali stabil.

Untuk Cliffel, rencana perawatannya memiliki beberapa jalur sekaligus. Ia menjalani terapi, melakukan Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR), dan mengonsumsi lithium selama satu tahun. Ia menilai sebagian besar bantuan datang juga secara tidak terencana, serta mengungkap bahwa tidak ada panduan yang jelas seperti “tangga” pemulihan.

Cliffel menyampaikan, “There wasn’t a ladder of care [showing] ‘this is how you heal from this experience’,” dan mengaitkannya dengan pengalaman penderita kanker payudara yang pernah ia temui. Ia mengaku, “It’s not like that for postpartum psychosis, so it was a lot of kind of like fumbling around in the dark.”

Meski begitu, ia mendapatkan alat dan dukungan yang ia butuhkan dari tenaga medis untuk menjalani kehidupan setelahnya, termasuk memiliki anak ketiga. Untuk mencegah kekambuhan, segera setelah putranya lahir, Cliffel mulai minum lithium lagi dan melanjutkannya selama satu tahun penuh.

Cliffel menegaskan perlunya sistem yang memahami kesehatan mental ibu dan memberi dukungan proaktif kepada semua orang tua. Ia menambahkan bahwa masalah kesehatan mental ibu merupakan komplikasi paling umum setelah melahirkan, “maternal mental health issues are the most common complication of childbirth.”