jurnalistik.co.id – Kemenangan dramatis lewat adu penalti membawa Hearts mengamankan kelanjutan Liga Konferensi UEFA musim ini, sekaligus memastikan posisi mereka untuk pengundian fase liga pada Jumat. Langkah itu diraih setelah mereka menutup perjalanan melawan Rapid Vienna dengan skor akhir 4-3 dari titik putih.
Pelatih kepala Hearts, Wouter Vrancken, memandang hasil tersebut sebagai titik balik yang menegaskan perkembangan tim dalam waktu relatif singkat. Baginya, perjalanan yang sempat tersendat kini mulai menghasilkan wujud yang nyata.
Hearts datang dengan modal yang terasa “telah matang” dari sisi mental dan kebersamaan. Tiga bulan sebelumnya, mereka mengakhiri musim dengan kekecewaan besar setelah kalah pada hari terakhir, yang menggagalkan kesempatan meraih gelar kasta teratas pertama dalam 66 tahun. Namun, dari musim yang sama, mereka akhirnya tetap menutupnya sebagai runner-up dan mendapatkan hadiah yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar harapan.
Pada Kamis, kemenangan atas Rapid Vienna memastikan Hearts memperoleh jalur untuk fase berikutnya. Mereka juga akan melakoni dua pertandingan di bulan Oktober, November, dan Desember, sesuai format liga fase yang dipastikan lewat keberhasilan ini.
Perubahan besar terjadi sejak awal musim. Hearts menunjuk pelatih baru asal Belgia, Wouter Vrancken, sementara komposisi skuad mengalami rotasi dengan kepergian sejumlah pemain dan kedatangan yang lain. Start yang cukup sulit bahkan sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa suasana kurang nyaman setelah kekalahan 3-1 dari Celtic akan berlanjut.
Di panggung Eropa dan domestik, musim 2026-27 juga sempat dibuka dengan hasil yang tidak memuaskan. Meski begitu, Vrancken menegaskan timnya tetap tenang dan percaya bahwa manfaat dari proses akan datang.
“They have to learn that they’re a good team, that they’re good players, that they can show it,” ujar Vrancken kepada BBC Scotland. Ia menambahkan bahwa pada laga tandang Eropa sebelumnya, tim terlihat masih cenderung ragu untuk mengambil risiko, serta kurang berani memberi ruang.
“In the last away games in Europe, you see that they’re a little bit scared to do things, to take risks or to give spaces away. Then we don’t play our game. “The development of the team, the progress of the team is amazing. The team spirit, I saw it from the first session already.”
Menurutnya, para pemain juga menunjukkan kemauan untuk belajar secara langsung dari arahan dan evaluasi. “They want to learn it. They wanted to have feedback. They want to go into it and the kind of football we played. This is the result. They get rewarded and I’m so happy for them.”
Jika menengok jejak sebelumnya, memang ada alasan mengapa kelanjutan ke fase liga dianggap hasil yang layak diraih namun tetap butuh perjuangan. Mereka sempat menelan kekalahan agregat 6-0 dari Sturm Graz pada babak kualifikasi kedua Liga Champions, sementara di kualifikasi Liga Europa, Hearts juga menyerah dengan margin berat 7-1 secara agregat melawan Benfica.
Meski demikian, pertemuan dengan Rapid Vienna di babak play-off Liga Konferensi menghadirkan tantangan lain. Secara ukuran, ikatan tersebut disebut tidak setangguh dua lawan yang mereka hadapi sebelumnya, namun tetap membutuhkan ketahanan karena karakter kompetisi dan ritme pertandingan.
Hearts juga punya pembelajaran dari perbandingan situasi di musim sebelumnya. Tahun lalu, Dundee United pernah membawa Rapid sampai ke adu penalti pada babak kualifikasi Liga Konferensi, namun mereka kalah di shootout. Dalam konteks Hearts, membaiknya performa domestik setelah awal yang pahit ketika kalah di Aberdeen memberi sinyal bahwa sepak bola Eropa bisa dicapai.
Di leg pertama, Hearts mampu menampilkan perlawanan yang seimbang. Skor 2-2 membuat mereka tidak memiliki keunggulan yang bisa dibawa ke Austria, dan kondisi itu menjadikan Rapid sebagai favorit tipis. Di Allianz Stadion, Ercan Kara menjadi pembeda dengan gol untuk Rapid pada menit 1-0 dalam pertandingan tersebut.
Namun, momen-momen penting kemudian menentukan arah jalannya laga. Pada pertandingan, kartu merah untuk Tomas Magnusson lebih dahulu menghampiri Hearts, sebelum Pierre Landry Kabore menyamakan kedudukan dan memaksa laga berlanjut ke perpanjangan waktu.
Ketika tambahan waktu berjalan, Calvin Miller hampir membawa Hearts meraih kemenangan lewat tendangan voli yang nyaris menjadi akhir cerita. Sayangnya, Nenad Cvetkovic menyamakan lagi untuk Rapid pada menit 119, sehingga pertandingan harus diputus melalui adu penalti.
Berita Terkait
Adu penalti menghadirkan ketegangan yang terus bergerak. Beau Reus menjadi penentu awal dengan tepisan pertamanya untuk menolak Moulaye Haidara, sedangkan Oisin McEntee mengalami situasi sulit setelah tendangannya terhalang, yang memperpanjang tekanan bagi kedua tim.
Lalu, Marco Tilio maju sebagai eksekutor. Nama itu juga menyimpan narasi tersendiri karena ia pernah menjadi pemain sayap Celtic, dan kondisi tersebut memberi tambahan makna pada momen ketika ia melangkah untuk mengeksekusi penalti.
Pada akhirnya, Reus kembali menjadi ujung tombak penentu. Ia melakukan satu penyelamatan lagi yang memastikan Hearts menang 4-3 dalam adu penalti sekaligus mengunci kelanjutan mereka ke pengundian fase liga.
Setelah pertandingan, komentar Vrancken memperlihatkan betapa besar keyakinan yang ia lihat dari proses yang dijalani tim. “When you see the game, we played a really bad first half, a little bit similar as we did in Benfica,” katanya.
Ia menilai Hearts tidak konsisten mengikuti kesepakatan dan rencana permainan pada babak awal. “We made agreements, we had a game plan and we didn’t follow up, we didn’t show the guts to follow up.”
Vrancken juga menjelaskan pelajaran yang mereka ambil dari Rapid Vienna. “When you play against a side like Rapid Vienna, when you don’t show it, they can play through you. We were already pretty angry at half-time and we came out, we did much better.”
Menurutnya, tim kemudian mengambil kendali dan menampilkan dominasi pada fase krusial. “We took the game in our hands, we were dominant at that moment. This is already a mental strength, coming back on 1-0 down and coming back like this.”
Ia menghubungkan momen kebangkitan itu dengan kekuatan mental dalam perpanjangan waktu. “Again, in the extra time, you try to take the game with you to Hearts and to Edinburgh, then you get a mental kick again in the last minute of the extra time.” Ia menegaskan rasa bangganya atas konsistensi tim. “Again, I’m so proud of these guys that they stay in the game, focused and concentrated to win the penalties.”
Optimisme itu berlanjut pada rencana ke depan. “We can make more steps in the coming weeks and hope that we can take the steps as soon as possible.”
Keberhasilan Eropa ini juga membuka konsekuensi praktis. Progress di kompetisi Eropa membawa manfaat finansial yang jelas, dan tidak menutup kemungkinan ada pergerakan pemain menjelang penutupan bursa transfer. Hearts bahkan telah mendatangkan 12 pemain baru musim panas ini, sementara jumlah yang keluar disebut lebih banyak dari itu.
Dengan sedikitnya enam pertandingan Eropa lagi dalam musim ini, mantan pemain Hearts, Ryan Stevenson, menilai klub kemungkinan perlu menambah skuad. “I think they’ll definitely need to bring in another two or three anyway when you look at the League Cup, the six games in Europe, the league, which is so important,” ujarnya kepada BBC Radio Scotland melalui Sportsound.
Mantan favorit Tynecastle lainnya, Allan Preston, juga yakin tim akan siap menghadapi kebutuhan tersebut. “They’ve got people ready to come if they’re needed,” katanya. Ia menambahkan bahwa klub tidak menunggu situasi terjadi. “They are ready. They don’t wait until things happen. They already do things. If they need to, they’ll be pushing the button before the transfer window closes. They will get better, they’ll produce better.”
Satu aspek yang disebut perlu menjadi perhatian adalah posisi tengah setelah Tom Renaud mengalami cedera pada babak pertama. Vrancken menyebut itu sebagai kekecewaan terbesar malam tersebut. “That’s the biggest disappointment of the evening,” ujarnya.
“It’s not looking good but I hope for him that it’s OK. We have to look there because he was also really good in the last game. We’re talking every day about those things and we’ll see in the next weeks.”
Bagi Hearts, hasil ini bukan hanya tentang satu kemenangan. Ini tentang kelanjutan langkah yang memaksa tim berpindah dari sekadar bertahan agar tetap ada, menjadi tim yang benar-benar berani memastikan masa depannya di kompetisi Eropa.











