Olahraga

UEFA lanjut upaya menyingkirkan Gianni Infantino meski ancaman boikot FIFA dicabut

×

UEFA lanjut upaya menyingkirkan Gianni Infantino meski ancaman boikot FIFA dicabut

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Football news: Uefa to push forward with plans to remove Gianni Infantino after dropping boycott threat

jurnalistik.co.id – UEFA memastikan akan melanjutkan langkah politiknya terkait kepemimpinan Gianni Infantino, meski ancaman boikot terhadap kompetisi FIFA telah dicabut. Dalam waktu dekat, asosiasi-asosiasi Eropa akan menerima surat jaminan yang menjadi penanda perubahan sikap tersebut.

Keputusan itu muncul setelah UEFA menyatakan menarik ancaman boikot, dengan syarat rencana Fifa Forward Enterprise (FFE) tidak akan dipulihkan. Pada Kamis, 55 asosiasi anggota UEFA, serta para anggota Eropa di Dewan FIFA, akan dipresentasikan dengan surat yang menjamin FFE tidak akan kembali.

Konfirmasi resmi pencabutan boikot rencananya ditegaskan lewat rapat komite eksekutif UEFA di Monaco. Dengan demikian, permintaan UEFA dianggap terpenuhi dan kompetisi yang sempat berada dalam bayang-bayang protes bisa bergulir sesuai agenda.

Langkah itu memberi ruang bagi terselenggaranya Piala Dunia Wanita U-20 pekan depan di Polandia. Turnamen tersebut akan diikuti enam tim Eropa: Inggris, Prancis, Italia, Portugal, Spanyol, serta tuan rumah Polandia.

Walau ancaman boikot sudah ditarik, BBC Sport memahami bahwa UEFA tetap mendorong upayanya untuk menyingkirkan Infantino sebagai presiden FIFA. UEFA menilai pencabutan boikot hanya menyelesaikan bagian tuntutan terkait FFE, sementara perlawanan terhadap prospek kepemimpinan Infantino berlanjut.

UEFA juga disebut yakin bahwa kandidat “unity” dapat ditemukan untuk menghadang Infantino ketika ia maju dalam pemilihan ulang pada Maret. Pertimbangan ini, menurut laporan tersebut, berangkat dari upaya menjaga kekompakan dukungan di internal asosiasi.

Proses pemilihan diproyeksikan berlangsung ketat. Agar terpilih, kandidat membutuhkan dukungan 106 dari total 211 asosiasi anggota FIFA.

Meski fokusnya kini pada strategi kandidat pengganti, UEFA dilaporkan sudah meninggalkan gagasan untuk mengajukan mosi tidak percaya. Upaya itu membutuhkan persetujuan tiga perempat dari asosiasi anggota, yakni 159 suara, yang dinilai tidak realistis.

Hingga saat artikel disusun, tidak ada nama kandidat yang dipastikan. Namun, Victor Montagliani—presiden CONCACAF—disebut sebagai opsi yang “considered a serious option” untuk ditampilkan sebagai penantang.

Batas waktu pengajuan nominasi disebut paling lambat 18 November. UEFA memperkirakan pemungutan suara akan berlangsung berjarak, sehingga bahkan bila Infantino menang, hasil tersebut dikhawatirkan tetap meninggalkan dampak besar terhadap legitimasi kepresidenannya.

Di sisi lain, keputusan boikot yang sebelumnya diputuskan UEFA menjadi titik awal eskalasi. Bulan lalu, 55 asosiasi anggota Eropa memilih untuk memboikot semua kompetisi FIFA sampai proposal FFE dikeluarkan “in its entirety and binding assurances have been given that Fifa will never again open its governance or competitions to private ownership”.

Setelah boikot itu dicabut, FIFA menyambut perkembangan tersebut. FIFA menyatakan “it is pleased that all qualified teams will be participating in the upcoming Under-20 Women’s World Cup”. FIFA juga menyampaikan pandangannya bahwa “football has the power to unite, even in challenging circumstances” serta “remains committed” mengembangkan permainan lewat “full dialogue with the confederations and stakeholders”.

Dengan pencabutan ancaman, turnamen Wanita U-20 menjadi bukti bahwa perselisihan yang sebelumnya mengganggu rencana kompetisi sudah mereda. Enam tim Eropa yang akan bertanding, termasuk tuan rumah Polandia, menjadi komposisi yang paling disorot karena berasal dari asosiasi yang sempat terlibat dalam kesepakatan boikot.

Di luar isu FFE dan perdebatan kepresidenan, dinamika juga terlihat dari sikap kelompok mantan pemain terhadap Infantino. Pada Selasa, sekelompok mantan pemain merilis pernyataan yang menyebut “change is necessary” di pucuk FIFA.

Mikael Silvestre—mantan bek Manchester United dan Prancis yang duduk di Players’ Voice Panel FIFA—menerbitkan pernyataan di X pada Senin. Ia menamai unggahannya “Enough is Enough!”. Pernyataan itu kemudian dibagikan di media sosial oleh beberapa tokoh seperti Lucy Bronze, Emmanuel Petit, dan David James.

Namun, pada Rabu muncul respons berbeda dari kelompok mantan pemain lain. Di saat Silvestre dan rekan-rekannya mendorong perubahan, sejumlah nama yang juga dikenal sebagai FIFA Legends justru mengunggah dukungan untuk Infantino, termasuk Cafu, Christian Vieri, Pepe, dan Esteban Cambiasso.

Vieri, dalam salah satu pernyataan yang ia tulis, menyertakan kutipan yang menekankan kontribusi selama satu dekade terakhir. Ia menyatakan: “Over the past 10 years, we have seen the work Fifa and President Infantino have done to create representativity for players in football, which did not exist.”

Vieri juga menambahkan: “We will remain available to support the great evolution our game has seen this past decade, so that it keeps reaching and benefiting people of every country that plays football all around the world.” Kalimat-kalimat ini menggambarkan posisi yang berbeda dibanding kelompok yang menyerukan perubahan lebih cepat.

Perbedaan sikap di kalangan mantan pemain menambah kompleksitas situasi menjelang Maret. Di tengah pertarungan dukungan pemilihan, UEFA tetap memproyeksikan strategi pengumpulan suara yang rapat, sementara garis konflik terkait FFE sudah dilegalkan lewat surat jaminan dan konfirmasi di Monaco.

Dengan pengumuman formal boikot diharapkan beres, perhatian kini bergeser ke pemilihan presiden FIFA dan seberapa solid koalisi penentang Infantino dapat dibentuk. Jika pemungutan suara benar-benar sedekat yang diperkirakan, setiap suara menjadi penentu untuk menentukan arah FIFA dalam periode berikutnya.