Olahraga

Kebiasaan lama membayangi Rangers di awal era Derek McInnes

×

Kebiasaan lama membayangi Rangers di awal era Derek McInnes

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Old habits haunt Rangers in early McInnes tenure

jurnalistik.co.id – Derek McInnes belum bisa meraih kemenangan pertamanya saat menangani Rangers di awal masa jabatan. Di laga kualifikasi putaran ketiga Liga Europa leg pertama, klub London Glasgow itu tumbang tandang dan kemudian menyusul hasil yang tidak ideal di kompetisi domestik.

Rangers menelan kekalahan di Polandia saat menghadapi Jagiellonia Bialystok. Hasil tersebut datang setelah sebelumnya mereka bermain imbang tanpa kemenangan saat membuka Scottish Premiership melawan Dundee United, sehingga rentetan awal belum menjadi gambaran yang diharapkan para pendukung.

Pertandingan ini juga mempertegas bahwa “kelas” yang diburu di Ibrox masih membutuhkan koreksi cepat. McInnes, yang tampil berbicara setelah laga, menilai ada kebiasaan lama yang kembali menghantui tim.

McInnes: Rangers “guilty of beating ourselves”

McInnes mengatakan bahwa ia melihat banyak hal yang ia kira Rangers miliki pada musim sebelumnya. Menurutnya, masalah bukan hanya pada kualitas lawan, tetapi juga cara tim sendiri mengelola momen-momen penting selama pertandingan.

Ia menilai Rangers memberi terlalu banyak kesempatan dan mendorong lawan untuk berkembang, terutama dalam transisi dan serangan balik. “Kita harus jauh lebih disiplin,” tegasnya, sambil menekankan kebutuhan agar tim tidak memberikan ruang yang bisa berubah menjadi peluang bagi pihak lawan.

Pelatih berusia 55 tahun itu menambahkan bahwa Rangers harus jujur pada diri sendiri. Ia menyebut timnya “bersalah karena mengalahkan diri sendiri” malam itu, bukan karena meremehkan Jagiellonia Bialystok, melainkan karena kesalahan yang muncul dari permainan sendiri.

McInnes juga mengingatkan bahwa gol-gol murah berdampak besar pada kepercayaan diri pemain, tim, dan dukungan di tribun. Baginya, kesalahan saat tercipta gol tidak mungkin sepenuhnya dihindari, namun pendekatan kerja defensif harus lebih ketat, termasuk mempertahankan area pertahanan dengan “nyawa” dan menutup peluang sejak awal.

Ia menegaskan bahwa bola yang masuk ke kotak penalti harus dicegah, dan kesempatan bagi lawan untuk menguasai situasi harus dihentikan dengan strategi dan disiplin yang konsisten.

Kesalahan sejak awal dan tekanan yang cepat

Di 45 menit pertama, Rangers tampak kesulitan menghadapi cara Jagiellonia menekan dan memecah struktur pertahanan. Lawan mampu memotong alur permainan tim dan memanfaatkan berbagai kelengahan konsentrasi untuk menciptakan peluang.

Memasuki menit ke-12, Thelo Aasgaard mencoba aksi yang berani di tepi kotak tuan rumah dengan berputar untuk mencari celah sempit. Satu menit berselang, upaya tersebut berbuah menjadi gol ketika bola akhirnya bersarang di gawang Rangers setelah rangkaian serangan dan serangan balik yang efektif.

McInnes kemudian menyoroti bagaimana kesalahan pada momen gol dapat mengubah arah pertandingan dalam waktu singkat. Ia menyebut pentingnya mengurangi peluang yang diberikan lawan dan memastikan tim tidak memberi dorongan yang membuat lawan semakin percaya diri.

Kekhawatiran juga muncul pada duet bek tengah, Dujon Sterling dan Emmanuel Fernandez, yang tampil belum stabil. Komentar Andy Halliday di BBC Sportsound menggambarkan situasi tersebut dengan nada kritis.

Halliday menilai jika ia berbicara dengan McInnes saat tidak ada mikrofon, lalu ditanya apakah ia mempercayai Fernandez, maka jawaban tidak akan mungkin bernada “iya”. Namun, Halliday juga menyatakan bahwa pada saat itu, McInnes “tidak punya opsi” untuk memainkan pemain lain.

Ia bahkan menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan bukan untuk meragukan kemampuan Fernandez sepenuhnya. Menurut Halliday, bek pusat seharusnya sudah memiliki bekal dasar yang matang, dan pada laga ini terlihat seolah Fernandez belum mendapatkan pendidikan atas fondasi-fondasi seorang bek tengah.

Perubahan saat turun minum memunculkan sinyal positif

Meski babak pertama berjalan buruk, Rangers melakukan penyesuaian saat jeda. Cammy Devlin, Findlay Curtis, dan Nicolas Raskin masuk dalam perubahan tiga pemain yang mengubah dinamika permainan di babak kedua.

Hasilnya, kualitas permainan Rangers meningkat pada bagian kedua pertandingan. Menurut sejumlah komentar setelah laga, perbaikan paling menonjol datang dari kontribusi Findlay Curtis.

Curtis tampil menonjol sebagai sorotan utama. Pemain berusia 20 tahun itu sebelumnya menjadi penemuan ketika menjalani masa pinjaman di Kilmarnock pada paruh kedua musim lalu, dan dari performa tersebut ia mendapat panggilan masuk dalam skuad Piala Dunia bersama Skotlandia.

Dalam konteks Rangers yang membutuhkan tambahan daya cipta dan keberanian menyerang dari sisi sayap, keterlibatan Curtis pada laga pembuka Premiership melawan United justru hanya bertahan delapan menit. Karena itu, tampilnya Curtis lebih agresif di Polandia menjadi sesuatu yang menggembirakan.

Selama laga di Polandia, ia nyaris mencetak gol melalui momen yang mengarah pada tiang gawang di akhir pertandingan. Ia juga sempat melepaskan upaya yang hanya melebar, sehingga kontribusinya terasa mengancam meski belum menghasilkan penyelesaian sempurna.

Steven Thompson menilai performa babak kedua Rangers lebih baik, terutama dari sisi serangan. Ia menekankan bahwa Curtis memiliki peran besar dalam peningkatan tersebut dan menyebut perubahan cara Curtis mengolah bola ketika menerima umpan.

Thompson menguraikan bahwa Curtis tidak sekadar menurunkan tempo atau mengembalikan bola dengan pikiran awal yang pasif. Ia ingin langsung membawa bola untuk menguji pemain lawan, sehingga memberikan dimensi yang selama ini kurang terlihat di tubuh tim Rangers.

Selain itu, Halliday juga mengapresiasi keberanian Curtis. Ia menyatakan Curtis memiliki karakter tanpa takut untuk mencoba membuat dampak positif, meski tidak semua upayanya berhasil. Menurut Halliday, ketika Curtis menerima bola ia mendorong pemain lawan, memainkan kombinasi satu-dua, bergerak tanpa bola, dan menghadirkan upaya ke arah gawang.

Menurut Halliday, energi seperti itu mampu mengangkat intensitas Rangers, sampai batas tertentu, “memicu” tambahan persentase penguasaan bola yang membuat tim lebih hidup dalam tempo permainan.

Dengan sembilan pemain baru yang didatangkan pada musim panas ini dan masih ada peluang tambahan perekrutan, harapan publik tentu tinggi. Namun, setelah dua laga awal tanpa kemenangan, bayangan performa buruk musim lalu masih terasa menempel, dan McInnes kini dituntut membenahi hal-hal fundamental agar Rangers bisa segera menunjukkan arah yang lebih solid.