jurnalistik.co.id – Aksi pelemparan batu terhadap truk kembali menjadi perhatian para pengusaha angkutan barang setelah cukup lama tidak terdengar.
Keterangan tersebut disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Bambang Widjanarko. Ia mengatakan pihaknya menerima informasi mengenai kejadian pelemparan batu di sejumlah wilayah.
“Ada beberapa kali ya, orang yang lemparin batu mulai lagi gitu. Sudah lama gak ada kasus gitu,” kata Bambang kepada Kompas.com, Sabtu (21/8/2026).
Bambang menyebut, kondisi di tiap daerah tidak sama. Ia mengatakan pihaknya belum mendengar laporan serupa dari Jawa Tengah, sementara daerah lain justru mulai muncul lagi.
“Tapi Jawa Tengah belum ada. Minimal saya belum mendengar laporannya dari anggota Jawa Tengah. Tapi kalau di Jawa Timur, di Sumatera tuh mulai. Sumatera selatan sama Lampung,” katanya.
Menurutnya, kemunculan kembali aksi tersebut mulai terlihat sejak Agustus. “Mulai Agustus ini,” ujar Bambang.
Truk jadi sasaran secara acak
Bambang menilai aksi ini tidak menyasar tipe atau perusahaan truk tertentu. Ia juga menegaskan pelemparan batu tidak selalu berkaitan dengan persoalan antara pengemudi dan kelompok tertentu.
“Targetnya gak ada. Asal truk, tapi gak tau kenapa gitu loh. Sembarang saja, cuman sebagai ngaco-ngacoin doang gitu. Nanti kalau ketarget kan biasanya mereka ngomongnya cuman iseng,” ujarnya.
Ia menggambarkan bahwa pola kejadian yang muncul lebih sulit dipahami karena tidak ada penanda yang jelas tentang sasaran. Karena itu, proses antisipasi menjadi tidak mudah untuk dilakukan oleh pihak terkait.
Berita Terkait
Berbeda dari konflik yang punya pemicu
Lebih jauh, Bambang membedakan aksi pelemparan batu yang kembali muncul ini dengan pelemparan yang biasanya lahir dari konflik. Ia menilai kejadian kali ini tidak menunjukkan pemicu yang spesifik.
Ia memberi contoh soal situasi yang dapat memengaruhi arus kendaraan karena kompetisi. “Misalkan kalau misalnya orang Semarang, plat nomor Semarang tidak bisa ke Surabaya, karena PSIS main dengan Persebaya itu beda,” ujarnya.
Dalam situasi seperti itu, menurutnya biasanya ada efek yang membuat pihak terkait memilih menghindar terlebih dahulu. “Ya itu kan ada efek-efek tertentu yang kita biasanya, oh jangan lewat dulu, karena kemarin ada bentrokan supporter. Tapi ini kan gak ada apa-apa gitu. Jadi gak ada pemicunya tau-tau dilempar gitu,” ujarnya.
Ia juga menyebut aksi pelemparan yang kembali terjadi ini tidak terlihat sebagai bentuk pertikaian antarwilayah atau persaingan trayek. “Dan kalau model mafia yang kayak misalnya orang Jawa Timur banyak trayek di Banten, terus orang Banten marah terus dilemparin, ya juga enggak,” kata dia.
Sulit dicegah karena pelaku dan motif belum jelas
Menurut Bambang, pencegahan menjadi tantangan besar ketika pelaku tidak diketahui dan motif di balik aksi belum dapat dipetakan. Ia menilai langkah yang bisa diambil akan terbatas bila informasi yang tersedia belum lengkap.
“Ya gak bisa, karena kita kan tidak tau motifnya ya. Karena gini,” ujar Bambang.
Situasi tersebut membuat pengemudi maupun perusahaan angkutan perlu meningkatkan kewaspadaan. Mereka diminta tetap waspada saat melintas di wilayah yang sebelumnya pernah ada laporan pelemparan batu.
Dengan adanya kemunculan kembali kasus di sejumlah daerah—termasuk Jawa Timur dan wilayah Sumatera seperti Sumatera selatan serta Lampung—Bambang berharap pihak-pihak di sektor logistik dan transportasi bisa lebih siap menghadapi risiko yang tidak memiliki pola target yang jelas.
Ia menekankan bahwa tanpa pemahaman yang terang mengenai motif, kejadian bisa muncul secara tiba-tiba. Karena itu, kewaspadaan di lapangan menjadi kunci agar pengusaha dan pengemudi dapat meminimalkan dampak dari aksi yang sulit diprediksi tersebut.












