Bisnis & Ekonomi

Bisnis Parkir Dikira Gampang Untung—Benarkah? Ini Penjelasannya

×

Bisnis Parkir Dikira Gampang Untung—Benarkah? Ini Penjelasannya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bisnis Parkir Dianggap Gampang Cuan, Benarkah? Ini Faktanya

jurnalistik.co.id – Bisnis parkir selama ini sering dipandang sebagai usaha yang relatif mudah dan cepat mendatangkan cuan. Namun, di balik uang yang masuk dari kendaraan yang keluar-masuk, operator juga menanggung beragam biaya operasional dan kebutuhan investasi yang tidak terlihat oleh banyak pihak.

Persepsi bahwa “cukup sediakan lahan, atur kendaraan, lalu tarik tarif” membuat bisnis parkir tampak sederhana. Padahal, dalam praktiknya penghitungan pendapatan dan pembagian hasil tidak sesederhana mengalikan jumlah kendaraan dengan tarif.

Ketua Indonesia Parking Association (IPA) Rio Octaviano menyoroti masih adanya pihak yang menilai bisnis parkir hanya dari sisi pendapatan. Menurut Rio, pandangan seperti itu sering mengabaikan biaya yang harus ditanggung operator agar layanan berjalan.

“Kadang ada oknum yang berpikiran bisnis parkir ini duit banyak, akhirnya malah merusak ekosistem bisnis,” kata Rio kepada Kompas.com, Sabtu (22/8/2026).

Dalam konteks bisnis parkir resmi, pendapatan yang diterima dari pengunjung disebut Gross Revenue. Angka ini merupakan seluruh pendapatan kotor yang diperoleh dari aktivitas parkir, tetapi Gross Revenue tidak otomatis berarti keuntungan yang bisa langsung dibagi.

Rio menekankan bahwa langkah setelah Gross Revenue adalah melakukan pemotongan dan penyesuaian sesuai skema kerja sama. Dari sinilah istilah-istilah seperti Nett Revenue, Nett Profit, serta kategori biaya operasional menjadi kunci dalam menentukan porsi masing-masing pihak.

Salah satu pendekatan yang biasa dibicarakan adalah kerja sama antara operator parkir resmi dan pemilik lahan atau landlord. Pada kerja sama semacam ini, terdapat beberapa skema pembagian hasil, yang masing-masing memiliki cara perhitungan berbeda.

Dari Gross Revenue ke Nett Revenue

Dalam praktik perhitungan, Nett Revenue dibangun setelah Gross Revenue dikurangi pajak parkir. Setelah pajak parkir dipotong, barulah hasilnya dianggap sebagai “dasar” untuk masuk ke tahap pembagian sesuai skema yang disepakati.

Setelah sampai pada tahap Nett Revenue, penghitungan masih belum selesai. Sebelum menentukan porsi pembagian hasil, beberapa komponen biaya lain bisa masuk, tergantung apakah skema yang dipakai mengacu pada pembagian berbasis Nett Revenue maupun berbasis Nett Profit.

Skema Nett Revenue Share

Pada skema Nett Revenue Share, pemilik lahan memperoleh sekitar 30-40 persen dari Nett Revenue. Dengan kata lain, pembagian dilakukan setelah Gross Revenue dikurangi pajak parkir, lalu sebelum biaya SDM, amortisasi investasi, dan biaya operasional dikurangi.

Skema ini pada dasarnya menempatkan komponen pendapatan yang sudah bersih dari pajak parkir sebagai titik mulai bagi pembagian. Karena biaya SDM, amortisasi investasi, dan biaya operasional belum dipotong pada tahap ini, persentasenya disebutkan dalam kisaran 30-40 persen.

Skema Nett Profit Share

Berbeda dengan Nett Revenue Share, pada metode Nett Profit Share seluruh biaya diperhitungkan terlebih dahulu. Prosesnya dimulai dari Nett Revenue, kemudian dipotong biaya SDM, amortisasi investasi, dan biaya operasional.

Setelah semua biaya yang dimaksud dikurangi, barulah diperoleh Nett Profit Share. Dari nilai Nett Profit Share tersebut, pemilik lahan mendapatkan porsi sekitar 90-99 persen sesuai kesepakatan yang telah ditetapkan dalam kerja sama.

Dengan cara ini, pembagian hasil lebih dekat dengan gambaran “laba bersih” yang sudah mencerminkan beban operasional dan konsekuensi investasi. Karena itu, angka yang disebut untuk porsi pemilik lahan berada pada rentang yang lebih tinggi, yaitu 90-99 persen.

Skema Guaranteed Income

Selain pembagian berbasis Nett Revenue maupun Nett Profit, ada pula skema Guaranteed Income. Pada metode ini, pemilik lahan mendapatkan pendapatan dengan nominal tertentu yang sudah disepakati dalam perjanjian kerja sama.

Di skema Guaranteed Income, pendapatan pemilik lahan tidak dihitung berdasarkan persentase Nett Revenue atau Nett Profit Share. Sebagai gantinya, hasil ditentukan oleh nilai yang sudah dijamin, sehingga perhitungan tidak mengikuti fluktuasi persentase dari pendapatan bersih maupun laba bersih.

Melalui tiga skema tersebut, tampak bahwa “uang parkir” tidak serta-merta menjadi keuntungan yang langsung dibagi. Gross Revenue dapat menjadi angka awal, tetapi tahapan pengurangan pajak parkir, biaya SDM, amortisasi investasi, dan biaya operasional menentukan bentuk pendapatan yang akhirnya masuk ke pembagian.

Rio juga mengingatkan adanya kecenderungan melihat bisnis parkir hanya dari sisi pendapatan. Padahal, ekosistem bisnis akan terdampak ketika pihak-pihak yang terlibat tidak menghitung biaya yang harus dikeluarkan agar operasional tetap berjalan.

Dengan memahami perbedaan Gross Revenue, Nett Revenue, hingga Nett Profit Share, publik dapat melihat bahwa bisnis parkir bukan semata soal tarif dan jumlah kendaraan. Ia juga soal struktur kerja sama serta cara pembagian hasil yang mempertimbangkan biaya dan investasi, sehingga gambaran “cuan” menjadi lebih realistis.