Pendidikan

Anak Ngambek karena Iri Barang Baru Teman? Ini Langkah Orangtua yang Lebih Tenang

×

Anak Ngambek karena Iri Barang Baru Teman? Ini Langkah Orangtua yang Lebih Tenang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Anak Iri Teman Punya Barang Baru? Ini Cara Orangtua Mengatasinya

jurnalistik.co.id – Ketika anak pulang dari sekolah lalu merengek meminta barang seperti milik teman sekelasnya, orangtua sering dibuat bingung dan ingin segera meluruskan. Meski situasinya terasa menguras tenaga, respons tersebut sebenarnya berkaitan dengan emosi yang wajar.

Psikolog Eileen Kennedy-Moore, PhD, menjelaskan bahwa ketika anak-anak melihat teman mereka memiliki barang baru yang “keren”, muncul dorongan yang sangat mudah dipahami. “Saat anak-anak melihat teman mereka memiliki barang baru yang keren, sangat bisa dipahami jika mereka akan berpikir, ‘Aku juga mau itu!’ atau ‘Semua orang punya kecuali aku!’”

Di balik rengekan dan tuntutan, ada kebutuhan untuk merasa setara dan diterima. Perasaan iri pada barang baru tidak selalu berarti anak “manja” atau sedang mencari perhatian semata, melainkan cara mereka memaknai situasi sosial yang mereka lihat di sekolah.

Kecemburuan sosial: wajar, tapi mudah terasa

Kennedy-Moore menekankan bahwa rasa iri memang bisa muncul dari waktu ke waktu. Namun, pada anak-anak dan remaja, emosi ini cenderung lebih mudah memuncak dan berdampak lebih besar.

Menurutnya, “Anak-anak, pada dasarnya, kurang memiliki perspektif karena mereka belum lama hidup atau belum banyak melihat dunia.” Ia juga menambahkan, mereka memiliki rasa identitas yang belum stabil karena terus tumbuh dan berubah. “Mereka mungkin belum punya pengalaman untuk menyadari bahwa gaya berubah dan tren datang silih berganti. Semua ini membuat mereka lebih rentan terhadap pesan materialistis,” tutur dia.

Pada masa tertentu, rasa cemburu bahkan menjadi lebih kuat. “Penelitian bahkan mencatat, masa pubertas adalah puncak munculnya rasa cemburu.” Pernyataan ini menggambarkan bahwa intensitas emosi dapat meningkat seiring perubahan perkembangan diri.

Selain itu, penerimaan sosial sering ditempelkan pada hal-hal yang terlihat. Pakaian dan mainan kerap dianggap sebagai penanda “siapa yang diterima” di kelompok pergaulan. Ketika anak mendengar atau melihat merek maupun mainan tertentu dipandang keren oleh teman sebayanya, daya tariknya bisa menjadi sangat kuat karena anak ingin terlibat dalam percakapan dan merasa tidak tertinggal.

Kennedy-Moore juga menegaskan sisi emosional dari pengalaman tersebut. “Merasa kekurangan atau menjadi orang yang aneh itu tidak menyenangkan,” kata dia.

Kapan emosi ini memuncak dan bagaimana bentuknya

Menurut Whitney Raglin Bignall, PhD, momen pergantian tahun ajaran dapat membuat rasa iri semakin sering muncul. “Kembali ke sekolah bisa menjadi waktu yang sangat rawan untuk melihat anak-anak mengalami rasa iri. Mereka sering mendengar tentang pengalaman anak lain selama liburan, lalu datang ke sekolah dengan pakaian dan barang baru,” ungkapnya.

Setelah situasi sosial berubah, emosi yang sama bisa terlihat berbeda-beda pada tiap anak. Rasa iri dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk, seperti mengeluh tentang apa yang tidak mereka miliki, membandingkan diri secara negatif, menangis, mengejek barang yang mereka irikan, menjadi lebih pendiam, hingga merasa rendah diri untuk bergabung dengan teman sebaya.

Bignall juga menjelaskan perbedaan respons berdasarkan usia. “Rasa iri pada anak yang lebih kecil mungkin muncul sebagai ledakan emosi, sedangkan anak yang lebih besar mungkin hanya menjadi lebih mudah tersinggung atau marah,” tambah dia.

Pendekatan orangtua: menjaga sudut pandang

Dalam banyak kasus, orangtua merasa perlu segera menegaskan bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi. Namun, inti persoalannya sering kali bukan pada barangnya, melainkan pada cara anak memandang dirinya dan kelompoknya.

“Tidak memiliki barang tertentu tidak akan menghancurkan hidup anak.” Pernyataan ini penting untuk menenangkan orangtua, sekaligus memberi kerangka berpikir bahwa tuntutan anak tidak otomatis berarti ada ancaman besar.

Tetapi, seperti yang juga disinggung dalam artikel ini, “banyak yang belum bisa melihatnya dari sudut pandang tersebut.” Karena anak-anak belum memiliki perspektif dan pengalaman yang cukup, mereka lebih cepat menganggap ketidakterlihatan atau ketertinggalan sebagai ketidakadilan yang harus segera direspons.

Dengan memahami bahwa iri pada barang baru adalah respons emosional yang wajar—dipengaruhi oleh kurangnya perspektif, identitas yang masih berubah, pesan materialistis, serta kaitan penerimaan sosial—orangtua dapat menghadapi momen rengekan tanpa langsung terjebak pada kemarahan.

Pada akhirnya, yang perlu dibidik adalah stabilitas emosi anak: meredakan ledakan, merespons tanpa mempermalukan, serta membantu anak membaca ulang situasi sebagai sesuatu yang dapat dipahami, bukan sesuatu yang harus dimenangkan lewat tuntutan barang. Ketika emosi lebih tenang, anak pun lebih mungkin kembali pada cara komunikasi yang sesuai dan tidak terjebak pada perbandingan yang menyakitkan.