Bisnis & Ekonomi

Ray Dalio Ingatkan Risiko Krisis Utang AS, Sarankan Hingga 15% Dana ke Emas dan Bitcoin

×

Ray Dalio Ingatkan Risiko Krisis Utang AS, Sarankan Hingga 15% Dana ke Emas dan Bitcoin

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Antisipasi Krisis Utang AS, Dalio Sarankan Beli Emas & Bitcoin - Market

jurnalistik.co.id – Ray Dalio mengingatkan investor agar bersiap menghadapi risiko krisis utang Amerika Serikat, yang menurutnya dapat muncul dalam waktu tiga tahun ke depan. Ia menilai konsentrasi aset yang terlalu berat pada obligasi pemerintah berpotensi memperbesar kerentanan ketika siklus biaya utang berubah.

Dalam unggahan di LinkedIn pada Jumat, 21 Agustus 2026, miliarder dan pendiri Bridgewater Associates tersebut mengajak investor meninjau ulang komposisi kepemilikan obligasi mereka. Dalio menekankan bahwa langkah awal yang ia sarankan adalah melakukan diversifikasi ke berbagai aset sekaligus ke negara-negara yang memiliki kondisi keuangan lebih kuat.

Menurut Dalio, investor sebaiknya menurunkan bobot obligasi dan mempertimbangkan pengalokasian untuk aset lain guna menjaga keseimbangan portofolio. Ia menyebut emas sebagai salah satu instrumen yang dapat berperan dalam skema pengurangan risiko.

Dalio menguraikan target alokasi hingga 15% dana ke emas sebagai bagian dari strategi antisipasi. Ia juga menyatakan bahwa investor dapat memegang sekitar 10% hingga 15% dari portofolio dalam bentuk emas, lalu melengkapinya dengan “sedikit” Bitcoin.

Dengan kombinasi itu, Dalio berpendapat risiko dapat ditekan sekaligus membuka peluang peningkatan imbal hasil. Ia menempatkan gagasannya pada konteks peringatan panjang tentang bahaya penumpukan utang pemerintah, yang ia yakini memiliki konsekuensi yang berulang dalam siklus ekonomi.

Seruan tersebut muncul ketika imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, khususnya tenor jangka panjang, sedang berada pada level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini memperlihatkan tekanan pada pasar obligasi dan kemampuan pembiayaan, yang menurut Dalio menjadi bagian dari pemicu perubahan dalam dinamika utang.

Di sisi lain, Jepang sebagai kreditur asing terbesar Amerika Serikat juga disebut melepas obligasi AS. Dalio menyiratkan perubahan perilaku pasar kreditur tersebut relevan terhadap arah suku bunga dan biaya layanan utang.

Dalio juga menyoroti upaya pemerintah untuk menahan dampak terhadap pasar obligasi. Menteri Keuangan Scott Bessent, pada pekan ini, mengumumkan rencana meningkatkan pembelian kembali (buyback) untuk utang jangka panjang, tetapi ia mencatat bahwa dampak yang terasa sejauh ini hanya positif dalam jangka pendek.

Untuk menjelaskan logikanya, Dalio merujuk pada kerangka siklus utang yang ia uraikan dalam bukunya berjudul “How Countries Go Broke: The Big Cycle”. Ia menjelaskan bahwa ketika biaya layanan utang membengkak, kondisi itu akan berbenturan dengan rendahnya permintaan dari investor.

Dalam situasi seperti ini, Dalio menyebut pemerintah pada akhirnya berada dalam pilihan yang sulit. Pemerintah dapat menerima tingkat bunga yang lebih tinggi, atau mendorong bank sentral untuk membeli utang dengan cara mencetak uang.

Ia menilai skenario bank sentral membeli utang melalui pencetakan uang berpotensi melemahkan nilai mata uang. Pada saat yang sama, proses tersebut juga dapat memicu inflasi sepanjang rangkaian kebijakan berjalan.

Dalio lalu mengaitkan saran diversifikasinya dengan kebutuhan untuk mengurangi eksposur terhadap risiko yang timbul dari perubahan biaya utang dan pembiayaan. Bagi investor, ia mendorong agar tidak memusatkan posisi pada satu jenis instrumen, terutama bila pasar mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan struktural.

Inti pesan untuk investor

Rekomendasi Dalio berpusat pada tiga gagasan yang saling terkait. Pertama, investor sebaiknya mengurai kepemilikan obligasi dan menurunkan bobotnya.

Kedua, ia menyarankan pengalokasian emas dengan target hingga 15% dana, sekaligus menyebut kisaran 10% hingga 15% dari portofolio dalam bentuk emas. Ketiga, ia menempatkan Bitcoin dalam porsi kecil, yaitu “sedikit”, sebagai pelengkap strategi diversifikasi.

Dalam pandangannya, langkah-langkah tersebut dapat membantu mengurangi risiko sekaligus memperbaiki potensi imbal hasil. Ia tidak memisahkan saran investasi dari analisis siklus utang, karena menurutnya perubahan di pasar obligasi akan memengaruhi pilihan kebijakan dan akhirnya berdampak ke nilai aset.

Dengan demikian, pesan Dalio dapat dibaca sebagai ajakan untuk bertindak lebih awal sebelum fase krisis utang benar-benar terbentuk. Ketika yield obligasi bergerak ke level yang lebih tinggi dan kreditur besar mengubah posisi, Dalio melihat adanya ruang bagi investor untuk menata ulang portofolio agar tidak terlalu bergantung pada satu sumber risiko.

Pada akhirnya, idenya mengarah pada manajemen eksposur: memperluas variasi aset dan negara yang dipilih, menahan porsi obligasi yang terlalu dominan, serta menambahkan emas dan porsi kecil Bitcoin. Dalio menempatkan strategi itu sebagai respons terhadap kerentanan yang ia perkirakan akan menjadi nyata dalam rentang tiga tahun.