Pendidikan

Senyum Bayi Saat Tidur: Refleks Fase REM Menurut Dr. Amaka Priest dan Dr. Daniel Combs

×

Senyum Bayi Saat Tidur: Refleks Fase REM Menurut Dr. Amaka Priest dan Dr. Daniel Combs

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mengapa Bayi Tersenyum Saat Tidur? Dokter Ungkap Sebabnya

jurnalistik.co.id – Melihat bayi tersenyum saat tertidur sering membuat orangtua ikut terbawa rasa hangat. Namun, di balik ekspresi itu, para dokter menjelaskan bahwa yang muncul umumnya adalah reaksi yang berkaitan dengan kerja saraf dan tahapan tidur bayi.

Senyum pada bayi yang sedang tidur tidak selalu berarti ia sedang mengalami emosi tertentu seperti yang lazim terlihat pada anak lebih besar atau orang dewasa. Para ahli menilai ekspresi tersebut muncul sebagai bagian dari proses perkembangan sistem saraf serta mekanisme tidur yang masih terus matang.

Ekspresi wajah saat tidur: lebih dari sekadar senyum

Dr. Amaka Priest, dokter anak yang juga tergabung dalam panel penasihat Swehl, menyatakan bahwa bayi bisa memperlihatkan beragam ekspresi selama berbagai tahap tidur. Orangtua kerap menangkapnya sebagai “senyum pertama”, padahal bentuk wajah yang muncul bisa sangat bervariasi.

Menurut penjelasannya, selain terlihat tersenyum, bayi juga dapat tampak mengernyit, bergerak-gerak, mengecap bibir, hingga melakukan gerakan mengisap saat tertidur. Semua tanda itu umumnya merupakan refleks yang terjadi tanpa disadari, sehingga bukan reaksi emosional yang disengaja.

Priest juga menekankan bahwa gerakan-gerakan tersebut tetap memiliki peran penting. Ia menyebut adanya temuan penelitian yang mengaitkan gerakan saat tidur dengan penguatan otot yang kelak dipakai bayi secara sadar untuk tersenyum dan menampilkan ekspresi wajah lainnya ketika tumbuh.

Lebih jauh, pada beberapa bayi senyum bisa muncul bersamaan dengan proses tubuh lain, misalnya ketika bayi sedang mengeluarkan gas atau buang air besar. Reaksi ini tetap dipahami sebagai refleks, bukan karena bayi sedang merasakan perasaan tertentu.

Peran fase REM: otak lebih aktif, wajah lebih ekspresif

Salah satu kaitan paling sering dibahas adalah fase tidur REM atau Rapid Eye Movement. Pada fase ini, aktivitas otak meningkat dan tubuh cenderung menunjukkan gerakan yang lebih banyak dibanding fase tidur lainnya.

Dr. Daniel Combs, spesialis anak sekaligus dokter yang fokus pada kedokteran tidur, menjelaskan bahwa bayi baru lahir menghabiskan waktu tidur REM jauh lebih besar dibandingkan orang dewasa. Ia menyebut bayi baru lahir dapat menghabiskan hingga setengah dari total waktu tidurnya dalam fase REM.

Perbandingannya, orang dewasa biasanya hanya berada sekitar 20 persen dari total waktu tidur di fase REM. Karena proporsi ini sangat berbeda, maka wajar bila ekspresi selama tidur tampak lebih “hidup” pada bayi.

Combs menambahkan bahwa bayi bahkan bisa langsung memasuki fase REM segera setelah tertidur. Pada periode inilah orangtua sering menyaksikan gerakan mata yang cepat, kedutan pada tangan dan kaki, serta berbagai ekspresi wajah termasuk senyuman.

Ia juga menilai pola tersebut akan berubah seiring pertumbuhan anak. Ketika usia bertambah, proporsi tidur REM akan menurun, dan pola tidur akan menjadi lebih menyerupai pola pada orang dewasa.

Pola tidur bayi yang belum mengikuti ritme harian penuh

Selain fase REM, senyum ketika bayi tidur juga berkaitan dengan pola tidur yang masih belum teratur. Dr. Priest menjelaskan bahwa ritme sirkadian—jam biologis yang biasanya menyesuaikan siklus siang dan malam—pada bayi belum sepenuhnya mengikuti pola 24 jam.

Karena itu, pada masa awal kehidupan bayi cenderung tidur dalam siklus pendek. Ia menyebut siklus ini umumnya berlangsung antara satu hingga tiga jam.

Ketika tubuh bertumbuh dan kebutuhan makan ikut berubah, siklus tidur tersebut akan menjadi lebih panjang. Pada tahap ini, lebih banyak waktu tidur juga mulai terjadi pada malam hari, sehingga ritme tidur bayi perlahan mendekati pola yang lebih terstruktur.

Secara umum, bayi baru lahir membutuhkan sekitar 14 hingga 17 jam tidur setiap hari. Durasi tersebut tersebar sepanjang siang dan malam, sehingga tidur pada bayi tidak selalu terkumpul pada malam hari saja.

Kenapa senyum dan kedutan saat tidur dianggap normal?

Dengan mempertimbangkan fakta bahwa waktu tidur bayi lebih banyak berada pada kondisi yang aktif, kemunculan senyum, kedutan, ataupun ekspresi wajah lain saat tertidur dapat dipahami sebagai bagian dari proses perkembangan. Ekspresi itu bukan tanda bahwa bayi sedang “memikirkan” sesuatu, melainkan cerminan dari kerja tubuh dan otak yang sedang mengikuti tahapan tidurnya.

Priest menegaskan bahwa gerakan refleks seperti mengecap bibir atau gerakan mengisap merupakan rangkaian yang dapat terlihat selama bayi melewati berbagai tahap tidur. Sementara Combs menambahkan bahwa pada fase REM, aktivitas otak yang lebih tinggi ikut mendukung kemunculan ekspresi yang lebih nyata.

Dengan demikian, saat orangtua melihat bayi tersenyum di tengah tidur, yang paling penting adalah memahami konteks perkembangannya. Selama bayi terlihat nyaman dan pola tidurnya berada dalam rentang wajar sesuai usianya, senyum saat tidur umumnya merupakan hal yang normal.

Seiring waktu, pola tidur akan terus berubah. Proporsi fase REM akan menurun, ritme tidur makin teratur, dan ekspresi saat tidur pun biasanya akan tampak berbeda dibanding masa bayi baru lahir. Proses itu menjadi bagian dari perjalanan perkembangan yang berlangsung bertahap, hari demi hari.