Pendidikan

Asal Usul Kebaya Encim: Motif Bunganya Jadi Penanda Khas

×

Asal Usul Kebaya Encim: Motif Bunganya Jadi Penanda Khas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mengapa Kebaya Encim Identik dengan Motif Bunga? Begini Sejarahnya

jurnalistik.co.id – Kebaya encim dikenal dari kesan ringannya, sekaligus dari detail hiasan bermotif bunga yang melekat di hampir setiap bagiannya. Motif-motif floral seperti mawar kerap muncul pada kebaya lama, bukan sekadar sebagai pemanis, melainkan bagian dari identitas busana.

Dalam pembahasan yang digelar di acara Kebaya Bercerita di Ndalem Angti Dani, Surakarta, Rumi Siddharta—yang akrab disapa Om Rum—menjelaskan bahwa kebaya encim atau kebaya kerancang tumbuh melalui pertemuan beragam pengaruh budaya di Nusantara. Ia menekankan bahwa bentuk busana seperti ini bukan hasil satu tradisi tunggal, melainkan akumulasi dari proses panjang yang terjadi di lingkungan masyarakat.

“Ini hasil dari akulturasi berbagai budaya yang ada di Indonesia,” kata Rumi saat ditemui Kompas.com dalam acara Kebaya Bercerita di Ndalem Angti Dani, Surakarta, beberapa waktu lalu. Gagasan tersebut menjadi kunci untuk memahami mengapa motif bunga bisa tampil menonjol dan terasa “nyambung” dengan keseluruhan tampilan kebaya encim.

Akulturasi yang membentuk bahasa motif

Menurut Rumi, kebaya encim berkembang karena budaya-budaya yang saling bersinggungan, lalu meninggalkan jejaknya pada pilihan motif dan cara busana dihias. Karena itu, motif bunga pada kebaya tidak berdiri sendiri sebagai ornamen dekoratif, melainkan membentuk bahasa visual yang menyatu dengan karakter pakaian.

Salah satu detail yang disorot adalah bagian kerah. Dalam penyebutannya, bagian kerah itu dikenal sebagai “samleh” atau “samleheh”, tergantung konteks penyebutan di tradisi setempat. Rumi menyebut bahwa kerah menjadi bidang yang sering dihiasi motif bunga-bungaan.

“Bagian samleh atau bagian kerah, kalau tidak salah penyebutan kerah kebaya kalau di budaya Sunda, itu kita bisa lihat hiasannya adalah motif bunga-bungaan,” ujarnya. Dengan demikian, perhatian tidak hanya tertuju pada tubuh kebaya, tetapi juga pada area yang membingkai wajah dan mempertegas bentuk keseluruhan.

Rumi juga menggarisbawahi bahwa bunga yang dipakai tidak harus satu jenis. Ia beberapa kali menemukan contoh kebaya lama yang menampilkan bunga mawar, namun pola pikirnya justru menekankan variasi—bahwa pilihan bentuk bunga bisa mengikuti selera dan tren yang dikenal pada masa ketika kebaya tersebut berkembang.

“Bunga-bunga yang dipilihnya tuh bisa macam-macam, semua bunga-bunga yang populer. Aku beberapa kali melihat ada contohnya yang menggambarkan bunga mawar,” kata Rumi. Dari penjelasan itu, motif floral pada kebaya encim tidak terikat pada satu spesies bunga saja, melainkan dapat menampilkan berbagai jenis yang dikenal dan populer pada masanya.

Perpaduan kebaya dan batik pesisir

Motif bunga pada kebaya encim juga tampak semakin “berkesinambungan” ketika dipadukan dengan kain bawahan, khususnya batik pesisir. Rumi menjelaskan bahwa kebaya seperti ini sering dikenakan bersama batik pesisir yang memiliki motif floral, sehingga motif bunga bekerja sebagai satu kesatuan tampilan busana.

Dengan cara memadankan keduanya, motif bunga tidak berhenti pada satu bagian pakaian. Kebaya dan kain batiknya saling melengkapi, memperlihatkan permainan motif floral dari atas hingga bawah, sebagaimana tata busana pada masa itu.

Selain motifnya, Rumi menyinggung karakter bahan kebaya yang cenderung tipis dan agak menerawang. Kondisi bahan seperti ini membuat detail hiasan—terutama motif floral—semakin terlihat sebagai elemen yang memperkuat kesan kebaya encim.

Dalam praktiknya, kombinasi bahan yang tipis dengan hiasan bunga menciptakan efek visual yang khas. Motif yang hadir di kerah dan area busana lainnya menjadi penanda yang membantu kebaya encim mudah dikenali, sekaligus mempertegas identitasnya sebagai busana yang memadukan banyak pengaruh.

Jejak waktu yang diperkirakan

Rumi juga memperkirakan bahwa kebaya yang menjadi bahan pembahasan memiliki rentang asal sekitar 1920 hingga 1950. Perkiraan ini membantu pembaca melihat bahwa kebaya encim dengan motif bunga tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berakar pada perkembangan busana yang berlangsung beberapa dekade.

Dengan demikian, identitas motif bunga pada kebaya encim dapat dipahami sebagai hasil akulturasi dan pilihan estetika yang berkembang di masyarakat. Motif floral hadir di kerah melalui bentuk “samleh”, bisa menampilkan bunga mawar maupun jenis lain yang populer pada masanya, lalu diperkuat oleh perpaduan kain batik pesisir yang juga bermotif floral.

Pada akhirnya, yang membuat kebaya encim tampak khas bukan hanya satu elemen hiasan, melainkan rangkaian detail: mulai dari kerah yang bermotif bunga-bungaan, variasi jenis bunganya, karakter bahan yang tipis dan agak menerawang, hingga keselarasan motif ketika dipadukan dengan batik pesisir.