jurnalistik.co.id – Harga perak dunia memang mencatat kenaikan tipis pada penutupan perdagangan Jumat (25/9/2026), namun laju pergerakan itu tidak mampu menghapus catatan pelemahan mingguan. Di tengah pasar yang masih menilai arah kebijakan moneter, logam mulia ini justru terlihat makin kehilangan daya tariknya.
Pada perdagangan spot, perak ditutup pada level US$64,2805 per troy ons. Angka tersebut setara dengan penguatan 0,59% dibanding sesi sebelumnya, tetapi tetap berbeda arah dengan tren yang lebih luas dalam sepekan terakhir.
Jika dikonversikan, harga itu berada pada kisaran Rp1,15 juta per troy ons atau sekitar Rp37.028 per gram, dengan kurs US$1 = Rp17.917. Meski demikian, investor tetap dibayangi oleh faktor-faktor yang mendorong biaya peluang memegang logam dibanding alternatif aset lain.
Ekspektasi suku bunga lanjutan membebani perak
Salah satu tekanan utama datang dari ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan melanjutkan pengetatan kebijakan moneternya. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang tinggi ikut memberi sinyal bahwa kondisi suku bunga relatif masih akan bertahan lebih ketat.
Perkembangan tersebut menjadi relevan karena perak, berbeda dengan aset berbunga, tidak menghasilkan yield. Ketika imbal hasil obligasi meningkat, biaya peluang (opportunity cost) bagi investor untuk menahan perak cenderung ikut naik, sebab dana dapat dialihkan ke instrumen yang menawarkan imbal hasil.
Aktivitas The Fed pekan lalu memperkuat narasi tersebut. The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, yang sekaligus menjadi kenaikan pertama dalam tiga tahun, serta memberi sinyal bahwa kenaikan lanjutan masih terbuka.
Reaksi pasar bahkan terlihat makin agresif. Berdasarkan CME FedWatch Tool yang dikutip Reuters, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober diperkirakan mencapai 66%, sementara peluang kenaikan pada Desember mencapai 93%.
Selain proyeksi berbasis model, sinyal hawkish juga datang dari sejumlah pejabat The Fed. Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, sebelumnya menyatakan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan masih diperlukan untuk meredam tekanan inflasi.
Dalam konteks inflasi, Inflasi PCE AS pada Juli tercatat 3,7%, masih jauh dari target The Fed sebesar 2%. Selisih tersebut memperbesar keyakinan pasar bahwa bank sentral belum akan terburu-buru mengubah arah kebijakannya.
Yield AS tenor 10 tahun berada di puncak
Kenaikan ekspektasi suku bunga juga mendorong yield US Treasury. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun, yang menunjukkan tekanan kuat pada sisi biaya pendanaan dan ekspektasi pasar.
Dari perspektif kepemilikan aset, situasi seperti ini sering kali membuat pelaku pasar membandingkan daya tarik logam mulia dengan aset berbunga. Ketika imbal hasil obligasi meningkat, perak berpotensi menghadapi arus dana yang lebih selektif.
Tekanan tersebut tampak pada kinerja perak selama pekan berjalan. Mengacu data Refinitiv, harga perak melemah 2,95% secara mingguan, dibanding posisi Jumat sebelumnya pada 18/9/2026 sebesar US$66,2324 per troy ons.
Berita Terkait
Lebih jauh, pergerakan harga perak juga menunjukkan koreksi dari puncak yang sempat dicapai. Pada 28 Januari 2026, perak berada di US$116,576 per troy ons, yang menjadi level tertinggi sepanjang tahun berjalan.
Dengan penutupan pada Jumat (25/9/2026), harga perak telah merosot sekitar 44,9% dari level tertinggi tersebut. Namun, jika dibandingkan dengan posisi setahun sebelumnya, perak masih mencatat kinerja yang relatif lebih kuat.
Pada 25 September 2025, perak berada di US$45,22 per troy ons. Artinya, secara tahunan, harga perak masih menguat sekitar 42,2% meski mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir.
Permintaan industri ikut menentukan pergerakan
Di samping faktor moneter, perak juga sangat dipengaruhi permintaan dari sektor industri. Logam ini digunakan dalam berbagai bidang, termasuk panel surya, elektronik, kendaraan listrik, serta infrastruktur kelistrikan.
Karena itu, pergerakan perak tidak sepenuhnya bergerak mengikuti dinamika suku bunga. Prospek aktivitas industri global menjadi faktor lain yang ikut menentukan seberapa besar kebutuhan terhadap logam industri seperti perak.
Dalam kondisi tertentu, pelemahan pada sisi moneter dapat menekan harga, sementara sinyal dari permintaan industri dapat menjadi penahan. Kombinasi dua pengaruh itu sering membuat perak bergerak lebih “campuran” dibanding logam mulia lain yang lebih dominan berperan sebagai aset lindung nilai.
Geopolitik konflik Iran: dua arah efek untuk pasar
Sentimen geopolitik juga tercatat berperan. Perkembangan konflik AS–Israel dengan Iran masih menjadi salah satu fokus yang memengaruhi harga logam mulia. Menurut sumber yang dikutip, konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga energi dan menjaga kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Meski begitu, terdapat tanda-tanda yang mengarah pada meredanya risiko pasokan energi. Mengutip Reuters, negosiator di New York tengah menjajaki jalan keluar dari perang secara bertahap. Rangkaian opsi itu disebut dapat melibatkan pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Teheran serta pencabutan blokade ekonomi AS terhadap Iran.
Harapan meredanya konflik membuat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi berkurang. Imbasnya, harga minyak turun sekitar 3% pada Jumat seiring meredanya sebagian kekhawatiran terkait pasokan.
Bagi perak, perkembangan tersebut memiliki dua sisi. Di satu sisi, meredanya tekanan energi dapat membantu menahan inflasi, sehingga berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed. Di sisi lain, turunnya ketidakpastian geopolitik juga dapat mengurangi permintaan terhadap logam mulia sebagai aset defensif.
Karena itu, pasar perlu mencermati bagaimana sinyal inflasi dan eskalasi geopolitik berjalan beriringan. Jika tekanan inflasi melemah lebih cepat, ekspektasi suku bunga bisa berubah. Namun bila risiko geopolitik tetap bergolak meski mereda sementara, dukungan terhadap aset defensif bisa kembali menguat.
Melihat dinamika yang ada, pergerakan perak pada pekan depan masih dipengaruhi oleh arah yield US Treasury, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta perkembangan inflasi AS. Pada saat yang sama, dinamika konflik di Timur Tengah juga berpotensi memberi sentimen tambahan bagi pasar.
Prospek permintaan industri global juga tetap perlu dicermati, mengingat perak memiliki fungsi ganda sebagai logam mulia sekaligus logam industri. Ketika keduanya saling berhadapan—satu sisi mendorong logam sebagai lindung nilai, sisi lain menuntut dari industri—harga perak biasanya bergerak mengikuti dominasi faktor yang sedang paling kuat.












