jurnalistik.co.id – Kebiasaan duduk pasif terlalu lama ternyata tidak hanya memengaruhi tubuh, tetapi juga bisa berdampak pada ketajaman otak. Saat aktivitas harian lebih banyak dihabiskan untuk bersantai, proses yang menopang kinerja otak ikut melemah.
Selama ini olahraga sering dikaitkan dengan kondisi fisik yang lebih bugar. Namun, gaya hidup yang kurang gerak pun punya hubungan dengan kemampuan otak untuk bekerja secara optimal.
Menurut penjelasan yang dirujuk dari Real Simple pada Rabu (12/8/2026), otak manusia dapat mengalami penurunan aliran darah ketika seseorang menghabiskan sebagian besar waktu bangunnya dengan duduk atau bersantai. Perubahan pada aliran darah ini berpengaruh terhadap dukungan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan otak.
Dr. Manisha Parulekar, MD—dokter geriatri dan salah satu direktur di Center for Memory Loss and Brain Health di Hackensack University Medical Center—menyebut aliran darah sebagai bagian penting dalam pengiriman oksigen serta nutrisi penting untuk fungsi otak yang optimal. Ia juga menekankan bahwa kenyamanan beristirahat tidak otomatis memberi efek seperti saat tubuh benar-benar aktif bergerak.
“Meskipun seharian bersantai dan melakukan sedikit aktivitas fisik terasa menyenangkan dan kadang diperlukan, hal itu tidak memberikan lonjakan dopamin dan endorfin seperti saat kita beraktivitas fisik,” jelas dr. Parulekar. Dengan kata lain, jeda dari aktivitas memang terasa ringan, tetapi respons biologis yang dipicu aktivitas fisik tidak benar-benar tergantikan.
Bagi banyak orang, rutinitas duduk yang berulang bisa membuat tubuh terasa lambat dan energi berkurang. Dalam kondisi sehari tanpa banyak gerak, seseorang bisa merasakan lesu atau mengalami kesulitan untuk fokus.
Neurolog David Perlmutter, MD, mengatakan sehari kurang aktif bergerak tidak akan memicu perubahan yang berarti, atau bahkan berdampak nyata pada fungsi otak secara keseluruhan. Ia menegaskan bahwa masalah lebih berisiko muncul ketika pola pasif tersebut menjadi kebiasaan yang berlangsung lama dan menetap.
Berita Terkait
“Ketidakaktifan fisik dikaitkan dengan peningkatan risiko penurunan kognitif dan demensia, dan banyak jalur yang membantu menjelaskan hubungan tersebut bersifat metabolik dan inflamasi,” ucap dr. Perlmutter. Ia menjelaskan bahwa ada berbagai mekanisme yang dapat menjembatani keterkaitan antara kebiasaan kurang gerak dan memburuknya kesehatan otak.
Perlmutter menyoroti peran mikroglia, yaitu sel imun penjaga otak yang secara konstan mensurvei lingkungan dan merespons ancaman. “Perilaku mereka berkaitan erat dengan keadaan metabolisme, yaitu fungsi mitokondria. Lingkungan metabolisme yang sehat membantu sel ini melakukan perlindungan dengan tepat, sedangkan disfungsi kronis berkontribusi pada keadaan inflamasi,” kata dr. Perlmutter.
Ia menambahkan bahwa peradangan kronis inilah yang dapat memicu gangguan neurodegeneratif, seperti Alzheimer. Dampaknya tidak berhenti pada aspek neurologis, karena risiko pada kondisi mental juga dapat meningkat seiring gaya hidup yang makin pasif.
Dr. Parulekar menyebutkan bahwa “gaya hidup pasif dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih besar untuk mengembangkan atau memperburuk kondisi kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan”. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa kurang gerak dapat berpengaruh secara luas, termasuk pada kesejahteraan psikologis.
Meski demikian, perubahan tidak harus dimulai dengan langkah besar yang sulit dilakukan. Langkah awal yang paling realistis adalah memecah waktu duduk yang terlalu lama.
Jika seseorang sudah duduk selama satu jam, ia disarankan untuk bangun dan bergerak selama beberapa menit. Kebiasaan sederhana seperti ini membantu memutus pola pasif yang berkepanjangan dan memberi kesempatan tubuh untuk kembali mengaktifkan sirkulasi.
Dengan menata ulang durasi duduk dalam sehari, seseorang dapat menjaga tubuh tetap responsif dan otak memperoleh dukungan yang lebih baik. Intinya, konsistensi dalam memecah waktu diam menjadi langkah penting untuk menekan efek negatif dari gaya hidup sedentari.












