Pendidikan

Cuma Sunscreen? Perlindungan Kulit Bisa Belum Optimal Menurut Dokter

×

Cuma Sunscreen? Perlindungan Kulit Bisa Belum Optimal Menurut Dokter

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pakai Sunscreen Saja Tak Cukup Melindungi Kulit, Dokter Jelaskan Alasannya

jurnalistik.co.id – Dokter kulit mengingatkan bahwa kebiasaan mengoleskan tabir surya setiap hari memang langkah awal yang baik, tetapi tidak otomatis menjamin perlindungan maksimal dari paparan matahari. Masalahnya, banyak orang keliru memahami peran sunscreen dan sering mengandalkan satu produk tanpa menyesuaikan cara pakainya.

“Tabir surya saja tidak cukup,” ujar asisten profesor klinis dermatologi di Icahn School of Medicine at Mount Sinai Hospital, Gary Goldenberg, M.D, menyadur Prevention, Minggu (16/8/2026). Menurutnya, ketergantungan penuh pada krim pelindung dalam rutinitas harian justru bisa membuat perlindungan yang seharusnya lebih efektif tidak benar-benar terjadi.

Peringatan itu bukan berarti sunscreen tidak berguna. Namun, ketika pengolesannya tidak tepat—baik karena takaran yang kurang atau kebiasaan tidak mengoles ulang—perlindungan terhadap risiko dari terik matahari dapat menjadi tidak optimal.

Takaran yang terlalu sedikit membuat perlindungan “melenceng”

Salah satu sebab utama, kata dokter, adalah orang sering mengoleskan tabir surya dalam jumlah yang tidak memadai. Ife J. Rodney, M.D, direktur pendiri Eternal Dermatology + Aesthetics, menjelaskan bahwa banyak orang hanya membentuk lapisan yang terlalu tipis, sehingga masih ada bagian kulit yang tidak tertutup rapat.

“Mereka mengoleskan lapisan yang sangat tipis atau secara tidak sengaja membiarkan ada celah kulit yang terpapar, yang mana hal ini tidak memberikanmu perlindungan yang cukup,” terang dia. Dengan kata lain, hasil yang didapat bukan hanya soal merek atau jenis sunscreen, melainkan seberapa merata dan seberapa penuh produk menempel pada kulit.

Dalam praktiknya, dr. Rodney menyebutkan bahwa orang dewasa butuh minimal 30 mililiter tabir surya untuk menutupi seluruh area tubuh yang terbuka. Takaran itu kira-kira setara dengan porsi dua sendok makan penuh.

Ia menegaskan bahwa jumlah tersebut diposisikan sebagai batas minimal. “Beberapa orang memang tidak mengoleskan cukup tabir surya, itulah intinya,” tutur dr. Rodney.

Selain takaran, efektivitas juga berkaitan dengan bagaimana SPF bekerja pada permukaan kulit. Joshua Zeichner, M.D, direktur riset kosmetik dan klinis di Mount Sinai Hospital, menambahkan bahwa nilai SPF ditentukan berdasarkan kepadatan bahan aktif tertentu yang menempel pada kulit.

“Nilai SPF dari sebuah tabir surya diukur berdasarkan kepadatan 2 miligram per sentimeter persegi. Kalau kamu tidak mengoleskan sebanyak itu, maka kamu tidak mendapatkan perlindungan SPF seperti yang tertera pada botol,” jelasnya. Artinya, angka SPF pada kemasan tidak otomatis relevan bila jumlah aplikasinya jauh di bawah standar tersebut.

Kapan harus mengoles ulang dan mengapa kebiasaan lupa jadi risiko

Di samping persoalan jumlah, dr. Rodney juga menyoroti kebiasaan lain yang kerap terjadi: orang bisa merasa enggan untuk mengoles kembali, atau sekadar lupa melakukannya setelah beraktivitas di luar ruangan. Padahal, ketika waktu paparan berlangsung, perlindungan yang diharapkan perlu dipertahankan.

Ia menghubungkan kebutuhan mengoles ulang dengan durasi berada di bawah sinar matahari. “Kalau kamu berada di bawah sinar matahari selama dua jam atau lebih, kamu harus mengoleskannya lagi,” imbau dr. Rodney.

Implikasinya bukan sekadar soal kulit tampak lebih terawat. Ketika sunscreen tidak diaplikasikan dengan benar—baik dari segi takaran maupun frekuensi pengolesan ulang—perlindungan yang seharusnya menahan efek paparan harian bisa menjadi tidak memadai, sehingga celah risiko pun lebih mudah terbuka.

Dokter juga menekankan bahwa mengoles sunscreen secukupnya bukan hanya tugas rutin, melainkan bagian dari strategi perlindungan kulit yang lebih realistis. Jika seseorang hanya mengandalkan “tabir surya” tanpa memastikan lapisan terbentuk tebal dan merata, maka perlindungan yang muncul bisa jauh berbeda dari ekspektasi yang dibangun dari label pada botol.

Dengan memahami standar takaran minimal, mengetahui hubungan antara kepadatan 2 miligram per sentimeter persegi dengan nilai SPF, serta disiplin mengoles ulang setelah berada di luar selama dua jam atau lebih, pengguna dapat memastikan bahwa sunscreen benar-benar bekerja sesuai tujuannya. Pendekatan yang konsisten tersebut membantu mengurangi peluang perlindungan yang “hanya terlihat ada”, padahal sebenarnya tidak menutup kulit secara memadai.