jurnalistik.co.id – Perdebatan soal cara anak muda bersosialisasi tanpa alkohol kini bergeser ke obat resep. Sejumlah pengguna merasa mendapat efek “mabuk” tanpa hangover, tetapi para ahli menyoroti risiko serius—dari dosis yang tidak aman hingga ketergantungan.
Matt (nama diubah) menceritakan bahwa dulu ia harus “minum sampai merasa sakit” agar bisa ikut mengobrol saat keluar malam. Jika tidak, ia memilih diam, menahan ketakutan untuk salah bicara dalam percakapan yang tampak dinikmati orang lain.
Menurutnya, kondisi itu membuat ia merasa seperti tidak punya “just no way into” percakapan. Dua tahun lalu, kebiasaannya berubah: ia mengganti pints dengan obat resep yang ia temukan lewat media sosial.
Menjelang hari Jumat, Matt kini memakai obat yang dibelinya secara ilegal secara online. Obat tersebut biasanya digunakan untuk menangani epilepsi dan nyeri saraf, sementara ia juga memakai beta blocker untuk memperlambat jantung yang berdebar serta meredakan gejala fisik kecemasan.
Matt mengatakan kombinasi itu memberi efek yang ia cari tanpa mabuk. “The amount of alcohol you have to drink to replicate the effects of these is really unhealthy and it doesn’t feel good,” ujarnya—sekaligus menegaskan bahwa alkohol punya cara kerja yang ia anggap tidak sebanding.
Di sisi lain, ia menyebut dirinya merasakan “euphoric”, pikirannya menjadi lebih tenang dari kecemasan, dan bersosialisasi terasa lebih mudah. Ia juga menghubungkan perubahan itu dengan kebutuhan yang makin meluas: dari awalnya hanya untuk bertahan di malam keluar, kini untuk kencan dan pertemuan keluarga.
Namun para pakar menilai penggunaan obat tanpa pengawasan medis, terutama pada dosis tinggi, dapat berbahaya dan dalam beberapa kasus berpotensi mengancam jiwa. Mereka juga mengingatkan bahwa pemakaian jangka panjang bisa berujung pada dependency, ketika pengguna merasa harus “andalkan itu untuk setiap situasi sosial”.
Tak sedikit pengguna yang melaporkan lonjakan kecemasan, insomnia, serta munculnya suicidal thoughts ketika berusaha berhenti. Matt sendiri membantah bahwa ia sudah menjadi bergantung, meski ia mengakui bahwa tanpa obat, banyak situasi sosial yang ia “would not even bother to attempt”.
Obat resep, “stacking”, dan pasar yang tumbuh
Secara global, bukti menunjukkan anak muda beralih ke obat dan zat eksperimental sebagai alternatif alkohol. Sebagian berbentuk pil, seperti pregabalin dan propranolol—yang juga disebut dalam kisah Matt—sementara sebagian lain diambil dari zat yang disuntik, termasuk peptides, protein yang makin populer di ruang daring.
Fenomena ini terkait upaya meredam kecemasan sosial, yang menurut laporan menjadi tantangan khusus bagi Gen Z. Studi yang diterbitkan tahun lalu oleh University College London menyebut lebih dari seperempat (28%) orang usia awal 20-an di Inggris melaporkan tingkat kecemasan tinggi, serta menegaskan gangguan mental serius jauh lebih umum di Gen Z dibanding milenial pada usia yang sama.
Seiring meningkatnya minat pada alternatif “lebih sehat”, para peneliti juga mempertanyakan kenapa sebagian anak muda merasa hanya bisa bersosialisasi dengan bantuan zat. Di ruang media sosial, hash tag obat-obsesinya memunculkan ribuan video, dan pengguna didorong untuk menyusun “cocktail” masing-masing yang dikenal sebagai “stacking”.
“[Users] don’t feel as bad the next day and it’s a medication – so people think it’s safer,” kata Liam Knowles, peneliti kecanduan di Teesside University. Ia juga menyebut peluang adanya ketergantungan: “there is probably a substantial amount of people that are getting addicted”.
Perlu dicatat, jumlah pengguna yang memakai obat resep maupun peptides untuk tujuan sosialisasi tidak mudah dipastikan. Banyak di antaranya diperoleh tanpa resep, sehingga pola konsumsi di lapangan sulit dipetakan secara akurat.
Sementara itu, anak muda di berbagai tempat makin menjauh dari alkohol, sehingga Gen Z mendapat julukan “sober generation”. Data Drinkaware tahun lalu menunjukkan 26% dari kelompok usia 18–24 tahun di Inggris tidak minum alkohol, naik dibanding 2012 yang hanya 7%.
Psikolog Emily Jones dari King’s College London berpendapat pandemi Covid turut berkontribusi pada naiknya kecemasan sosial, terutama pada kaum muda. “Lockdown effectively taught everybody to be afraid of social interaction,” katanya.
Pregabalin jadi fokus, risiko ikut menguat
Dalam pencarian alternatif, pregabalin muncul sebagai perhatian yang menonjol. Studi di jurnal Nature Communications memperkirakan konsumsi obat itu meningkat lebih dari empat kali lipat antara 2008 dan 2018.
Di saat yang sama, kematian yang melibatkan pregabalin juga naik tajam. Data Office for National Statistics menyebut pregabalin disebut dalam 2,360 death certificates untuk keracunan terkait obat-obatan di Inggris dan Wales pada 2020–2024, dibanding 768 pada 2015–2019.
Salah satu yang disebut adalah Alex Cottam, 27 tahun, insinyur perangkat lunak dari Eccles. Ibunya, Michelle, menggambarkan Alex sebagai “lovely, clever, and popular”. Ia diresepkan pregabalin untuk mengatasi kecemasannya, tetapi sang ibu mengatakan Alex “became addicted” dan mulai menambah pasokan dengan membeli obat dari situs web ilegal.
Michelle mengatakan kepada BBC pada 2024, “I can’t help thinking every day that pregabalin killed my son”. Cerita itu menegaskan risiko ketika obat yang semestinya diawasi berubah fungsi menjadi alat untuk mengelola gejala tanpa kendali.
Berita Terkait
Di Inggris, pregabalin diklasifikasikan ulang sebagai Class C controlled drug pada 2019. Mereka yang membelinya tanpa resep menghadapi ancaman penjara dua tahun, meski dalam praktiknya jumlah yang dipenjara relatif sedikit.
Obat tersebut tetap banyak diresepkan untuk epilepsi, nyeri saraf, dan kecemasan. Penasihat obat independen di Inggris juga meluncurkan peninjauan untuk menguji penyalahgunaan, sementara peneliti di Jordan, Ukraine, dan India turut mencatat lonjakan penyalahgunaan pregabalin.
Pada awal tahun ini, pemerintah China memperketat pengendalian obat itu dengan melarang sebagian besar penjualan online dan menetapkan batas produksi di tiap provinsi. Langkah ini menunjukkan bahwa isu yang awalnya tampak “tren” bisa berubah menjadi masalah kesehatan yang lebih luas.
Dari hiburan ke ketergantungan
Matt mengaku pertama kali mendengar soal obat yang ia pakai saat berusia 20 tahun melalui Braden Peters, yang dikenal sebagai “Clavicular”. Peters sempat berbicara terbuka dalam siaran langsung tentang meminum obat sebagai bagian dari “stack” untuk mengurangi kecemasan sosial.
Obat-obatan ini juga memasuki percakapan arus utama melalui figur populer. Aktor Rachel Sennott dan Kristen Bell disebut membahas beta blocker, bersama influencer Khloé Kardashian.
Dalam pengalaman yang berbeda, Mei (nama diubah), mahasiswa 20 tahun di China, mengatakan efek yang ia cari mirip rasa “mabuk”. Ia menyebut obat itu meredakan gejala fisik kecemasan, membuatnya merasa “euphoric”, dan mengawali pemakaian untuk acara pesta.
“It was like I could be the most interesting person in the room,” kata Mei. Ia juga menyatakan media sosial tidak hanya memperkenalkan zat, tetapi dapat membantu akses mendapatkannya.
Ia mengaku membeli obat lewat platform media sosial China. “There are thousands of posts selling it,” ujarnya, menandakan betapa luasnya promosi dan perdagangan dalam ekosistem digital.
Para pengguna juga melihat perbedaan soal biaya. Matt mengatakan ia bisa menghabiskan serendah 18p untuk satu kali keluar malam, yang ia sebut sebagai “nice bonus”.
Knowles menambahkan bahwa sebagian pengguna yang ia temui sangat menekankan kesehatan. “People don’t want the calories,” katanya, dan ia menuturkan logikanya: “They think, ‘my doctor wouldn’t prescribe them if they were bad for you,’”.
Logika itu juga terasa pada Matt, yang percaya obat memiliki “much lower impact” dibanding minum alkohol, terutama pada hati dan jantung. Ia bahkan mengungkap keyakinan komunitasnya bahwa pregabalin lebih “lebih sehat” ketimbang alkohol.
Meski demikian, alkohol memiliki keterkaitan yang luas dengan penyakit. Dalam laporan itu, disebut alkohol dikaitkan dengan setidaknya tujuh jenis kanker, dan World Health Organization pernah memperingatkan bahwa setiap jumlah konsumsi alkohol berbahaya.
Prof David Nutt dari Imperial College London—neuropsychopharmacologist yang lama mengkampanyekan pelonggaran aturan obat—berargumen bahwa obat yang dipakai Matt mungkin lebih kecil risikonya dibanding pesta minum berat. Akan tetapi ia juga memberi peringatan: “Propranolol and pregabalin are undoubtedly safer than alcohol, but not perfectly safe.”
Ia menekankan bahwa risiko berubah jika pregabalin dipakai dalam dosis besar untuk mencapai efek mabuk, sesuai klaim Matt. “If they’re using it as a sort of intoxicant to get drunk, then they are at risk of dependence,” katanya. “It’s not a free lunch in that sense.”
Propranolol juga memiliki bahaya tersendiri. Walau dianggap relatif aman bila diminum sesuai resep, pemakaian tidak tepat atau dosis tinggi dapat memicu pusing, pingsan, dan penurunan detak jantung yang berbahaya. Nutt juga menilai risiko makin besar ketika sumber obat tidak terstandar: “There’s always a danger of getting medicines that aren’t made to medical standards,” katanya.
Ketakutan sosial yang makin mengeras
Dari sudut pandang psikologi, Jones mengingatkan bahwa membandingkan kerusakan fisik obat dengan alkohol bisa mengaburkan pertanyaan yang lebih mendasar. “Alcohol in large quantities is dangerous, but it is also dangerous to take medication too routinely without being under the supervision of a doctor,” ujarnya.
Jones menyoroti kekhawatiran bahwa obat dipakai untuk menghindari rasa cemas, lalu keyakinan itu melebar menjadi anggapan bahwa situasi sosial biasa menakutkan. Ia menyebut prosesnya dapat dimulai dari “a pill before a party” namun perlahan meluas hingga kencan, rapat kerja, dan rutinitas.
“You lose your faith in your own capacity to deal with things effectively,” katanya. Ia menambahkan bahwa apa yang bermula sebagai “going out stack” bisa tumbuh hingga kebutuhan harian dalam berbagai konteks, termasuk ujian, pidato, dan debat.
Mei, misalnya, mengatakan akhirnya ia sampai “kini tak bisa meninggalkan rumah tanpa itu”. Pola serupa juga diceritakan Sofia, pekerja layanan pelanggan dari Ukraina, yang awalnya memakai pregabalin sebelum pesta dan acara sosial, lalu mulai menggunakannya di tempat kerja.
“It helped me,” kata Sofia. Kisah-kisah seperti ini memperlihatkan bahwa perdebatan bukan hanya soal “lebih aman” dibanding alkohol, tetapi bagaimana perubahan kebiasaan dapat mempersempit cara seseorang menghadapi dunia sosial.












