Hukum & Kriminal

Penyelidikan kasus geng grooming diperluas ke Birmingham dan Wales

×

Penyelidikan kasus geng grooming diperluas ke Birmingham dan Wales

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Grooming gangs inquiry expanded to Birmingham and Wales

jurnalistik.co.id – Penyelidikan nasional terkait pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan “grooming gangs” kini memperluas cakupannya. Kali ini, investigasi terarah akan dilakukan di Birmingham dan Wales sebagai bagian dari pemeriksaan yang lebih luas di Inggris dan Wales.

Pemeriksaan tersebut akan menyasar sejumlah lokasi dengan pendekatan lokal yang spesifik. Dalam pengumumannya, panel penyelidik menyatakan proses ini ditujukan untuk “examine the sexual abuse and exploitation of children by grooming gangs and the response of organisations responsible for protecting children” di Birmingham dan Wales.

Perluasan wilayah ini mengikuti langkah awal yang diumumkan sebelumnya. Oldham di Greater Manchester, Bradford dan Keighley di West Yorkshire, serta London telah disebut sebagai lokasi pertama investigasi pada awal tahun ini.

Sampai saat ini, belum jelas apakah wilayah tambahan akan dipilih setelah Birmingham dan Wales. Meski demikian, keputusan memperluas ruang lingkup telah memicu beragam reaksi dari penyintas yang berharap daerah mereka segera masuk dalam agenda pemeriksaan.

Tinjauan mendalam, bukan sekadar meluas

Fiona Goddard menyampaikan bahwa ada bukti dari Birmingham dan Wales yang menurutnya “that need to be properly heard”. Ia menyambut keputusan memasukkan dua wilayah tersebut, namun menekankan bahwa perluasan tidak boleh mengorbankan kualitas penyelidikan.

Menurut Goddard, skala penyelidikan “must not come at the expense of the depth of investigation”. Ia menyoroti bahwa penyelidikan ini telah berlangsung hampir setahun, tetapi kemajuan yang terlihat masih terbatas.

Ia juga menyatakan kekhawatiran, “we are already almost a year into the inquiry with relatively little progress”. Penilaian tersebut mencerminkan harapannya agar proses di setiap wilayah benar-benar menghasilkan pendalaman, termasuk penelusuran detail terhadap tindakan dan respons lembaga terkait.

Godderd juga menyinggung ketegangan yang muncul ketika cakupan makin lebar, tetapi kedalaman investigasi berpotensi berkurang. Di titik ini, ia mendorong agar struktur pemeriksaan tetap menjaga fokus pada pengalaman korban dan penyintas yang spesifik di masing-masing area.

Kecemasan penyintas soal “dilusi” pengalaman

Seorang penyintas bernama Carly—yang namanya tidak disebutkan secara lengkap—mengungkap kekhawatian tentang bagaimana penyelidikan nasional dapat memengaruhi keyakinan penyintas terhadap prosesnya. Carly mengatakan bahwa ia pertama kali mengalami proses grooming ketika berusia 12 tahun di Huddersfield pada tahun 2004.

Dalam keterangannya, ia menyatakan ketidakpahamannya mengenai cara penyelidikan menggambarkan kedalaman pemeriksaan wilayah yang sangat kompleks. Ia bertanya, “how an investigation covering an area as enormous and complex as Wales can be described as a deep dive”.

Carly kemudian mempertanyakan dampak perluasan cakupan terhadap cara pengalaman penyintas akan diperlakukan dalam gambaran nasional yang lebih besar. Ia mengajukan, “How are survivors in Huddersfield supposed to have confidence that our experiences will not simply be absorbed into a much bigger national picture and effectively watered down?”

Dengan kata lain, ia khawatir pengalaman yang muncul dari wilayah tertentu dapat terserap ke dalam kerangka yang lebih luas, sehingga bobot dan kedetailannya berkurang.

Kerangka penyelidikan dan dasar pemilihan wilayah

Penyelidikan Independen yang bersifat wajib secara hukum—Statutory Independent Inquiry into Grooming Gangs in England and Wales—diumumkan oleh mantan Perdana Menteri Sir Keir Starmer pada bulan Juni 2025. Penyelidikan mulai bekerja pada bulan April, dengan ketua Baroness Anne Longfield, mantan komisaris anak.

Kewenangan yang dimiliki penyelidikan ini memungkinkan individu dan institusi untuk diminta menjelaskan apa yang “did or did not do to protect children from being sexually abused”. Prosesnya juga akan menelaah sifat serta skala pelecehan yang terjadi di masing-masing wilayah.

Sebelum penyelidikan diluncurkan, proses ini sempat menghadapi turbulensi. Para penyintas pelecehan meminta Jess Phillips—mantan menteri perlindungan—untuk mengundurkan diri.

Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, penyelidikan menjelaskan bahwa pemilihan lokasi didasarkan pada sejumlah kriteria. Di antaranya adalah bagaimana korban dan penyintas diperlakukan ketika mereka melapor, serta apakah peluang untuk mencegah bahaya tidak dimanfaatkan.

Untuk keputusan menempatkan Birmingham sebagai salah satu wilayah investigasi, penyelidikan menyebut adanya kombinasi faktor. Rujukannya mencakup pengalaman korban dan penyintas, indikasi prevalensi, tingkat kerugian dan risiko, serta perhatian publik.

Panel juga menegaskan keterkaitan investigasi dengan kualitas kerja lembaga. Zoë Billingham, anggota panel, menyatakan: “We will look carefully at what organisations knew, how decisions were made, how agencies worked together, and why opportunities to protect children were missed”.

Wales: respons lintas wilayah dan pengaturan terdesentralisasi

Untuk investigasi di Wales, ruang lingkupnya juga mencakup bagaimana pengaturan yang didelegasikan berjalan, serta kerja lintas batas antara organisasi di Wales dan Inggris. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menilai keterpaduan koordinasi dan tanggung jawab yang muncul dalam berbagai lapisan pemerintahan serta layanan.

Baroness Longfield mengatakan para korban dan penyintas di Wales telah menunggu terlalu lama untuk mendapatkan jawaban. Ia menyatakan, “too long for answers”. Pernyataan tersebut mempertegas bahwa tujuan inti penyelidikan bukan hanya mengumpulkan informasi, melainkan memastikan proses akuntabilitas dapat dijalankan secara nyata.

Dengan penambahan Birmingham dan Wales, penyelidikan nasional ini kini berada pada tahap yang lebih luas secara geografis. Namun, respons penyintas menunjukkan satu perhatian utama yang sama: agar perluasan wilayah berjalan beriringan dengan pendalaman investigasi, sehingga pengalaman korban dan penyintas tidak kehilangan ketajaman saat masuk ke gambaran nasional.