Pendidikan

“Penyesuaian yang kejam”: Cara menghadapi ketika anak mulai kuliah

×

“Penyesuaian yang kejam”: Cara menghadapi ketika anak mulai kuliah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 'It's a brutal adjustment': How to cope when your child goes to university

jurnalistik.co.id – Masa ketika anak pertama kali kuliah sering datang membawa dua rasa sekaligus: bangga karena mereka melangkah, dan duka yang sulit dijelaskan karena Anda tidak lagi melihatnya setiap hari. Banyak orangtua akhirnya menyadari bahwa transisi ini terasa “berat”, bahkan ketika semuanya berjalan sesuai rencana.

Luke (nama samaran), misalnya, mengaku dirinya dipenuhi kebanggaan sekaligus kehilangan saat mengantar putranya ke kampus untuk pertama kalinya. Ia mengatakan, “It feels like a brutal adjustment,” dan menambahkan, “After 18 years of seeing him every day and taking care of him, I miss him so much and I don’t really know what to do with myself.”

Bagi Luke dan istrinya, dorongan untuk mencari pegangan membuat mereka rutin memantau grup Facebook untuk orangtua dan pengasuh yang anaknya tinggal di asrama kampus yang sama. Mereka juga mengikuti versi kampus dengan anggota lebih dari 2.000 orang, berharap informasi di sana bisa membantu—terutama di minggu-minggu menjelang keberangkatan.

Namun, yang awalnya terasa menolong justru mulai memberi makan kecemasan. Luke menceritakan bahwa unggahan-unggahan di grup sering memunculkan pertanyaan yang membuat pikiran makin berputar, mulai dari, “Is it normal to spend so much time in your room?” sampai kekhawatiran ketika “I’m worried my daughter is struggling to make friends.” Ia juga menyoroti kegelisahan lain: saat “My child isn’t replying to messages – how often are people hearing from theirs?”

Ada pula obrolan yang tampak remeh tetapi tetap memicu rasa waswas, seperti pertanyaan soal logistik paket Amazon, permintaan untuk meminjam mangkuk sereal, sampai rincian tentang selimut tebal (tog duvet) yang diberikan untuk anak-anak orang lain. Bagi Luke, kumpulan cerita seperti itu ikut mendorong kebiasaan mengecek lokasi putranya melalui aplikasi pelacak, “to make sure he is going out enough and finding friends.”

Ketika pesan dan panggilan tidak selalu mendapat respons, ia juga mulai menonton video yang diposting akun media sosial kampus, berharap bisa melihat putranya di kerumunan mahasiswa baru (Freshers). Luke mengakui pengakuan yang serupa juga datang dari orangtua lain, yang ternyata melakukan hal yang sama.

Situasi ini ternyata tidak hanya terjadi di Facebook. Di berbagai kampus, sejumlah orangtua bahkan membentuk grup chat WhatsApp yang biasanya identik dengan pengasuhan saat anak masih sekolah. Bedanya, kali ini tujuannya bergeser menjadi “parenting jarak jauh”: bukan membahas kehilangan pulpen atau jadwal olahraga, melainkan mencoba mengatur kehidupan anak dari jauh.

Rayyah Uddin, 20 tahun, mahasiswa tahun ketiga di University of Nottingham, melihat pola tersebut dari dekat. Ia menjelaskan bahwa ia telah mendengar grup seperti itu dibuat oleh orangtua mahasiswa tahun pertama di kampusnya. Ia juga pernah melihat orangtua memakai TikTok untuk membagikan kekhawatiran ketika anak tidak segera punya teman, lalu meminta bantuan kepada orangtua lain.

Menurut Rayyah, banyak masalah seharusnya diselesaikan oleh mahasiswa itu sendiri. “These are issues the students should really be figuring out for themselves, and it is better if parents try and talk to their child rather than immediately jump to other parents,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa tidak selalu mendengar kabar setiap saat tidak otomatis berarti ada masalah. Rayyah menekankan, “Not hearing from your child all the time isn’t necessarily a cause for concern – ‘they might just be having a really good time and are getting absorbed into university life,’”

Psikolog Charlotte Armitage menyampaikan bahwa grup media sosial bisa berguna dalam kondisi tertentu, tetapi tidak ketika dipakai untuk membagikan kesulitan yang bersifat pribadi, melacak pergerakan, atau mengajukan pertanyaan yang sebenarnya bisa dijawab langsung oleh mahasiswa. Ia memperingatkan bahwa pemeriksaan dan intervensi yang terus-menerus mungkin menenangkan orangtua dalam jangka pendek, tetapi bisa saja memberi sinyal yang salah bagi anak dewasa muda: “Constant checking, tracking or intervening may soothe the parent in the short term, but it can inadvertently communicate to the young adult: ‘I am not sure you can cope without me.’”

Armitage tetap menegaskan batas yang jelas: “Of course, where there is a credible safeguarding concern, a significant change in behaviour, or a known risk to their wellbeing, parents should act.” Dengan kata lain, perhatian orangtua perlu diarahkan pada keamanan dan risiko nyata, bukan pada kecemasan umum.

Belajar mandiri tanpa jadi pengendali dari jauh

Bagian besar dari masuk universitas adalah kemandirian. Archie Forde, 19 tahun, mahasiswa di Manchester University, pernah mendengar cerita tentang orangtua yang “pinging phones at 3am and calling their kids 12 times a week.” Ia menilai bahwa meski kekhawatiran orangtua itu “mostly fair concerns,” cara menghadapinya sering keliru.

Menurut Archie, grup media sosial dapat berubah menjadi semacam ruang gema yang membuat semua orang terus-menerus memutar rasa takut tentang anak mereka. Ia mengatakan, “echo chambers where everyone just spins each other out about their kids.”

Archi merekomendasikan adanya pembicaraan yang sungguh-sungguh dengan anak mengenai batasan, sebelum masa kampus dimulai. Setiap keluarga punya definisi berbeda tentang mana yang termasuk menekan atau terlalu mengatur, tetapi mahasiswa tidak seharusnya berada pada posisi harus memilih antara membatasi komunikasi orangtua dan merusak hubungan, atau membalas gelombang pesan saat acara pre-drinks lalu merasa terpisah dari situasi sosial.

Kontak yang lembut, tanpa menuntut respons

Dalam pandangan child psychologist Laverne Antrobus, cara-cara seperti menulis surat atau mengirim paket dapat menjadi jalan tengah. Tindakan itu bisa membuat anak tahu orangtua memikirkan mereka, “without it feeling like a demand,” kata Antrobus.

Ia juga menyarankan mungkin ada kesepakatan waktu untuk saling mengecek kabar, tetapi orangtua perlu siap bahwa obrolan tidak selalu berlangsung panjang. Saat berkomunikasi, Antrobus menekankan pentingnya ketulusan, bukan rasa ingin tahu yang dibangun dari pengawasan. “make sure your curiosity is genuine, rather than half-informed by the surveillance you’ve been doing.”

Antrobus menambahkan bahwa ketika orangtua sudah mengetahui ke mana anak pergi dan apa yang mereka lakukan, percakapan menjadi tidak memuaskan. Ia menegaskan, “children are bright – they will know.”

Rayyah sendiri mengatakan ia menantikan waktu ketika ia pulang untuk benar-benar menyambung kembali obrolan. Ia mengingatkan bahwa jika selama berbulan-bulan anak dimonitor dengan ketat, masa jauh bisa terasa seperti tidak benar-benar “pergi” atau memperoleh kebebasan yang semestinya, sehingga timbul rasa frustrasi.

Belajar melepaskan: bukan berhenti menjadi orangtua

Nichola McClellan ingin memberi penegasan pada orangtua lain bahwa masa ini memang mengubah, tetapi bisa menjadi lebih mudah. Ia telah melihat tiga anaknya berangkat kuliah dan kini ingin meyakinkan bahwa transisi itu berjalan bertahap.

Berbasis di Cheshire, Nichola membagikan pengalamannya sebagai “empty nester” di media sosial. Ia menggambarkan penyesuaian emosional yang besar: bertahun-tahun hidupnya berputar di sekitar anak-anak, sehingga proses mengubah fokus membutuhkan izin untuk merindukan. Ia berkata, “It’s a huge emotional adjustment after years of your life revolving around your children, so we need to give ourselves time and permission to miss them.”

Nichola juga mengingat betapa ia dulu merasa kehilangan identitas. “I think back to how lost I felt. I didn’t know who I was without the kids.” Ia lalu menegaskan bahwa anak sedang belajar untuk “leave,” sementara orangtua belajar untuk “let go.”

Alih-alih menuntut komunikasi konstan, Nichola mengirim “little no-pressure messages” melalui grup WhatsApp keluarga. Ia mencontohkan, “‘Love you’, ‘proud of you’ – things that don’t require an answer.” Mereka biasanya bertemu dan berbincang dengan jadwal yang wajar, kira-kira sekali seminggu, dan ia belajar untuk tidak terlalu personal ketika kabar tidak selalu datang.

Ia memandang jeda komunikasi sebagai sinyal yang mungkin justru baik: “Sometimes that is a really good sign, it means they’re getting on with this new life you’ve spent all those years preparing them for.”

Nichola menegaskan bahwa orangtua tidak berhenti menjadi orangtua saat anak pergi, tetapi kesempatan untuk menemukan kembali bagian diri yang sempat hilang juga terbuka. “You don’t stop being a parent when they leave home – but you do get the opportunity to rediscover parts of yourself that perhaps got a little lost along the way. There really is so much to look forward to.”

Langkah praktis: menahan dorongan sebelum bertindak

Charlotte Armitage membagikan tiga saran agar orangtua bisa lebih siap menghadapi fase baru. Ia memulai dengan mengajak orangtua berpikir dua kali sebelum mem-posting sesuatu di grup orangtua. Ia menyebutkan perasaan seperti cemas, hampa, atau merasa tersisih adalah hal yang wajar, namun tidak selalu perlu diikuti tindakan segera. Armitage menganjurkan pertanyaan reflektif: “Is this a genuine safety issue? Have I given my young adult the chance to deal with it? Am I helping them become more capable, or managing my own anxiety?”

Saran kedua adalah menjauhi kebiasaan mengecek secara terus-menerus, melacak, atau terlalu cepat melakukan intervensi. Ia mengingatkan bahwa pola tersebut bisa membuat anak dewasa muda merasa tidak yakin pada kemampuan dirinya, selaras dengan peringatan, “I am not sure you can cope without me.”

Saran ketiga adalah orangtua tetap perlu turun tangan bila ada kekhawatiran yang kredibel terkait keselamatan, perubahan perilaku yang signifikan, atau risiko yang diketahui terhadap kesejahteraan anak. Dalam situasi seperti itu, perhatian bukan lagi pengawasan yang berlebihan, melainkan respons yang bertanggung jawab.