jurnalistik.co.id – Michael Owen menyulut perdebatan pekan ini setelah mengaku “never ever” mengatakan kepada anak-anaknya bahwa ia mencintai mereka. Ia menyampaikan alasannya lewat sebuah podcast, dan pernyataannya langsung memantik diskusi tentang pengasuhan, gender, serta budaya—hingga memunculkan pertanyaan besar: apakah tiga kata sederhana itu benar-benar seberat yang kita bayangkan?
Dalam wawancara dengan Jamie Laing, ayah dari empat anak itu mengungkap bahwa ia tidak pernah menggunakan ungkapan “I love you” dengan cara yang sama seperti kebiasaan banyak orang tua. Owen mengatakan, “I don’t say anything like that,” sebelum menambahkan, “I just assume my actions would show them that I love them. I think most of us are like that.” Ia juga menyebut anak-anaknya sebagai “the most dearest things in the world” yang ia sayangi.
Bagi sebagian penonton, komentar Owen terasa mengejutkan, terutama karena ada orang tua yang beranggapan bahwa anak perlu mendengar kalimat kasih sayang itu secara langsung. Namun, sejumlah orang lain justru merasa pandangan Owen selaras dengan cara mereka mempraktikkan pengasuhan, yakni menekankan bukti lewat tindakan.
Di titik inilah isu mulai bergeser dari sekadar gaya berbicara menuju pertanyaan yang lebih dalam: bagi anak, rasa dicintai lebih banyak ditentukan oleh kata-kata, tindakan, atau keduanya—dan apakah “konsistensi” lebih penting daripada “format”?
Kata atau tindakan?
Psikolog pendidikan Dr Patricia Britto menilai bahwa membuat anak merasa dicintai tidak bisa disimpulkan hanya dari ada-tidaknya kalimat tertentu. Ia menjelaskan bahwa yang paling penting adalah apakah seorang anak merasa aman, dihargai, serta memiliki ketenteraman emosional.
Menurut Dr Britto, orang tidak seharusnya langsung menyimpulkan anak mengalami kerusakan psikologis dan terluka hanya karena tidak mendengar kalimat tersebut. Ia menekankan kemungkinan bahwa anak tetap bisa merasakan cinta dengan sangat jelas melalui tindakan.
Britto juga menyebut masalah yang lebih besar bagi banyak anak adalah apakah kasih sayang itu “consistently communicated”—disampaikan secara konsisten. “If you said to a child ‘I love you, I love you’ but you never turn up to any of their football games or shows, they might not actually feel loved. They might just feel they are empty words.”
Dengan kata lain, meski kata bisa menjadi isyarat penting, tindakan juga berfungsi sebagai “bukti” yang menegaskan pesan. Pendekatan ini didukung oleh Aaron Dale, host podcast Raisingboys2men sekaligus penulis buku tentang pengasuhan, yang mengatakan bahwa kedua unsur seharusnya tidak dipertandingkan.
Dale berpendapat, “It’s not words or actions – they shouldn’t compete against each other, they should complement each other.” Ia menambahkan, “Words are to speak the message and actions are the evidence.” Ia bahkan menyoroti pengalaman pribadinya: ayahnya kerap mengucapkan “I love you” setelah membuatnya kecewa, sehingga ungkapan itu kehilangan bobot saat ia menerimanya.
Namun, tidak semua orang tua sepakat dengan cara pandang “tidak perlu kata”. Sebagian ayah dan ibu merasa bahwa kalimat cinta justru menjadi bagian penting yang harus selalu terdengar, apa pun kondisinya.
Salah satunya, seorang ayah yang memiliki anak perempuan berusia tujuh tahun mengaku terkejut oleh pernyataan Owen. Ia menyebut komentar itu “awful” dan mengatakan, “You should always tell your children you love them no matter what, when they’re bad, when they’re good.”
Di media sosial, ada pula tanggapan lain yang bernada serupa. Seorang pengguna menulis, “Parents and potential parents do not listen to this man. Tell your kids you love them everyday, even when it annoys them.” Bagi mereka, kalimat kasih sayang adalah kebutuhan harian, bukan opsi yang bisa diganti sepenuhnya oleh tindakan.
Berita Terkait
Perbedaan pandangan ini sebenarnya menyingkap keragaman cara orang memaknai cinta dalam keluarga. Di satu sisi, kata dianggap membangun kepastian emosional. Di sisi lain, tindakan dipandang lebih kuat karena terlihat dalam keseharian.
Gender, generasi, dan budaya
Di luar pengamatannya, Owen menegaskan bahwa kecintaannya kepada anak-anak tidak diragukan. Pratinjau untuk acara barunya, Meet the Owens, menampilkan kilasan kehidupan rumah tangga yang tampak hangat bersama istri dan anak-anaknya.
Selain itu, Owen juga pernah berbicara secara personal pada tahun 2024 mengenai kondisi penglihatannya sang putra, James. Ia mengatakan, “If I could give him my eyes… I would.” Pernyataan itu memperlihatkan dimensi perhatian yang tidak berhenti pada slogan semata.
Ketika Jamie Laing mendorong Owen untuk menjelaskan mengapa ia tidak membiarkan ungkapan “I love yous” mengalir lebih bebas, Owen menjawab, “I would love to be a little bit soft.” Ia menambahkan, “I’m definitely getting softer,” namun tetap menegaskan bahwa ia belum sampai pada titik “soft” yang memungkinkan ia berbicara dengan cara itu: “but still not soft enough to say anything like that.”
Dale menilai, penggunaan kata “soft” untuk menggambarkan cara menyampaikan cinta mencerminkan sikap lama terhadap pengasuhan, terutama yang sering diasosiasikan dengan peran ayah. Britto pun mengaitkannya dengan kerangka budaya yang lebih luas.
Dale menyatakan ada bagian “dangerous” dalam keyakinan tentang apa yang seharusnya dilakukan pria dalam pengasuhan. Ia menjelaskan bahwa banyak ayah merasa perannya hanya “provide”. Padahal, mereka dapat berbuat lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan material.
Ia menegaskan, “Men are much more than just providers… what about our emotional capacity and willingness to have conversations and be there as fathers? And maybe we can’t provide, but you know what? Our presence is at full capacity.” Dale juga menambahkan bahwa gaya pengasuhan seseorang “always stems from somewhere,” termasuk apakah ia dulu sering mendengar bahwa ia dicintai.
Britto menambahkan bahwa ekspektasi gender tidak menjadi satu-satunya faktor. Ia mengatakan, “In some cultures they don’t even use those words [I love you] at all.” Dalam situasi seperti itu, keluarga mungkin memilih tanda-tanda lain. Britto memberi contoh, mereka bisa menanyakan, “Have you eaten?” sebagai isyarat kasih sayang, bukan semata-mata mengucapkan “I love you”.
Britto juga berbagi pengalamannya sebagai orang Afrika: “As an African myself, in Nigerian culture parents don’t always say ‘I love you’… but I still felt loved.” Ini memperlihatkan bahwa rasa dicintai tidak selalu berjalan lewat kalimat yang sama di semua budaya.
Di media sosial, muncul beragam reaksi yang menggambarkan perbedaan pola asuh lintas generasi. Ada yang menyatakan Owen benar karena tindakan dapat berbicara lebih keras daripada kata-kata, dengan komentar seperti: “My dad never said the words, but it was also never in doubt.” Ada pula yang menilai bahwa apa yang mereka terima lebih baik daripada ungkapan emosional semata: “What’s the big deal? My dad – and I’m sure most dads of our generation – didn’t. He did something far, far better than emotional words he ‘showed us’ by his actions.”
Meski komentar Owen memicu respons kuat, benang merah yang disoroti Britto adalah kenyataan bahwa terdapat banyak cara orang tua menyampaikan cinta kepada anak. Yang terpenting, menurutnya, adalah memastikan anak merasakan sense of belonging.
Britto menutup dengan pertanyaan yang lebih relevan untuk pengalaman anak daripada debat kata: “Do they feel loved?” Ia melanjutkan, “Do they feel wanted? Do they feel that they matter, rather than simply hearing the words?”
Jika tujuan akhirnya adalah agar anak merasa dicintai secara nyata, maka perdebatan tentang “I love you” tidak lagi sekadar soal kapan kalimat diucapkan. Ia berubah menjadi soal bagaimana cinta itu dirasakan, disampaikan, dan dibuat konsisten dalam kehidupan sehari-hari.












