jurnalistik.co.id – Di tengah percepatan ekonomi dan teknologi Tiongkok, keresahan di kalangan Gen Z justru makin terasa nyata. Di Singapura, sekitar 500 orang—sebagian besar warga keturunan Tiongkok—datang bukan untuk konser, melainkan untuk mendengarkan seorang antropolog yang membahas kecemasan dan cara menghadapinya.
Para penggemarnya menyebut Profesor Biao Xiang sebagai “idol”, meski yang ia tawarkan bukan ketenaran panggung, melainkan bahasa yang bisa “mendarat” pada kegelisahan sehari-hari. Zihan Han, yang menjadi pengagum besar, menggambarkannya sebagai “A star sent from the heavens,” karena ia merasa sang profesor memahami kecemasan yang selama ini sulit diutarakan.
Seorang lulusan pascasarjana berusia 23 tahun—yang memilih tidak menyebut namanya karena khawatir pembicaraan dengan media asing bisa memengaruhi peluang kerja di kampung halaman—mengatakan transisi dari sekolah ke dunia nyata kini diwarnai ketidakpastian. Ia menuturkan, orang sering merasa cemas karena tidak tahu bagaimana menghadapi perubahan itu, dan ia butuh “anchor” dalam hidup.
Di acara tersebut, Xiang berbicara lebih dari satu jam dalam bahasa Mandarin sebelum sesi tanya jawab. Setelah acara berakhir, puluhan orang antre untuk bertemu, mengambil foto, dan meminta waktu singkat bersama sang profesor. Lulusan itu menyebut pertemuan itu sebagai “academic fan meeting.”
Pengakuan, nilai diri, dan “pain point of the times”
Menurut Xiang, salah satu kebutuhan yang sering dicari generasi muda adalah pengakuan, khususnya di Tiongkok yang menjadikan sistem persaingan sebagai jalur menuju pekerjaan dan status. Ia menyinggung ujian kompetitif hingga upaya mendapatkan pekerjaan yang dipandang aman, lalu bagaimana persetujuan yang diperoleh dari sistem itu berubah menjadi ukuran nilai diri.
Ia menyarankan cara pandang yang lebih sehat: mencari makna dan pemahaman dari orang lain, untuk kemudian memahami diri dengan lebih baik. Namun ia juga menekankan bahwa pendekatan seperti itu tidak datang instan, dan bagi banyak orang prosesnya justru panjang.
Dalam wawancara dengan BBC di Singapura, ia menyampaikan bahwa membahas “pain point of the times” adalah hal yang jarang dilakukan secara terbuka. “Everyone knows where the issue is, but they are reluctant to look at it. Sometimes it is too painful to look at, or they don’t have a way,” ujarnya. Ia menambahkan, “But as an academic, it is not terrifying if you can describe it – that’s how you analyse and manage it.”
Ia kini tinggal di Jerman, menjabat direktur Max Planck Institute for Social Anthropology. Risetnya berfokus pada perubahan sosial di Tiongkok dan bagian lain Asia, sambil memotret titik belok masyarakat yang sedang mencari makna di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang berlangsung cepat.
Ia juga melihat kontradiksi yang mengemuka: kaum muda yang gelisah berada dalam negara yang kuat dan tegas, sementara rasa kecewa tetap terasa meski kemajuan besar terus terjadi. Xiang mengatakan tugasnya adalah membongkar faktor yang mendorong kondisi itu. Pernyataan pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, turut disebut selaras: “principal contradiction” adalah “between the people’s ever-growing needs for a better life and unbalanced and inadequate development”.
Istilah yang “menempel” di kepala: Floating dan the nearby
Xiang memiliki cara memberi nama pada masalah-masalah yang ia lihat. Ia menyebut “Floating” untuk menggambarkan orang yang bekerja terus-menerus, seperti burung kolibri yang mengepak agar tetap melayang di udara. Ia juga memakai “the nearby” untuk menunjuk sesuatu yang paling dekat dengan kita—sementara ruang di antaranya, yang ia sebut “the nearby” namun sekaligus mengabaikan jarak antara, justru dibiarkan kosong sehingga hubungan batin terasa putus.
Berita Terkait
Gagasan-gagasan itu terdengar relevan bagi banyak orang muda. Di RedNote, misalnya, ada pengguna yang menulis: “He consistently views issues from the perspective of the vulnerable, attributes personal stress to macro-level causes, and encourages people to actively engage with life – it’s truly wonderful.” Pengguna lain berkata, “He never spouts empty, feel-good platitudes; instead, he crouches down to face real-life dilemmas alongside us.”
Bagi Zihan, inti pengaruh Xiang terletak pada keberaniannya berbicara terbuka. “Those who have said similar things aren’t as kick-ass as Teacher Xiang, yet people who are as kick-ass as him haven’t said such things,” katanya.
Dari Wenzhou hingga kini: perubahan besar yang tak berakhir
Xiang lahir pada 1972. Ia tumbuh pada masa ketika Tiongkok melewati titik balik lain: dari kekacauan brutal era Mao Zedong menuju kerja sama dan perdagangan dengan dunia. Ia dibesarkan di Wenzhou yang kemudian berubah menjadi pelabuhan industri, sehingga ia menyaksikan langsung suasana keluarga-keluarga pengusaha kecil.
Ia mengingat gambaran “vast landscape of small business owners,” dan menyebut banyak orang tidak terlalu memprioritaskan pendidikan. Fokusnya lebih praktis—terutama “how to make money.” Ia juga menuturkan bahwa banyak anak dari generasi itu tumbuh saat pertumbuhan ekonomi berganda digit masih kuat.
Namun, ekonomi melambat selama Covid dan belum kembali seperti sebelumnya. Xiang menyatakan persamaan lama—“hard work = secure job”—tidak lagi bekerja, dan keluarga muda menginginkan narasi baru. Ia menyinggung data pengangguran pemuda yang mencapai 21.3% sebelum pemerintah berhenti mempublikasikan angka tersebut pada pertengahan 2023.
Bagi mereka yang memegang “good jobs”—pegawai negeri, karyawan perusahaan, hingga insinyur—kecemasan muncul karena takut kehilangan posisi. Di internet, keluhan yang sering terdengar adalah jam kerja yang panjang dan melelahkan serta budaya kantor yang beracun, ditambah ketakutan terhadap “curse of 35”—batas usia dalam iklan pekerjaan setelah itu lebih sulit menemukan pekerjaan baru.
Karena sensor, menurut Xiang, sulit menakar sejauh mana suasana ini benar-benar meluas. Tetapi rasa terjepit itu tetap menyusup ke ruang publik dalam bentuk lain, lalu berubah menjadi kemarahan dalam debat daring, baik terkait ujian masuk universitas, harga pengantin, maupun skandal keamanan pangan.
Istilah yang terkait dengan suasana ini sudah bertahun-tahun tren. Yang paling terkenal adalah “lying flat”, ketika orang memilih keluar dari perlombaan, dan “involution”, istilah yang kini lazim dipakai untuk menggambarkan persaingan ketat yang menghasilkan imbalan bermakna sedikit.
Pasar properti dan pendidikan tinggi
Xiang menilai ada dua kekuatan yang memperbesar kecemasan: pasar properti dan sistem pendidikan tinggi. Lonjakan properti, yang dipicu ketergantungan pemerintah daerah pada penjualan lahan, membuat rasa aman dan ukuran keberhasilan keluarga melekat pada nilai rumah. Di sisi lain, ekspansi cepat pendaftaran universitas menaikkan standar pencapaian, sehingga persaingan makin tajam.
Hasil akhirnya, kata Xiang, membentuk pola umum: memperoleh gelar yang bagus, mendapatkan pekerjaan yang stabil, menikah, lalu membeli rumah. Ia merangkumnya dengan kalimat: “When 1.4 billion people are all in the same race, that is involution.”
Ia menceritakan bahwa sekitar tiga tahun lalu, ketika ia mengetahui sebuah kamp untuk digital nomads di mana ia berbicara menaikkan harga setelah kunjungannya, ia sadar namanya tak lagi hanya dikenal di kalangan akademik. Sejak saat itu, ia semakin sering menjadi rujukan—bukan karena ketenaran populer, melainkan karena orang merasa ia mampu menamai kecemasan mereka dengan cara yang dapat dipahami dan dikelola.












