Pendidikan

Pestisida Makin Jadi Ketergantungan: Ada Tanaman Penopang untuk Lindungi Lahan

×

Pestisida Makin Jadi Ketergantungan: Ada Tanaman Penopang untuk Lindungi Lahan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dunia Kian Kecanduan Pestisida, Padahal Ada Bunga Penjaga Pertanian

jurnalistik.co.id – Penggunaan pestisida di pertanian dunia terus mengalami kenaikan. Imbasnya, tantangan menjaga produktivitas pangan semakin beririsan dengan kebutuhan menekan dampak bahan kimia terhadap lingkungan.

Data terbaru Food and Agriculture Organization (FAO) yang dirilis pada Juli 2026 menyebut, penggunaan pestisida pertanian global mencapai 3,92 juta ton bahan aktif pada 2024. Angka itu naik 5% dibanding tahun sebelumnya, sekaligus bertambah 18% dalam kurun satu dekade. FAO juga mengingatkan bahwa pemakaian pestisida dapat memengaruhi kualitas tanah, air, serta keanekaragaman hayati.

Dalam konteks tersebut, pendekatan pertanian berkelanjutan dipandang tidak cukup hanya mengejar hasil panen. Upaya perbaikan perlu diarahkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar lahan produksi, termasuk cara mengendalikan hama yang tidak bertumpu penuh pada pestisida.

Refugia: tanaman pendamping untuk menopang musuh alami hama

Salah satu gagasan yang kerap dibahas adalah diversifikasi tanaman melalui refugia. Refugia merujuk pada tanaman pendamping yang sengaja ditanam di sekitar lahan pertanian agar menyediakan habitat bagi musuh alami hama. Dengan cara ini, pengendalian dapat bergeser dari pola reaktif menggunakan pestisida menjadi strategi yang mendukung proses ekologis di dalam agroekosistem.

Penerapan refugia berarti petani tidak hanya mengandalkan bahan kimia ketika hama muncul. Lingkungan pertanian justru diarahkan supaya predator dan parasitoid—yang memangsa atau menekan hama secara alami—tetap berada di dekat tanaman budidaya. Secara prinsip, pendekatan ini berpotensi meningkatkan jumlah serta keragaman musuh alami pada lahan.

Dalam kerangka yang lebih luas, refugia juga dapat diintegrasikan ke pertanian presisi. Pemilihan tanaman pendamping, lokasi penanaman, dan waktu berbunga dapat disesuaikan dengan jenis hama, komoditas utama, serta kondisi lahan yang dihadapi. Penyesuaian multi-objektif itu penting karena manfaat refugia tidak berhenti pada pengendalian serangga pengganggu, melainkan juga menyentuh konservasi biodiversitas dan ketahanan sistem produksi pangan.

Prinsipnya juga sejalan dengan contoh tanaman yang dikenal mudah dijumpai. Tanaman refugia umumnya memiliki bunga berwarna mencolok dan mampu menyediakan nektar maupun serbuk sari bagi serangga yang menguntungkan. Dengan pasokan sumber daya tersebut, musuh alami hama memperoleh peluang bertahan lebih baik di area pertanian.

Contoh di lapangan: refugia pada pertanian jagung di Gorontalo

Penelitian yang disebut dalam artikel ini mengambil contoh dari Desa Molamahu, Gorontalo. Di lokasi tersebut, digunakan tiga jenis refugia dalam sistem pertanian jagung: bunga matahari (Helianthus annuus), kenikir (Cosmos caudatus), serta Tagetes erecta. Ketiga tanaman itu ditanam mengelilingi atau berada pada bagian tepi lahan jagung.

Penataannya mengikuti pola yang memperjelas bahwa refugia tidak sekadar “penghijauan” pinggir lahan. Tagetes erecta ditanam mengelilingi tanaman jagung, sementara bunga matahari dan kenikir ditempatkan di tepi lahan serta sekitar saluran air. Dengan susunan seperti itu, refugia membentuk semacam mikrohabitat di tengah area produksi yang tetap selaras dengan tanaman utama.

Melalui prinsip yang sama, refugia tidak harus terbatas pada jenis tanaman tertentu. Intinya adalah memilih tanaman yang mampu menyediakan makanan dan tempat berlindung bagi serangga yang menguntungkan, namun tetap cocok dengan tanaman budidaya dan strategi pengendalian terhadap hama target.

Bagaimana refugia menekan hama tanpa “memakan” langsung

Mekanisme refugia pada dasarnya tidak bekerja dengan cara memakan hama secara langsung. Fungsi utama refugia adalah membentuk lingkungan yang mendukung predator dan parasitoid alami untuk tetap aktif di sekitar lahan.

Bunga refugia menyediakan nektar yang kaya karbohidrat. Pasokan energi ini membantu musuh alami mempertahankan aktivitas dan metabolisme. Selain itu, nektar juga dapat mendukung umur sejumlah parasitoid agar mereka mampu bertahan lebih lama.

Serbuk sari, di sisi lain, berperan sebagai sumber protein, mineral, dan vitamin. Komponen nutrisi tersebut berkontribusi terhadap beragam aspek biologis serangga—mulai dari umur dan kesuburan hingga fungsi fisiologis—yang pada akhirnya memperkuat peran predator dan parasitoid dalam menekan populasi hama.

Ketika kebutuhan makan dan tempat berlindung tersedia, peluang predator dan parasitoid untuk bertahan di sekitar tanaman meningkat. Pada kondisi tersebut, mereka dapat memangsa telur, larva, hingga serangga hama yang menyerang tanaman. Dalam sistem refugia, sebagian hama juga dapat tertarik ke vegetasi pendamping, sehingga penekanan tetap dapat terjadi lewat rantai alami: pemangsaan oleh musuh alami, penggunaan pestisida nabati yang lebih terarah, atau pengelolaan fisik tanaman refugia.

Ketepatan penerapan menjadi penentu hasil

Meskipun konsepnya tampak sederhana, refugia perlu dipraktikkan secara tepat agar manfaatnya benar-benar optimal. Jenis tanaman pendamping, lokasi penanaman, jarak antar tanaman, serta waktu berbunga harus ditautkan dengan karakter hama dan tanaman utama.

Dalam penelitian jagung di Desa Molamahu, pola penempatan yang melibatkan Tagetes erecta di sekeliling tanaman jagung, serta bunga matahari dan kenikir di tepi lahan dan sekitar saluran air, ditunjukkan sebagai bentuk rekayasa ekosistem. Dengan demikian, refugia diperlakukan sebagai bagian dari strategi produksi, bukan sekadar unsur tambahan di pinggir lahan.

Jika dilakukan dengan benar, refugia dapat membantu menjaga populasi musuh alami hama dan pada saat yang sama menekan ketergantungan pada pestisida. Perubahan ini tidak hanya terkait aspek pengendalian serangga, tetapi juga memperkuat keberlanjutan ekosistem yang menopang keberhasilan budidaya.

Manfaat ekonomi: produksi dan pendapatan berpotensi ikut naik

Selain faktor ekologis, refugia juga disebut dapat memberi dampak ekonomi bagi petani. Tanaman pendamping membantu menekan kebutuhan pestisida sekaligus mempertahankan hasil produksi.

Dalam contoh penelitian di Gorontalo, produksi jagung dengan refugia tercatat 10,51 ton per hektare. Angka itu lebih tinggi dibanding metode konvensional yang berada pada 6,67 ton per hektare. Dari sisi pendapatan, petani pengguna refugia mencapai sekitar Rp33,52 juta per hektare, sedangkan metode konvensional sekitar Rp21,17 juta per hektare.

Di saat yang sama, biaya produksi dilaporkan lebih rendah karena berkurangnya kebutuhan pestisida dan pupuk kimia. Meski hasil di setiap lokasi dapat berbeda, temuan ini memperlihatkan bahwa rekayasa ekologi lewat refugia tidak hanya relevan untuk perlindungan lingkungan. Pendekatan tersebut juga membuka ruang bagi pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan secara ekonomi.