jurnalistik.co.id – Harry Kane menanggapi pertanyaan soal masa depannya di level tim nasional dengan jawaban yang membuat banyak pihak memilih berhati-hati. “It’s too early to talk about that,” kata kapten Inggris saat ditanya apakah ia masih berada di tim untuk Piala Dunia 2030.
Pertanyaan itu muncul hanya beberapa menit setelah Inggris menelan kekalahan 2-1 dari Argentina di semifinal, yang berlangsung di Atlanta. Kekalahan itu merampas kesempatan Inggris tampil di final Piala Dunia putra pertama mereka sejak satu-satunya keberhasilan pada 1966.
Dalam turnamen ini, serangan Inggris nyaris bertumpu pada Kane. Ia mencetak enam gol, dengan Jude Bellingham menjadi nama yang turut menonjol, namun peran Kane tetap menjadi pusat permainan. Karena itu, wajar bila kemudian muncul pertanyaan: apa yang terjadi ketika pencetak gol terbanyak sepanjang masa Inggris tersebut pensiun dari tim nasional?
Kane sudah menjadi kapten sejak Gareth Southgate menunjuknya sebagai armband sembilan tahun lalu. Sepanjang 124 penampilan bersama timnas, Kane membukukan 85 gol, angka yang menegaskan betapa besarnya pengaruhnya terhadap identitas serangan Inggris.
Namun waktu pada akhirnya akan mengejar. Inggris setidaknya masih punya ruang untuk menyiapkan regenerasi, setidaknya bila Kane tidak mengalami cedera, ia masih bisa berada di turnamen kandang dua tahun lagi, yakni Euro.
Meski begitu, Kane akan berusia 33 tahun dalam 10 hari ke depan, lalu menginjak 35 segera setelah Euro tersebut berakhir. Secara realistis, laga playoff peringkat ketiga melawan Prancis di Miami untuk memperebutkan medali perunggu pada Sabtu berpotensi menjadi momen terakhir Kane di Piala Dunia bersama tim Inggris.
Pada edisi 2030, Kane kemungkinan sudah mendekati usia hampir 37 tahun. Dengan demikian, masa depan Inggris setelah Kane menutup bab internasionalnya menjadi pertanyaan yang tidak lagi bisa ditunda.
Apakah kepercayaan penuh hanya pada Kane?
Dalam tujuh pertandingan Inggris di Amerika Utara, Kane hampir bermain tanpa jeda panjang. Ia hanya digantikan dua kali: ketika laga tersisa enam menit melawan Panama, dan ketika hanya tersisa satu menit pada pertandingan babak 16 besar melawan Meksiko.
Lonjakan menit bermain itu lantas memunculkan pertanyaan apakah kemudian berdampak pada performa saat turnamen berjalan. Kane tidak mencetak gol dari permainan terbuka dalam tiga laga setelah ia mencetak dua gol ketika Inggris mengalahkan DR Congo pada babak 32 besar.
Yang juga menonjol, Ollie Watkins hanya tampil enam menit sepanjang turnamen, tepat saat ia menggantikan Kane saat melawan Panama. Sementara Ivan Toney hanya mendapat beberapa menit di akhir injury time dalam kekalahan dari Argentina.
Rangkaian data tersebut dapat dibaca sebagai sinyal bahwa pelatih Thomas Tuchel tidak sepenuhnya yakin dengan opsi penyerang dari bangku cadangan. Atau bisa juga berarti Inggris memang diarahkan pada satu pola tertentu yang menjadikan Kane sebagai poros paling aman.
Bagaimanapun, kebutuhan Inggris akan opsi yang mampu memberi Kane waktu istirahat akan semakin penting. Pada saat yang bersamaan, kelompok penyerang alternatif juga tidak terlalu muda: Toney dan Watkins sama-sama berusia 30 tahun, sedangkan Dominic Solanke dari Tottenham (28) dan Dominic Calvert-Lewin dari Leeds United (29) menjadi satu-satunya penyerang lain yang dipakai Inggris dalam 12 bulan terakhir.
Di liga, gambaran kekurangan alternatif ini juga tampak. Pada musim 2024-25, Premier League mencatat rekor terendah bahwa hanya tiga penyerang Inggris yang mencetak 10 gol atau lebih: Watkins, Jarrod Bowen dari West Ham, serta Liam Delap ketika masih bermain untuk Ipswich Town.
Pola itu terulang pada musim berikutnya: Watkins mencetak 16 gol, Calvert-Lewin 14 gol, dan Danny Welbeck yang sudah berusia 35 tahun mencatat 13 gol. Di tengah situasi seperti ini, masih ada harapan Delap berkembang.
Delap berusia 23 tahun dan memiliki potensi untuk naik level. Sebelum bergabung dengan Chelsea, ia menjadi buruan banyak klub setelah kepindahannya dari Ipswich usai degradasi pada 2025, dengan banderol senilai 30 juta poundsterling.
Tetapi langkah itu belum berjalan sesuai ekspektasi. Di Stamford Bridge, Delap baru mencetak satu gol liga pada musim pertamanya, sehingga ia masih berada pada fase pembuktian.
Jika Delap tidak mengalami lonjakan yang diperlukan, Inggris harus berharap dalam beberapa tahun ke depan muncul striker muda yang siap menembus level tertinggi. Pertanyaannya kemudian: siapa yang sedang “naik” dari lapis awal?
Jejak regenerasi yang sulit
Berita Terkait
- Kabid Humas Polda Gorontalo Secara Resmi Membuka Turnamen E-Sport Kapolda Cup 2026 Menuju Kapolri Cup
- Wayne Rooney Mendayung di Sungai Hudson Bareng Joe Hart dan Micah Richards Usai Norwegia Menang 2-1 atas Brasil
- All Blacks Menang 40-21 atas Irlandia di Eden Park, Menghukum Banyak Kesalahan dan Jaga Rekor 32 Tahun
Inggris pernah beruntung pada akhir masa internasional Wayne Rooney. Saat kariernya mulai menurun, Kane justru masuk dan mengambil tempat ketika mencetak gol pada 80 detik sejak debutnya untuk tim nasional, dengan perannya sebagai pemain pengganti bagi penyerang Manchester United saat menghadapi Lituania pada 2015.
Itu seperti tongkat estafet yang ideal: pencetak gol rekor saat itu memberi jalan kepada figur yang kelak berpotensi menjadi pencetak gol rekor berikutnya. Namun, Inggris tampaknya tidak memiliki kemewahan yang sama untuk periode setelah Kane.
Kisah karier Kane juga menunjukkan bahwa ia tidak langsung “meledak” sejak remaja di klub. Kane justru menempuh masa belajar melalui beberapa peminjaman di Leyton Orient, Millwall, Norwich City, dan Leicester City.
Kesempatan serius baru benar-benar datang pada musim 2014-15, saat Kane berusia 21 tahun, ketika ia mendapat peran di Tottenham pada masa Mauricio Pochettino. Pada periode itu, Kane terlihat muncul dari “tidak ada” dengan koleksi 21 gol Premier League dan 32 gol di semua kompetisi.
Cerita serupa dengan hasil berbeda juga banyak ditemui. Charlie McNeill, misalnya, mencetak 110 gol dan 38 assist dalam 72 pertandingan bersama tim muda Manchester City. Ia kemudian pindah ke Manchester United dan menjadi pemain kedua klub yang mampu mencetak 20 gol pada satu musim level akademi.
Tetapi transisi ke tim utama tidak berjalan mulus. McNeill hanya mencatat satu penampilan tim utama sebagai pengganti pada pertandingan Liga Europa melawan Real Sociedad pada September 2022. Kini, ia berusia 22 tahun dan bermain untuk Sheffield Wednesday di League One.
Eddie Nketiah juga menjadi contoh lain. Ia memegang rekor pencetak gol terbanyak Inggris untuk tim U-21 dengan 16 gol, namun setelah meninggalkan Arsenal menuju Crystal Palace, ia belum mampu bersinar. Dalam dua musim, ia hanya mencetak lima gol di Premier League.
Pada jenjang usia muda, Inggris memang punya banyak pemain sayap atau playmaker bernomor 10. Sebut saja Max Dowman dari Arsenal dan Rio Ngumoha dari Liverpool. Namun, jumlah “number nine” yang benar-benar sesuai kebutuhan masih terasa minim, seolah sistem lebih menargetkan profil yang lebih teknis ketimbang penyerang murni.
Di Chelsea, ada Shim Mheuka yang kini memimpin tim U-21. Ia juga dinobatkan sebagai Premier League 2 Player of the Year untuk 2025-26. Mheuka berasal dari akademi Brighton sebelum bergabung dengan Chelsea pada 2022, dan ia mencetak 16 gol dalam 23 pertandingan bersama Inggris U-19. Ia sudah tampil sembilan kali untuk tim utama Chelsea dan terlihat menjanjikan di level profesional, meski belum tentu sampai ke level teratas.
Di Tottenham, Will Lankshear berpotensi mengikuti pola serupa seperti yang pernah dijalani Kane. Ia menjalani masa peminjaman di West Brom dan Oxford, tetapi saat ini usianya sudah 21 tahun. Sementara itu, Manchester City memiliki Caelan Cadamarteri yang berusia 16 tahun, pemain muda Skotlandia, dengan rekam gol yang besar serta kualifikasi lewat ayahnya, mantan penyerang Everton Danny.
City juga punya Teddie Lamb yang berusia 17 tahun. Ia pindah dari Leyton Orient setahun lalu dan menjadi pencetak gol terbanyak pada kompetisi Premier League U18 musim lalu. Lamb masuk nominasi U18 Player of the Year, tetapi kalah oleh JJ Gabriel dari Manchester United.
Harapan besar juga diarahkan ke JJ Gabriel yang berusia 15 tahun. Ia diperkirakan baru dapat melakukan debut tim utama Setan Merah pada musim mendatang, meski tidak sepenuhnya berperan sebagai penyerang tengah murni.
Divin Mubama pun pernah menjadi bintang pada skuad West Ham yang menjuarai FA Youth Cup pada 2023 sebelum pindah ke Manchester City. Usianya 21 tahun, dan di masa peminjaman bersama Stoke City musim lalu, ia mencetak lima gol, yang memberi sinyal bahwa ia masih membutuhkan waktu untuk siap di level paling tinggi.
False nine sebagai rencana bila tidak ada penerus
Jika tidak ada striker yang muncul dalam beberapa tahun ke depan, atau jika potensi pemain muda tidak segera menjadi kenyataan, Inggris kemungkinan harus berpikir di luar kebiasaan. Rencana itu bisa berupa penggunaan false nine, taktik yang pernah dicoba Tuchel saat laga persahabatan internasional melawan Uruguay pada Maret.
Pada percobaan itu, Phil Foden diberi kesempatan namun tampil di bawah ekspektasi hingga tidak masuk skuad Piala Dunia. Cara ini seolah dianggap tidak berhasil, sehingga pada akhirnya Tuchel kembali menempatkan Kane sebagai pilihan yang paling dapat diandalkan.
Di tengah kebutuhan akan opsi lain, Anthony Gordon menjadi kandidat yang cukup jelas. Ia mungkin lebih dikenal sebagai pemain sayap kiri, tetapi ia pernah menunjukkan kemampuan bermain sebagai false nine. Ketika ditugaskan di peran itu, Gordon dinobatkan sebagai Player of the Tournament saat Inggris menjuarai Kejuaraan Eropa U-21 pada 2023, dengan catatan dua gol dan satu assist.
Sebelum berangkat ke Barcelona pada musim panas ini, Gordon juga pernah bermain di posisi penyerang untuk Newcastle pada beberapa bagian musim lalu. Ia bahkan sebelumnya menyatakan bahwa pada waktunya ia ingin bermain lebih ke posisi tengah.
Inggris selama ini cenderung enggan mencoba taktik seperti ini, seakan-akan harus selalu ada striker “murni” di tim. Namun jika sistem tidak melahirkan pemain yang siap, false nine bisa berubah menjadi kebutuhan pragmatis.












