jurnalistik.co.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan pandangan bahwa keberhasilan Tim Nasional Argentina tidak semata lahir dari kemampuan teknis para pemain. Menurutnya, ada sejarah, filosofi, dan adab yang menjadi landasan cara tim itu bergerak.
Pernyataan itu disampaikan Dedi dalam sambutan pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) VII Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sumatera Barat. Acara berlangsung di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Kota Padang, pada Sabtu (18/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Dedi—yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM)—bahkan meminta maaf lebih dulu kepada peserta yang bukan pendukung Argentina sebelum ia masuk ke gagasannya. Ia lalu menegaskan kedekatannya dengan tim tersebut melalui pengamatan langsung.
“Saya ini orang yang tiap hari mengamati Timnas Argentina ,” kata Dedi.
Sejarah, filosofi, dan adab sebagai fondasi
Dedi menjelaskan, ada empat unsur yang menurutnya menjadikan Argentina sebagai salah satu kekuatan sepak bola dunia. Keempatnya adalah teknokrasi, sejarah, filosofi, dan adab.
Ia menilai Argentina tidak hanya mengembangkan teknik permainan yang mengikuti perkembangan zaman. Di saat yang sama, tim itu menjadikan sejarah sepak bola sebagai bagian dari identitas bangsanya, sehingga nilai historis terus hidup dalam cara mereka bermain dan bersikap.
Lebih lanjut, Dedi menyoroti dimensi filosofi. Ia mengaitkan sepak bola dengan cara pandang hidup yang memengaruhi karakter sebuah tim.
“Yang ketiga, unsur filosofi bagaimana sepak bola menjadi filosofi negaranya. Menjadi filosofi kehidupannya. Di mana sepak bola adalah napas,” ujarnya.
Selain filosofi, ia menempatkan adab sebagai fondasi yang melahirkan rasa saling menghormati serta kesetiakawanan di dalam tim. Baginya, adab bukan elemen tambahan, melainkan prinsip yang membentuk kualitas hubungan antarpemain saat menghadapi tekanan.
Berita Terkait
Contoh dari Messi dan makna ketika tertinggal
Untuk memperjelas pemikirannya, Dedi mencontohkan sikap Lionel Messi. Ia mengangkat satu momen ketika Messi menolak tawaran kursi dari rekannya setelah ia ditarik keluar lapangan usai mencetak hattrick saat menghadapi Aljazair pada fase grup Piala Dunia 2026.
Dedi menyebut Messi memilih duduk di rumput dibanding menerima kursi yang ditawarkan rekannya. Dari pilihan itu, ia melihat munculnya spirit kesetiakawanan yang berawal dari adab.
“Dari situ muncul spirit kesetiakawanan, bermula dari adab,” katanya.
Dedi juga menyinggung pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 ketika Argentina bangkit dari ketertinggalan 0-2 atas Mesir hingga akhirnya menang 3-2. Dalam narasinya, Dedi memusatkan perhatian pada cara Messi bersikap ketika tim berada dalam posisi sulit.
Menurut Dedi, ketenangan Messi ketika timnya tertinggal mencerminkan keyakinan sekaligus karakter seorang pemimpin. Baginya, reaksi seperti itu tidak muncul secara kebetulan, tetapi menggambarkan bagaimana filosofi sebuah tim mengalir sampai pada keputusan-keputusan individu.
Ia lantas mengaitkan hal tersebut dengan cara memandang kepemimpinan secara lebih luas, bahwa ketahanan dan ketepatan sikap dapat dibentuk oleh nilai-nilai yang diyakini bersama.
“Cara Argentina itu bukan hanya lagi sekadar teknokrasi sepak bola. Tapi lahir dari filosofi,” ujarnya.
Dengan kerangka itu, Dedi menyampaikan bahwa Indonesia bisa belajar bukan hanya pada aspek teknis, melainkan pada cara membangun budaya tim: menghidupkan sejarah, merawat filosofi, serta menegakkan adab. Ia menempatkan nilai-nilai tersebut sebagai jembatan penting agar kepemimpinan tidak berhenti pada performa, tetapi juga menyentuh karakter dan tata hubungan antaranggota.
Poin-poin yang diuraikan Dedi, pada akhirnya, berujung pada gagasan bahwa kepemimpinan yang kuat membutuhkan lebih dari sekadar strategi. Ia membutuhkan fondasi nilai yang bisa membuat individu tetap tenang, tetap menghormati, dan tetap kompak ketika situasi berubah.












