jurnalistik.co.id – Kepanikan masih membayangi warga pesisir pantai utara Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) pagi, setelah sejumlah gempa susulan terus dirasakan.
Di tengah getaran yang muncul berulang, banyak warga memilih bertahan di luar rumah karena khawatir guncangan yang lebih kuat akan kembali terjadi.
BMKG mencatat hingga pukul 08.07 Wita ada 37 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) di wilayah tersebut.
Seluruh aktivitas itu berada pada magnitudo 3,6 hingga 6,2, dan dari jumlah tersebut satu gempa dilaporkan dirasakan masyarakat.
Meski tidak semuanya menimbulkan dampak yang sama, setiap kali guncangan kuat kembali muncul, warga kembali panik dan berupaya menyelamatkan diri.
Vera (28), warga Magepanda, Kabupaten Sikka, mengaku hingga saat berita ini disampaikan getaran masih terasa.
Ia mengatakan, dirinya sudah terlanjur khawatir gempa susulan bisa terjadi dengan kekuatan yang lebih besar.
“Sampai sekarang kami masih rasakan getaran gempa. Kami takut sekali,” ujar Vera pada Sabtu.
Vera menceritakan bahwa ketika gempa utama terjadi, ia bersama anaknya sedang tidur.
Tiba-tiba, atap, jendela, dan pintu rumah bergetar.
Ia juga sempat merasa pusing karena lantai rumah ikut bergoyang selama beberapa detik.
Setelah menyadari kondisi tersebut, Vera segera keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Di saat yang sama, ia mendengar warga berteriak agar segera mengungsi.
Vera menilai situasinya semakin membuatnya cemas karena lokasi tempat tinggal berada di pesisir.
“Kebetulan kami tinggal di pesisir pantai, jadi kami takut sekali. Sekarang kami masih cemas terjadi gempa susulan,” ungkapnya.
Pengakuan serupa datang dari Maria Moi (30), warga lainnya di Kabupaten Sikka.
Maria mengatakan ia juga masih ketakutan setelah merasakan guncangan gempa yang kuat.
Berita Terkait
Menurutnya, akibat getaran tersebut sejumlah peralatan elektronik dan perabotan rumah sempat berserakan di lantai.
“Tadi itu gempanya sangat dahsyat, sekarang kami masih takut terjadi gempa susulan,” kata Maria.
Situasi pada pagi hari itu membuat sebagian warga terus memantau keadaan di sekitar sambil memastikan keselamatan keluarga.
Karena gempa susulan muncul secara bergelombang, warga yang awalnya sempat kembali beraktivitas memilih kembali waspada ketika ada tanda getaran yang lebih terasa.
Perkembangan kekuatan gempa dan potensi ancaman
Sebelumnya, BMKG memperbarui kekuatan gempa utama yang mengguncang wilayah Flores.
Perubahan itu membuat magnitudo yang awalnya 7,0 menjadi magnitudo 7,7.
BMKG juga menyebutkan bahwa episenter gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Kedalaman gempa dilaporkan mencapai 15 kilometer.
Dengan kondisi tersebut, BMKG menyampaikan gempa berpotensi memicu tsunami.
Karena itu, BMKG mengeluarkan peringatan dini dan rekomendasi evakuasi untuk sejumlah wilayah pesisir yang berpotensi terdampak.
Rekomendasi tersebut menjadi rujukan bagi warga untuk bersiaga, terutama bagi mereka yang tinggal di area yang dekat dengan garis pantai.
Bagi warga di Sikka, ancaman dan kekhawatiran itu bertemu dengan pengalaman langsung di lapangan saat gempa utama terjadi.
Ketika getaran susulan kembali muncul, kepanikan yang sama pun terasa berulang, membuat warga lebih memilih tetap berada di luar rumah sembari menunggu kondisi mereda.
“Kami takut sekali,” menjadi kalimat yang berulang dalam berbagai kesaksian warga pada Sabtu pagi, seiring upaya mereka bertahan dan menjaga diri dari kemungkinan gempa susulan yang lebih kuat.
Di tengah situasi itu, warga pesisir Kabupaten Sikka mengutamakan jarak aman dari rumah ketika merasakan getaran, sekaligus mengikuti arahan yang mengingatkan mereka untuk bersiap bila area pantai yang berpotensi terdampak perlu dievakuasi.
Informasi dari BMKG mengenai potensi tsunami dan rangkaian gempa susulan membuat sebagian keluarga memilih tetap waspada, tidak langsung kembali ke dalam rumah, serta terus memantau kondisi sekitar sampai guncangan mereda.












